Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 48


__ADS_3

Arshaka dibuat kelimpungan oleh sang istri. Malam ini sudah tiga kali mandi karena diusir sang istri dengan alasan bau, padahal sabun yang dia kenakan sama dengan sang istri. Akhirnya dia mandi tidak memakai sabun, baru istrinya itu mau didekati.


"Kamu bau, Mas. Kamu jangan dekat-dekat aku, nanti aku muntah bau badan kamu. Kamu tidur aja di sofa atau sama Azka!" usir Shaila dengan kasar sembari menutup hidungnya.


Arshaka kembali diusir sang istri setelah sukses berkunjung di ladang halalnya. Tadi setelah mandi yang ketiga kalinya dan tanpa sabun sang istri mau didekati dan dengan sukarela dikunjungi. Namun, saat napasnya belum kembali teratur sudah diusir, parahnya sang istri sampai menutup hidung.


"Tadi semangat minta dik4w1n1, sudah puas ngusir. Aneeh!"


Arshaka keluar kamar setelah memakai celana dan bajunya keluar kamar. Laki-laki beranak satu itu, mandi di kamar mandi yang ada di ruang tamu setelah itu merebahkan tubuhnya di kamar tersebut setelah rambutnya sudah mulai mengering.


Shaka sengaja mandi lagi malam itu karena ingin menunaikan sholat malam. Untuk mengadu pada sang Khalik atas perubahan sang istri yang tiba-tiba. Laki-laki itu merasa tidak mengenali istrinya lagi.


"Untung sudah bercocok tanam, coba belum. Bisa-bisa nggak tidur semalaman," gumam Arshaka sambil meraih guling lalu memejamkan matanya.


Pagi harinya, Azka yang mencari sang ayah langsung masuk ke kamar orang tuanya. Kamar itu tampak kosong karena ibu sambungnya sedang berada di dapur membuat sarapan. Bocah kecil itu kebingungan mencari sang ayah.


Kamar mandi dan kolong ranjang tak luput dari sasaran pencariannya. Tak kunjung menemukan sang ayah, Azka ke dapur untuk bertanya pada sang ibu yang pasti tahu keberadaan sang ayah.


"Bun, ayah ke mana?" tanya bocah itu setelah menemukan sang ibu yang sedang menghidangkan sarapan untuk mereka.


"Loh, bukannya tidur sama Kakak?" Shaila menjawab pertanyaan sang anak dengan pertanyaan.


"Ishh, mana ada. Orang kakak tidur sendri kok. Kalau nggak percaya tanya saja sama Mbak Rina," jawab bocah itu dengan raut wajah kesal.


Shaila tersenyum melihat wajah kesal sang anak. Tidak bermaksud untuk mengerjai bocah itu, tetapi memang tidak tahu jika sang suami tadi malam tidak tidur di kamar anaknya.

__ADS_1


"Azka sudah coba cari ayah di kamar tamu?" tanya Shaila pelan lalu menggigit bibir bawahnya. Takut sang anak tahu jika ayahnya telah diusir sang ibu.


Tanpa banyak kata, bocah itu lari ke arah kamar tamu yang dimaksud. Azka bingung karena sang ayah tidur di kamar tamu. Dalam hati anak Arshaka itu bertanya-tanya alasan sang ayah tidur di sana.


Bocah tiga tahun itu ingin sekali bertanya langsung pada sang ibu, tetapi tidak berani. Azka merasa sang ibu tengah marah pada ayahnya. Oleh karena itu dia bertanya pada sang ayah kenapa tidur di kamar tamu.


"Ayah lagi pengen tidur sendiri, biar lapang bebas guling-guling nggak kenai teman tidur. Kalau ayah tidur sama bunda atau sama Azka, pasti ayah tidak sengaja menendang atau menimpahi kalian," jelas Arshaka pada sang anak.


Azka mengangguk tanda mengerti, lalu duduk di pinggir ranjang menunggu sang ayah beranjak dari tempat tidur.


"Ayo, kita sarapan! Bunda pasti sudah menunggu kita," ajak Arshaka seraya mengangkat kaki sang anak sambil berjalan.


Posisi kepala di bawah dan kaki di atas sudah sering kali Shaka lakukan. Hal ini ditujukan agar otak sang anak menjadi cerdas karena puncak kepalanya teraliri darah saat posisi kepala di bawah. Selain itu, posisi seperti itu juga bisa menambah tinggi badan anak, karena tulang yang tertarik.


Azka tertawa riang diangkat terbalik oleh sang ayah. Sejak bayi sudah sering diangkat dengan posisi terbalik, membuat bocah itu tertawa bahagia.


Arshaka hanya tersenyum, lalu mendudukkan Azka di kursi meja makan. Bocah itu tertawa melihat sang ibu panik.


"Dek, Dek, kamu ini sudah biasa melihat ini masih panik saja," ujar Shaka sembari mendekati sang istri dan mengusak rambutnya dengan sayang.


Di Jakarta, Shania mencak-mencak memarahi sang suami yang telah mengambil haknya. Mantan perawan itu tidak sadar jika mereka melakukan di bawah pengaruh obat perangsang.


"Sayang, jangan marah-marah dulu. Apa kamu tidak mengingat apa yang terjadi tadi malam? Sini duduk, lihat ini!" Keenan dengan sabar membujuk sang istri agar tidak mengamuk lagi.


Keenan sudah mendapatkan CCTV di ballroom hotel tempat acara gala dinner tadi malam. Setelah selesai dengan rekaman CCTV, dokter muda itu membuka file rekaman CCTV mobilnya. Terakhir CCTV yang dipasang di tempat tinggal mereka saat ini.

__ADS_1


Awalnya Shania tetap merasa paling benar, tetapi setelah selesai menonton semua rekaman. Wajahnya memerah entah karena malu atau karena amarah. Dia langsung berjalan dengan tertatih menuju kamar mandi.


Keenan tahu pasti istri kecilnya itu aka susah berjalan untuk beberapa hari ke depan. Hal ini dikarenakan betapa panasnya permainan mereka tadi malam yang berakhir menjelang adzan subuh.


Keenan sengaja tidak membangunkan sang istri karena tahu betapa lelahnya san istri saat melayaninya tadi malam. Sebagai suami yang sangat menyayangi istrinya, laki-laki itu turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan untuk sang istri. Dilihatnya sang istri yang belum keluar dari kamar mandi, dokter muda itu berinisiatif mengambilkan baju ganti untuk sang pujaan hati.


Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan karena kita tidak bisa leluasa dalam beraktivitas. Seharusnya sudah selesai dengan satu urusan harus tertunda karena menunggu. Jika tidak menunggu seseorang, mungkin kita sudah bisa mengerjakan pekerjaan lainnya.


Tidak bagi Keenan. Laki-laki itu dengan sabar menunggu sang istri keluar dari kamar mandi, padahal dia harus segera ke rumah sakit karena sudah ada janji dengan pasien. Namun, bukannya segera berangkat ke rumah sakit, dia memilih menunggu sang istri keluar dari kamar mandi.


Sudah setengah jam lebih, Shania mengurung diri di dalam kamar mandi. Wanita itu ketiduran di dalam bathub karena rasa lelah yang mendera. Siapa pun akan lelah setelah satu malaman melayani sang suami, padahal tadi malam adalah pengalaman pertamanya.


Keenan pun menggedor-gedor pintu kamar mandi karena sudah hampir satu jam Shania tidak keluar juga. Laki-laki itu membuka pintu kamar mandi menggunakan kunci yang tersimpan di laci nakasnya, sehingga tidak susah baginya untuk melihat keadaan sang istri.


"Astaghfirullah, bikin orang jantungan saja kamu, Yang. Ada tempat nyaman untuk tidur, kenapa malah tidur di sini sih?" gumam Keenan sambil mengangkat sang istri keluar dari bathub.


Shania yang merasa tubuhnya terbang pun terkejut dan langsung membuka matanya sambil meronta minta turun dari gendongan sang suami.


"Turunin, cepat!"


*


*


*

__ADS_1



__ADS_2