
Saat makan siang bersama di rumah mertua, Shaila mendapat telepon dari Rosa. Temannya itu mengabarkan jika dia dan Adiba mengalami kecelakaan saat hendak melihat sahabatnya di jalan Veteran Muja Muju.
Dalam kecelakaan itu, Adiba mengalami luka serius di kaki karena ketimpa motor. Rosa sendiri hanya mengalami lecet di tangan. Hal ini dikarenakan Adiba yang mengendarai motor.
Selesai makan tanpa meneliti baterai ponselnya, Shaila langsung pamit pada keluarga sang mertua yang kebetulan hadir. Begitu khawatirnya pada sang sahabat yang sama-sama anak kos, membuat gadis itu lupa jika suami dan keluarganya menunggu. Keluarga Adiba berada di Kalimantan sehingga Shaila dan Rosa yang menemani di rumah sakit.
"Shai, ini sudah malam loh. Emang laki lo gak nyariin?" Rosa penasaran karena sahabatnya itu masih anteng duduk di ruang rawat itu.
Shaila langsung mengecek gawainya yang dia simpan di dalam sling bag-nya, ternyata mati kehabisan daya.
"Pantas saja, ponsel gue gak ada suaranya. Mati kek gini!" ucap Shaila seraya mengangkat gawai dengan merek cerry digigit codot.
"Coba lo isi daya dulu, gue bawa charger di tas," ucap Adiba menawarkan bantuan.
Tanpa menunggu disuruh lagi, Shaila langsung mengambil charger dan mulai mengisi daya ponselnya. Saat dihidupkan ada ratusan panggilan tak terjawab dari ibu mertuanya. Ada juga dari suami dan pengasuh anak sambungnya.
"Gila lo, Shai! Berasa kek artis saja, panggilan dan pesan yang masuk tak terhitung lagi," ledek Rosa yang risih dengan bunyi notifikasi di ponsel Shaila yang tidak berhenti-henti.
"Iya, nih. Kata mertua gue, gue nanti pulangnya ke rumah mereka lagi. Anak sama laki gue nginap di sana semua," cerita Shaila setelah selesai membaca puluhan pesan yang masuk ke nomornya.
"Lo pulang sama siapa? Sudah malam lo ini, mana rumah mertua lo jauh dari sini lagi," tanya Adiba cemas.
Sahabat dekat Shaila dan Rosa itu memikirkan keselamatan Shaila. Menempuh perjalanan malam dalam keadaan lelah dan mengantuk, sama saja memberi kesempatan pada orang untuk berbuat jahat padanya.
"Lo minta jemput laki atau mertua lo aja. Sekalian biar mereka tahu kalau lo di sini karena nolongin teman bukan keluyuran nggak jelas," saran Rosa pada sahabatnya yang tampak bingung.
__ADS_1
Akhirnya Shaila menghubungi sang suami dengan berat hati. Sebelum menghubungi suaminya, dia terlebih dahulu membalas pesan dari ibu mertuanya. Pesan dari sang kakak dia abaikan karena saat ini dia tidak berada di rumah, baik rumah suami atau mertuanya.
Shaila langsung mengatakan minta dijemput di rumah sakit di mana Adiba dirawat. Shaka sendiri tanpa banyak bertanya langsung menjemput istri kecilnya karena rasa khawatir yang sudah menggunung. Laki-laki itu pamit pada orang tuanya sebelum berangkat.
"Kenapa tadi susah dihubungi, hmm?" tanya Shaka begitu sampai di ruangan Adiba dirawat.
"Ponselku mati kehabisan daya. Sibuk mengurusi Adiba dan orang yang menabraknya, jadi nggak sadar ponselku mati," jelas Shaila.
"Orang tua kamu sudah diberitahu?" tanya Shaka pada anak didiknya itu.
"Tadi saya sudah menghubungi mereka, Pak. Mungkin besok siang atau malam baru sampai di sini," jawab Adiba merasa segan pada dosen sekaligus suami sahabatnya.
"Okelah kalau begitu. Cepat sembuh ya, Adiba. Kami pulang dulu!"
"Saya minta maaf, kejadian tadi siang di luar ekspektasi saya. Mereka datang tanpa saya kabari atau mereka mengabari saya. Tolong percaya saya," ucap Shaka ketika keduanya berada di area parkir rumah sakit.
Arshaka menatap mata sang istri dengan kedua tangan menggenggam tangan istri kecilnya itu. Kemudian, laki-laki itu mengajak sang istri duduk di bangku taman tak jauh dari area parkir itu. Dia harus menjelaskan semuanya agar Shaila tidak marah lagi padanya.
"Percaya saya, bahwa apa yang ada dalam pikiran kamu itu tidak benar. Cinta saya pada mantan itu sudah menghilang dengan hadirnya kamu dalam hidup saya. Kalau soal nama kontak itu, saya lupa menggantinya dan juga belum sempat."
"Sejak menikah dengan ibunya Azka, banyak yang harus saya lakukan sebagai seorang suami. Saya kerja serabutan sambil kuliah agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga kecil saya. Apalagi orang tua Graceila waktu itu menuntut saya untuk menjadi orang kaya seperti mereka."
"Saya terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk istri, bahkan sampai dia hamil saya masih sibuk mengais rejeki agar bisa menunjukkan pada mertua bahwa saya mampu. Ternyata, mereka memilih memisahkan kami. Oleh karena itu, saya semakin bekerja keras untuk membuktikan pada mereka jika saya mampu."
Saya bisa kuliah dengan nilai cumlaude dalam batas waktu singkat. Saya juga bisa membeli rumah dan mobil walau tidak semewah milik mereka. Memang saat pernikahan kami dulu belum ada rasa cinta, tetapi saya tidak pernah main-main dalam ikatan pernikahan.
__ADS_1
Sama halnya dengan kamu, saya menikahi kamu dengan harapan ini adalah pernikahan terakhir saya. Apalagi saya telah jatuh cinta ke kamu sejak melihat kamu yang begitu berani melawan kakak tingkat yang semena-mena waktu itu. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu."
Arshaka menjelaskan semuanya karena tadi sudah kena amukan dari wanita yang telah melahirkannya. Laki-laki itu merenungi kesalahannya dan berjanji akan berubah menjadi suami yang baik dan lebih peka lagi.
Shaila masih meragu karena tadi siang sang kakak yang masih gigih mendekati sang suami. Gadis itu takut sang suami goyah dan tergoda, lalu kembali pada sang kakak. Bukan tidak rela, tetapi harga dirinya pasti akan kembali terinjak jika dia menjanda di usia muda.
"Kak Nia masih berharap Bapak kembali padanya. Kenapa tidak kembali saja pada dia, Pak?"
"Memangnya kalau saya kembali pada kakak kamu, kamu mengizinkannya? Kakak beradik tidak boleh dinikahi dalam waktu yang sama. Lagian kalau saya kembali menjalin hubungan dengan kakak kamu, itu berarti saya hari kembali belajar mencintai seseorang. Padahal saya sudah terlanjur menutup hati saya untuk dia," jawab Shaka dengan senyum manisnya.
Laki-laki itu merasa gemas sendiri dengan kelakuan istri kecilnya yang absurd itu. Menanyakan sesuatu yang sangat sensitif jawabannya.
"Kalau kamu belum bisa percaya sepenuhnya, saya tidak akan memaksa kamu untuk percaya pada saya. Saya akan berusaha membuktikan ucapan-ucapan saya tadi, bahwa di hati dan pikiran saya sudah dipenuhi oleh nama Shaila Ghaliba binti Nathan Kusuma Wijaya," imbuh Shaka sembari mengusap lembut kepala sang istri.
"Saya pegang ucapan Bapak!"
"Siapa takut? Ayo pulang, sudah malam. Angin malam tidak baik untuk kesehatan."
*
*
*
__ADS_1