
Sore harinya, Shaila langsung diboyong ke rumah sang suami. Selama dalam perjalanan, bahkan sampai di rumah minimalis itu istri baru Shaka didominasi oleh Azka. Bocah usia tiga tahun itu terus membayangi bubunnya.
Shaila turun dari mobil sambil menggendong Azka. Arshaka sendiri langsung mengeluarkan koper sang istri setelah turun. Istri dan anaknya berjalan mendahului masuk rumah, diikuti dosen muda mantan duda di belakang dengan menyeret koper.
"Ayah, nanti Azka boboknya sama bubun ya? Boleh ya, Yah," rengek bocah itu sambil menarik-narik lengan sang ayah, sesaat setelah masuk rumah.
"Azka sudah gede loh. Masak tidur minta ditemeni," tolak Shaka dengan halus.
"Ayah juga sudah gede, gedean Ayah lagi dibanding Azka."
Arshaka tidak menjawab sang anak karena bingung harus menjawab apa. Laki-laki itu menghela napasnya kasar, lelah mulai menyelimuti. Sementara itu, Shaila hanya diam menjadi penonton akan kelakuan ayah dan anak yang sedang memperebutkan dirinya.
Kesal dengan kelakuan sang anak yang merupakan foto kopi dirinya. Arshaka berpikir keras agar anak itu memberi waktu padanya dan Shaila. Setelah beberapa saat terdiam akhirnya dia pun menyahuti ucapan sang anak.
"Sayang, kalau orang sudah nikah itu tidurnya harus samaan biar Allah tidak marah. Lagian, kalau tidur bersama nanti Azka bisa punya adik dari bubun," bujuk Shaka agar dia bisa tidur bersama istri barunya.
"Ya udah, kalau gitu kita tidur bertiga di kamar Ayah." Bocah kecil itu langsung meninggalkan sang ayah begitu mengucapkan kata-kata yang membuat ayahnya tercengang.
"Ayo, Bun! Kita ke kamar Azka saja, jangan di sini nanti Bubun diculik ayah," ajak anak Shaka pada ibu barunya.
Ibu dan anak yang tidak memiliki hubungan darah itu berjalan sambil bergandengan tangan menuju kamar sang anak. Tampak senyum mengembang di bibir Azka selama mereka berjalan. Setelah sampai di kamar, ternyata pengasuh anak itu telah menunggunya.
"Den Azka mandi dulu, ya. Mbak sudah siapkan air sama baju gantinya," kata Rina sang pengasuh.
Azka merengek minta dimandikan oleh ibu barunya. Anak yang biasanya mandiri dan tidak rewel itu mendadak menjadi manja dalam hitungan jam, selama bersama Shaila. Shaila pun mengangguk setuju dengan syarat dia berganti baju terlebih dahulu.
__ADS_1
Shaila masih memakai kebaya saat diboyong ke rumah Shaka. Jadi, sebelum memandikan anak sambungnya dia meminta izin untuk berganti pakaian terlebih dahulu. Tanpa membuang waktu, gadis itu langsung mengganti pakaiannya lalu bergegas ke kamar sang anak sambung.
Ternyata bocah kecil itu sudah masuk ke kamar mandi dan sedang berendam di dalam bathtub bermain busa dan mainan karet warna kuning berbentuk binatang bersayap. Azka tetap asik bermain tidak menyadari kehadiran ibu sambungnya. Dia terkejut saat sang ibu sambung duduk di pinggiran bathub di depannya.
Azka memindai penampilan sang ibu sambung yang memakai baju setelan baby dol celana dan kaos lengan pendek. Wanita yang duduk di depannya itu tampak seperti anak sekolah. Tidak ada kesan dewasa terlihat di wajahnya, tetapi anak itu suka.
"Kenapa malah lihatin kakak sampai segitunya?" tanya Shaila yang belum terbiasa dipanggil bubun oleh anak sambungnya.
"Kata ayah, kalau ayah sudah menikah, Azka harus panggil bunda pada wanita yang ayah nikahi bukan kakak. Emm, Azka tanya dong, menikah itu apa sih? Kata ayah juga, kalau sudah menikah boboknya harus bareng, kalau gak nanti dosa," cerocos anak itu asik memainkan bola.
Shaila tidak tahu harus menjawab apa. Anak di depannya itu masih kecil tetapi gaya bicaranya sudah seperti sang ayah. Bagi Shaila, Azka terlalu cerdas untuk anak seusia dia. Setiap kata yang terucap menunjukkan sisi dewasa yang belum waktunya.
"Azka cepetan mandinya, biar gak masuk angin! Sini biar kak ...."
"Bunda, Bun! Bunda, bukan kakak. Jangan lupa lagi!" protes Azka cepat memotong ucapan ibu sambungnya.
Selama memandikan Azka, anak itu malah bermain air sehingga airnya mengenai Shaila. Namun, tak sedikit pun gadis itu terpancing emosi. Shaila malah tertawa dan membalas setiap air mengenai wajahnya.
Shaila langsung mengelap tubuh kecil itu dengan handuk begitu keluar dari bathub. Setelah itu membalutnya dengan handuk tadi, lalu memakaikan lotion dan minyak kayu putih ke badan Azka. Setelah itu mengajari anak sambungnya memakai baju sendiri.
Arshaka tersenyum bahagia melihat keakraban anak dan istrinya. Sepertinya dia tidak salah pilih istri dan ibu untuk anak-anaknya. Sekarang yang menjadi PR adalah menaklukkan hati sang istri yang baru beberapa jam dinikahi.
Dalam hati dosen muda itu berharap cinta pertamanya bisa dihapuskan oleh sang istri. Wajah Shaila yang begitu mirip dengan cinta pertamalah yang membuat dia selalu ingin dekat dengan anak didiknya itu. Menjahili gadis itu membuat dia seperti menemukan air di padang yang tandus.
Ada perasaan nyaman juga bahagia kala berada di dekat Shaila membuat Arshaka selalu berusaha untuk dekat dengan gadis itu. Kini dia berharap dengan pernikahan ini, bisa melupakan sang mantan yang telah meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Cinta pertama Arshaka adalah teman sekolah sejak SMP sampai SMA. Saat mendekati ujian kelulusan SMA, pacar Shaka memutuskan hubungan mereka dengan alasan ingin fokus pada pendidikan. Pacarnya tersebut ingin kuliah kedokteran di UI sehingga harus lebih rajin belajar lagi.
Setelah putus dengan sang pacar, Arshaka dekat dengan teman sekelasnya, Graceila. Kemana pun mereka bersama, sayangnya gadis itu membawa pengaruh buruk untuk Shaka. Sampai suatu malam mereka merayakan kelulusan dengan mabuk-mabukan dan berakhir tidur bersama.
Satu bulan kemudian Grace dinyatakan hamil dan akhirnya dinikahkan dengan perjanjian. Ayah Graceila yang merupakan pengusaha dari Amerika tidak mau memiliki menantu orang biasa seperti keluarga Mandala. Pernikahan itu hanya sampai bayi lahir dan hak asuh diberikan pada Shaka.
Setelah bercerai, Grace dibawa oleh orang tuanya pulang ke Amerika, sedangkan bayinya diasuh oleh Mama Nenti. Arshaka sendiri melanjutkan kuliahnya yang sempat berantakan. Sering direndahkan dan dicemooh oleh orang tua Grace, membuat laki-laki itu semangat belajar.
Walaupun sempat menikah dan memiliki anak dengan Grace, cinta Arshaka masih utuh untuk sang mantan yang meninggalkannya. Tak sekalipun posisi cinta pertama di hati tergeser. Tidak heran ketika melihat seseorang yang mempunyai kemiripan dengan sang mantan langsung didekati.
Acara makan malam di kediaman Arshaka baru saja selesai ketika Shaila mendapat telepon dari sang kakak yang kuliah di luar kota. Mendengar kabar adiknya menikah, kakak Shaila akan pulang ke Jogja dan mengunjungi keluarga baru sang adik. Besok pagi, anak pertama Nathan itu akan datang.
"Bun, Azka tidurnya sama Bunda, ya? Ya!"
"Tidak! Bunda sama Ayah," tolak sang ayah, Arshaka.
Melihat ayah dan anak berantem, akhirnya Shaila memutuskan untuk bertiga dengan formasi Azka di tengah. Walau berat, Arshaka tetap menyetujui karena untuk dekat butuh proses.
Pagi harinya, rumah Arshaka kedatangan tamu saat pemilik rumah hendak pergi kerja.
"Pagi, saya mau bertemu Shaila. Bisa?" Kakak Shaila yang baru saja sampai bertanya pada Shaka yang sedang membuka pintu mobil.
Deg....
"Sasha?"
__ADS_1