Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 36


__ADS_3

Ayah dan anak itu tampak kecewa kala mendapati orang yang tidak diharapkan datang. Pasangan beda generasi itu tengah mengharapkan kehadiran orang yang sama, yaitu wanita yang telah mewarnai hidup mereka beberapa bulan terakhir ini.


"Hallooo ... kok pada bengong? Terkejut ya?" seru Shania dengan penuh percaya diri, merasa kehadirannya sangat ditunggu ayah dan anak itu.


Pundak Arshaka luruh seketika. Dia lupa jika istrinya dan sang mantan adalah saudara. Setiap barang pemberian sang ayah, pasti selalu sama agar tidak ada rasa iri dan menuntut karena dibelikan barang yang berbeda.


Dosen muda itu mengajak anak dan tamunya masuk. Tangan Shaka menarik sang anak, tetapi Shania tiba-tiba menggelayut manja di lengan kekar suami adiknya. Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang melihat itu.


Dia bergegas meninggalkan tempat itu begitu ketiga orang yang tampak seperti keluarga bahagia itu memasuki rumah. Bagi orang tersebut sudah cukup dia mengetahui kejadian pagi ini. Dengan begitu dia bisa mengambil keputusan untuk masa depannya.


"Kalian tadi sedang sarapan ya? Boleh dong ikut sarapan! Kebetulan aku juga belum sarapan." Shania langsung ikut duduk bersama Arshaka dan anaknya tanpa ditawari terlebih dahulu.


"Boleh, 'kan?" Shania mengulangi pertanyaannya karena tidak mendapat tanggapan dari tuan rumah.


"Kalau Tante mau, ambil saja. Piringnya di dapur," jawab Azka sembari memasukkan sesendok nasi goreng ke mulut kecilnya.


Arshaka sendiri memilih diam tanpa mengeluarkan suara. Laki-laki itu takut sang anak merekam setiap ucapan dan tindakannya, lalu melapor pada Shaila. Bisa tamat riwayatnya saat ini juga.


Arshaka selesai sarapan terlebih dahulu, dia langsung membawa piringnya menuju wastafel lalu mencucinya.


"Azka sudah, belum? Bawa sini piring dan gelasnya kalau sudah!" teriak ayah muda itu.


Dengan patuh, bocah umur tiga tahun itu membawa piring dan gelasnya pada sang ayah. Setelah menyerahkan piring dan gelas kotor, Azka berlari menuju kamarnya. Bocah itu tidak menyapa kakak ibu sambungnya.


Entah kenapa bocah itu tidak suka dengan kehadiran saudara bubunnya. Saat ini dia hanya ingin bertemu ibu sambungnya bukan orang lain, bahkan hari ini dia enggan pergi ke sekolah karena tidak diantar oleh sang ibu.


Rina dan Shaka sudah membujuk bocah itu, tetapi tidak berhasil. Akhirnya ayah satu anak itu memilih membiarkan sang anak mengurung diri di kamar asalkan masih mau makan dan berinteraksi normal seperti biasa.

__ADS_1


"Shania, sebaiknya kamu pulang saja karena Shaila sudah pergi ke kampus sejak pagi. Aku harus berangkat kerja sekarang," perintah Arshaka dengan suara pelan tetapi tegas.


Dosen muda itu langsung meninggalkan rumahnya setelah mengusir secara halus tamunya. Shania sendiri merasa kesal karena belum sempat dia berbicara sudah diusir oleh tuan rumah.


"Awas saja kamu Arshaka! Akan aku buat bertekuk lutut di kakiku." Shania mengeluarkan sumpah serapahnya untuk menyalurkan kekesalannya atas sikap sang mantan.


Shania meninggalkan rumah minimalis itu setelah ditinggal oleh Arshaka dan terkunci di teras. Pintu rumah itu sengaja dikunci dari dalam oleh Rina setelah majikannya keluar diikuti tamunya. Gadis dewasa itu sudah terbiasa mengunci pintu rumah begitu sang majikan meninggalkan rumah.


Arshaka menyempatkan singgah ke kampus sebentar sebelum pergi ke kantor pajak. Laki-laki itu langsung mencari keberadaan istri kecilnya begitu sampai di kampus. Bertanya pada setiap mahasiswa yang dirasa kenal dengan Shaila Ghaliba.


Akan tetapi, usaha dosen muda satu anak itu tidak membuahkan hasil. Kelas sang istri masuk siang sekitar jam sebelas sehingga tidak mungkin sepagi ini stand by di kampus. Arshaka akhirnya meninggalkan kampus dan bergegas ke kantor pajak di mana dia bekerja selain menjadi dosen.


Seminggu lagi dia diangkat menjadi pegawai negeri dan akan dimutasikan ke kantor pemkab yang membutuhkan tamatan akuntansi seperti dirinya. Laki-laki itu pasrah saja yang penting masih bisa mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja.


Shaila memutuskan tidak berangkat kuliah hari ini. Dia memilih menemani sang sahabat yang kata dokter hari ini boleh pulang. Keadaan Adiba sudah membaik walau masih harus menggunakan tongkat untuk berjalan.


"Ini mah enak di lo, apes di gue. Nanti kalau tiba-tiba disuruh presentasi bagaimana? Mampoos gue!" sahut Rosa kesal.


"Mana ada presentasi? Itu makalah cuma dikumpul lalu lanjut materi berikutnya. Udah! Percaya deh sama gue." Shaila meyakinkan sang sahabat agar mau berangkat kuliah sendiri tanpa dirinya.


"Diih, padahal Adiba pulangnya nunggu kita pulang kuliah juga bisa. Ini cuma akal-akalan lo aja, 'kan?"


Adiba tertawa melihat perdebatan kedua sahabatnya itu. Mereka tidak mau ada yang mengalah, sama-sama keras kepala dan dituruti maunya.


"Kalian kok malah jadi berantem sih? Kalau Rosa tidak mau berangkat sendiri dan lo, Shaila juga tidak mau ngampus. Lebih baik tidak ada yang pergi. Biarin kita dapat nilai jelek dan mengulang di semester berikutnya. Biar adil!"


Shaila dan Rosa langsung terdiam mendengar kata-kata Adiba yang cukup menyentil hati mereka. Kedua orang itu menunduk merasa malu karena tidak ada yang mau mengalah seperti anak TK.

__ADS_1


"Kok malah diam? Tadi ribut sepert anak TK berebut tempat duduk, akhirnya sama-sama berdiri karena sama egoisnya. Coba saja ada yang mengalah pasti dapat tempat duduk lainnya yang belum terisi saat ribut. Selesai ribut kursi sudah terisi semua."


Di antara mereka bertiga, Adiba lah yang paling bijak dan dewasa. Hal ini dikarenakan dia adalah anak pertama yang harus menjadi contoh untuk adik-adiknya. Orang tuanya mendidik dia dengan baik agar memiliki kepribadian yang baik dan cara berpikir yang bijaksana.


Akhirnya, Rosa mengalah dan berangkat kuliah. Sementara Shaila mengurus administrasi Adiba menggunakan uangnya terlebih dahulu. Orang tua Adiba rencananya akan datang hari ini tetapi belum pasti.


Sesampainya di kampus, hampir semua orang yang dikenalnya menanyakan keberadaan Shaila. Gadis itu merasa aneh, karena tidak biasanya mereka menanyakan Shaila atau Adiba.


"Mana Shaila? Tumben sendirian aja?" tanya salah satu teman sekelas Rosa.


"Shaila menjaga Adiba di rumah sakiti. Ada apa cari Shaila, nggak biasanya?"


Gadis berkaca mata tebal itu bercerita jika dosen yang berasal dari kutub utara itu mencari Shaila sejak pagi. Mendengar cerita teman sekelasnya itu, Rosa serasa tidak percaya karena tidak biasanya dosen gagak itu mencari Shaila sampai segitunya.


"Bener cerita lo itu? Bisa dipercaya?' tanya Rosa memastikan.


Arshaka kembai ke kampus saat jam istirahat makan siang. Dosen muda itu langsung mendatangi kelas Shaila. Berharap bisa bertemu dengan istri kecilnya itu dan membawanya pulang.


*


*


*


Mampir yuk ke karya baruku


__ADS_1


__ADS_2