
"Apa? Cerai? Tidak!" sahut Shaka dengan tangan mengepal kuat menahan amarahnya.
Seperti dejavu, kejadian tiga tahun yang lalu seakan kembali berputar hari ini. Hari dimana Grace mengajaknya bercerai di umur anak mereka masih delapan bulan dalam kandungan. Tanpa tahu apa penyebabnya tiba-tiba istrinya itu mengajak berpisah.
Sampai saat ini, Arshaka belum tahu alasan Grace meminta cerai darinya. Kalau alasan kasta yang menjadi masalah, laki-laki muda itu akan berusaha mendapatkan harta sebanyak mungkin agar kasta mereka bisa sama. Akan tetapi, bukan jawaban yang dia dapatkan dari sang istri melainkan ejekan dan cemoohan dari sang mertua.
Sejak bercerai setelah Azka lahir dan ditinggalkan begitu saja oleh Grace , Arshaka bersumpah untuk menyelesaikan kuliah lebih cepat dari waktunya. Dia juga mencari beasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa berprestasi. Hanya prestasi yang bisa dibanggakan, tak ada harta yang dia punya.
"Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, Shaila. Jadi, lain kali jangan pernah kamu memintanya lagi," ucap Shaka dingin dengan tangan terkepal sampai urat-uratnya terlihat menyembul keluar.
"Untuk apa dipertahankan pernikahan tanpa cinta ini? Untuk apa menikah jika di luar sana kamu masih mencari wanita lain?" tanya Shaila dengan suara lirih, hatinya seakan hancur.
Ternyata hanya di mulut saja, jika berpisah dalam keadaan perawan lebih baik. Namun, kenyataannya hatinya terasa bagai disayat sembilu. Saat terucap dia baik-baik saja karena dia belum melihat dengan mata kepala sendiri. Kini, saat dia dengan jelas melihat bagaimana sang suami memperlakukan wanita itu, sakit.
"Apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu pikirkan, Shai. Percayalah, saya dan dia sudah tidak memiliki hubungan," ungkap Arshaka seraya meraih tangan sang istri.
Shaila mengibaskan lengannya agar tangan sang suami terlepas. Gadis itu tidak mau disentuh oleh suaminya yang mendua.
"Sudah tidak memiliki hubungan, berarti sebelumnya kalian pacaran? Atau sepasang suami istri?" Shaila sudah tidak dapat menahan emosinya lagi, sehingga dia menguatkan suara di hadapan suaminya.
Arshaka tersentak mendengar suara sang istri yang menggelegar. Istrinya itu walaupun bar-bar dan masih kekanak-kanakan, tidak sekalipun meninggikan suara pada suami atau orang yang lebih tua darinya. Hal ini menandakan bahwa sang istri benar-benar marah dan kecewa padanya.
__ADS_1
Melihat sang suami yang hanya diam tak menjawab pertanyaannya, membuat Shaila menggelengkan kepala. Seolah tak percaya jika dosen yang dia kira memiliki kepribadian yang baik, tega menduakannya. Kepala gadis itu menggeleng dengan air mata mengalir deras.
Shaka memeluk sang istri, air matanya ikut menetes karena merasa bersalah pada sang istri. Merasa bersalah tidak berkata jujur sejak awal padanya.
"Dia mantan pacar saya sewaktu SMA. Kami putus saat mendekati ujian kelulusan. Setelah itu saya dekat dengan teman sekelas. Sebelumnya memang teman bercanda, tapi setelah saya sendiri kami jadi lebih dekat lagi.
Kedekatan kami dari sekedar teman menjadi friends with benefit, kami melakukan segala sesuatu bersama yang penting saling menguntungkan. Berawal dari nonton film bersama dan berakhir di bawah selimut yang sama. Kami selalu bersama, bahkan kuliah pun mengambil jurusan yang sama dan satu kelas.
Kami ketahuan melakukan hubungan suami istri dan dinikahkan. Awalnya orang tua Grace tidak mau karena kehidupan di tanah kelahirannya hal itu sudah biasa. Namun, papa memaksa menikahkan kami.
Selama pernikahan kami, sebenarnya kami tidak pernah bertengkar. Setiap ada masalah kami bicarakan bersama. Walaupun aku selalu dicemooh dan diejek oleh orang tua Grace, aku terima karena memang kami hanya orang biasa sedangkan tuan Alfonso seorang pengusaha terkenal di Amerika.
Setahun kami menikah, Grace tiba-tiba minta cerai. Aku menolaknya, sehingga dia dibantu orang tuanya mengurus perceraian kami. Setelah Azka lahir dia pergi bersama orang tuanya ke Amerika dan kami resmi bercerai."
"Lalu, tadi yang saya lihat apa? Mana ada orang yang tidak memiliki hubungan apa-apa bisa seromantis itu," tanya Shaila tidak percaya dengan cerita sang suami.
"Saya hanya menghibur dia. Dia baru saja ditinggal menikah oleh pacarnya. Parahnya lagi, istri sang pacar adalah teman dekatnya sendiri. Sebagai seorang teman, saya hanya menghibur, tidak lebih."
Hhhh ....
"Saya juga mengatakan pada dia kalau saya sudah menikah lagi. Menikahi anak didik saya yang sangat spesial bagi saya."
__ADS_1
Diam tak ada sahutan dari Shaila. Gadis itu tidak bisa percaya begitu saja. Baginya tidak ada kata teman antar lawan jenis, kecuali sebatas mengenal saja.
"Saya belum meminta hak saya sebagai suami, bukan karena tidak menginginkan kamu. Saya hanya ingin melakukan itu, saat kamu sudah ikhlas dan siap melayani saya sebagai suami kamu." Arshaka kembali bersuara karena istri kecilnya itu masih betah membisu dengan air mata yang terus mengalir.
Arshaka memutar tubuh sang istri hingga menghadap padanya. Melihat istri kecilnya menangis, hati laki-laki itupun terasa tercubit. Ayah satu anak itu mengusap air mata yang masih tersisa di sudut mata dan di pipi sang istri.
"Maaf, sudah membuat kamu menangis karena tidak berkata jujur. Percayalah itu semua bukan kesengajaan, akhir-akhir ini saya sibuk merampungkan tesis sehingga tidak ada waktu untuk kamu dan Azka."
Arshaka menempelkan keningnya di kening sang istri. Mata laki-laki itu berkaca-kaca karena merasa bersalah. Beberapa menit kemudian, dia mencium wajah sang istri secara menyeluruh dan berakhir di bibir manisnya.
Arshaka mulai menyesap, menghisap, dan m3lum4t. Shaila pun membalas dan membuka sedikit bibirnya, sehingga memudahkan lidah sang suami menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya. Memporak porandakan isinya.
Deru napas keduanya sudah memburu. Tangan Shaka pun sudah bergerilya ke seluruh tubuh sang istri. Tidak sampai di situ, masih dengan bibir saling bertaut, laki-laki itu melepaskan semua kain yang menempel pada tubuh Shaila, kecuali pakaian da lamnya.
Perlahan, Arshaka membawa istri kecilnya menuju ranjang. Laki-laki itu berusaha melepaskan kain yang menempel pada tubuhnya karena sang istri tidak mau membantu melepaskan. Ciu man itu semakin menuntut.
Sesuatu di balik segitiga bermuda itu berdiri tegak, tetapi bukan keadilan. Kokoh tetapi bukan monumen. Siap menghunus tetapi tumpul.
Arshaka pun sudah tidak sabar untuk membuang kain penghalang kenikmatannya. Satu persatu sisa kain yang menempel di tubuhnya dan tubuh sang istri melayang entah ke mana karena dia melempar dengan asal.
"Ayah! Bubun! Buka pintunya!" teriak Azka sambil menggedor-gedor pintu kamar.
__ADS_1