
Shaka terus memandangi wajah ayu gadis di depannya. Wajah itu masih tetap cantik bersinar seperti lima tahun yang lalu. Bedanya saat ini jantungnya tidak berdebar-debar seperti saat itu.
Mungkin laki-laki itu merasa sakit hati karena diputuskan tiba-tiba dengan alasan yang susah untuk diterima. Jika hubungan mereka dulu menganggu belajarnya, kenapa nilai mereka berdua terus naik. Tidak jarang keduanya mewakili sekolah untuk maju olimpiade.
Walaupun hati Shaka terasa sakit, tidak dapat dipungkiri jika rasa rindu itu selalu menghampiri. Apalagi di saat-saat sendiri, kenangan itu selalu berputar dalam otaknya bak kaset rusak. Namun, begitu bertemu debar cinta itu sudah mulai menghilang.
Sejenak kita tinggalkan Arshaka yang sedang menuangkan rasa rindunya pada sang mantan.
Adiba menghubungi Shaila yang sudah tiga hari tidak kuliah tanpa kabar sama sekali, padahal biasanya mereka selalu bersama. Tiba-tiba saja sang sahabat menghilang tanpa jejak membuat gadis berambut cepak itu kecarian. Sudah berulang kali mendatangi kos Shaila ternyata gadis itu tidak ada.
"Lo kemana aja tiga hari ini?" tanya Adiba melalui saluran telepon.
"Ada, lagi sibuk banget. Besok gue ngampus kok," jawab Shaila sembari memainkan kuku tangannya.
"Kirain lo malu ngampus gegara insiden kamar mandi tempo hari. By the way, Pak Segateng gimana?"
"Siapa Segateng?"
"Ishhh, itu fans berat lo. Yang suka kasih hukuman nggak kira-kira itu. Siapa lagi?"
"Apa itu Segateng?"
"Dosen galak tapi ganteng."
"Gagak lebih cocok dan lebih mudah diucapkan. Ganteng tapi galak," bantah Shaila.
__ADS_1
Mereka terus mengobrol tanpa menyadari waktu terus berjalan, sampai Shaila lupa ada mertuanya di rumah itu. Tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk oleh sang ibu mertua, sehingga gadis cantik itu tergeragap takut ketahuan membicarakan anaknya.
"La, Mama pulang aja deh! Lakikmu itu entah kemana sampai sore begini belum pulang juga. Mana handphonenya tidak bisa dihubungi lagi," ucap Mama Nenti.
"Iya, Ma. Maaf ya, tidak bisa temani Mama ngobrol," sahut Shaila merasa tidak enak hati karena mengurung diri setelah pulang dari rumah sakit.
"Tidak apa-apa, Mama tahu kamu pasti kelelahan mengurus Azka selama di rumah sakit sendirian. Shaka seperti manusia tak berhati saja, anak sakit malah ngilang tanpa kabar, nomornya pun dihubungi tak bisa," jawab Mama Nenti berujung gerutuan.
"Sudah sore, Mama sama papa pulang dulu. Besok main ke sini lagi," lanjut Mama Nenti seraya mencium pipi menantunya.
Shaila meraih tangan ibu mertuanya lalu mencium punggung tangannya dengan takzim, kemudian berganti mencium punggung tangan sang ayah mertua. Gadis itu mengantarkan kedua mertuanya sampai di teras rumah.
Azka sendiri sedang mandi ditemani pengasuhnya. Mama Nenti dan Papa Demian sudah pamitan pada cucu pertamanya itu sebelum memanggil Shaila.
Usai mandi bersama sang pengasuh, bocah kecil itu langsung mencari ibu sambungnya. Anak itu sudah begitu lengket dengan wanita yang baru menjadi ibunya beberapa hari yang lalu.
"Pantas saja tidak dengar, huffftt!" ujar Shaka menggelengkan kepala, melihat bagaimana mereka bertiga berebut mainan dengan tawa renyah.
Arshaka memilih langsung masuk ke kamar, terus ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya terasa lengket setelah seharian sibuk mengurus tesis dan mengajar, ditambah lagi bertemu dengan sang mantan yang sudah lama tidak bertukar kabar.
Selama dalam kamar mandi, pikiran Shaka dipenuhi dengan dua wanita dengan wajah yang mirip. Mereka berdua sama-sama telah mengusik hatinya. Bedanya, pembawaan sang mantan tampak kalem dan tenang, sedangkan istrinya bar-bar dan ceria.
Shaila menyusul ke kamar dan menyiapkan baju untuk suami barunya. Walaupun tidak mencintai sang suami, dia tahu apa yang harus dilakukannya sebagai seorang istri. Gadis itu meletakkan baju di atas ranjang, lalu berbalik badan untuk segera keluar dari kamar itu.
"Aaargh!" jerit Shaila dengan mata terpejam, saat berbalik ternyata sang suami berdiri di belakangnya hanya berbalut handuk menutupi perut sampai atas lutut saja.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Saya belum budeg, jangan teriak-teriak. Sakit telinga saya mendengar teriakan kamu." Arshaka semakin mendekat, sengaja ingin menggoda istri kecilnya.
Shaila masih menutup rapat matanya karena harum sabun yang menguar dari tubuh sang suami semakin dekat. Walaupun dalam keadaan mata terpejam rapat, gadis itu tahu jika suami gagaknya itu semakin mendekat. Masih dengan mata terpejam, istri Arshaka Mandala itu berjalan mundur perlahan.
Siyalnya, baru dua langkah ke belakang, Shaila sudah menyentuh ranjang sampai terduduk. Melihat hal itu, Arshaka semakin gencar menggoda istri kecilnya. Suami Shaila mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri hingga napas mereka saling menyapa.
"Apa yang Bapak lakukan?" tanya Shaila lirih dengan badan gemetar karena takut.
Ya, Shaila takut sang suami meminta haknya, padahal dia belum siap. Gadis itu tidak ingin melakukan itu tanpa ada rasa cinta di hatinya dan hati sang suami. Dalam benaknya, dia malah ingin bercerai saja mengingat bagaimana perlakuan sang suami selama ini.
"Ingin mencium istri saya, apa itu salah?" sahut Shaka menahan senyum melihat istri kecilnya ketakutan dengan mata terpejam rapat.
"Bapak jangan ngadi-ngadi deh! Pernikahan kita bukan berdasarkan cinta. Jadi, jangan berharap lebih!" kata Shaila dengan wajah ketakutan Shaila semakin terlihat jelas.
Arshaka terkekeh mendengar jawaban sang istri. Ternyata setakut itu sang istri padanya, padahal dia hanya ingin bercanda saja. Laki-laki itu lalu mundur dan memakai pakaiannya saat mata Shaila masih tertutup rapat.
Selesai memakai pakaiannya, Arshaka sengaja meninggalkan kamar dengan langkah pelan tak bersuara. Laki-laki itu ternyata masih ingin menjahili sang istri. Dia merasakan ada kebahagiaan tersendiri setiap kali bisa menjahili gadis itu.
Ayah Azka Mandala itu sering merasa heran pada dirinya sendiri, baru kali ini dia merasa bahagia yang luar biasa setiap bisa melihat wajah kesal ataupun ketakutan Shaila. Baginya gadis cantik yang kini telah menjadi istrinya itu adalah sumber kebahagiaan. Setiap bersama Shaila jantungnya seakan melompat keluar dari dada.
Apakah yang dirasakan itu cinta atau bukan, Shaka tidak tahu. Yang dia tahu dia nyaman dan bahagia saat bersama Shaila. Itu saja.
Shaila perlahan membuka matanya karena tidak mendengar suara apapun di kamar itu. Matanya memindai ruangan yang kini senyap, tak ada orang selain dia. Dengan wajah penuh kesal karena ulah sang suami, gadis itu teriak sekuat tenaga.
"Arshakaa!"
__ADS_1