
Sejak sebelum subuh, Shaila sudah muntah-muntah. Badannya sudah lemas tak bertenaga. Penyebab dia muntah seperti biasa, sang suami selesai mandi membuat ruangan berukuran empat kali empat itu beraroma wangi sampo dan sabun.
Indra penciuman Shaila yang berubah sensitif sejak hamil, membuat istri Arshaka itu terbangun karena perutnya terasa seperti diaduk. Shaka yang dilarang mendekat oleh sang istri, memilih untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang umat muslim. Selesai sholat, laki-laki itu barulah mendekati sang istri.
"Pergi! Kamu bau sekali, Mas," usir Shaila dengan suara lirih karena lemas setelah memuntahkan cairan dalam perutnya.
Shaka merasa bersalah pada sang istri, lagi-lagi istri kecilnya itu tidak bisa mencium bau wangi yang menguar dari tubuhnya. Sebenarnya dia risih jika berkeringat tidak langsung mandi, tetapi keadaan sang istri membuatnya mengalah. Mandi dan wangi saat berada di luar rumah, tepatnya saat di kantor.
Ayah satu anak itu bergegas melakukan olah raga ringan di kamar agar badannya berkeringat. Bau keringat yang keluar dari tubuhnya membuat sang istri merasa nyaman di dekatnya. Setelah cukup berkeringat, Arshaka langsung menggendong sang istri menuju ranjang.
"Nggak mandi?" tanya Shaka pelan, mengingat tadi malam melakukan aktivitas yang membuat mereka berdua bertukar peluh mendaki nirwana.
"Masih lemas, Mas. Kamu sih, mandi duluan!" Shaila memasang wajah cemberut lantaran sang suami tidak membangunkannya tadi.
"Mas mandiin ya? Janji mandi aja tidak lebih." Arshaka menawarkan bantuan.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit yang digunakan Arshaka membantu sang istri mandi. Badan Shaila yang lemas membuat laki-laki itu tidak tega membiarkan sang istri mandi sendiri. Apalagi istri kecilnya itu lemas karena sedang mengandung benihnya sehingga dia harus lebih memperhatikan dan menyayangi sang istri.
Saat dosen muda itu membantu sang istri mengeringkan rambut, pintu kamarnya ada yang mengetuk. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Tampak Mbak Rina dan Azka berdiri di ambang pintu.
"Ada apa?" tanya Arshaka seraya meletakkan hairdryer di atas meja.
"Ada orang tua Non Shaila, Pak," jawab Mbak Rina.
"Siapkan sarapan kami, Mbak. Sekalian suruh mereka ke ruang makan. Sebentar lagi kami turun," ucap Arshaka membrikan perintah.
__ADS_1
"Ayah, Azka sama eyang, boleh ya?" tanya bocah yang sebentar lagi berusia empat tahun itu.
Arshaka dan Shaila mengangguk secara bersamaan dan disambut bahagia oleh bocah itu. Pasangan muda itu pun saling menatap lalu tersenyum.
"Sudah cantik, sekarang kita turun untuk sarapan bersama." Arshaka tiba-tiba jongkok di depan perut sang istri. "Jangan bikin bunda susah ya, Sayang."
Ayah muda itu mengusap lembut perut datar sang istri, kemudian mengecupnya. Setelahnya menggandeng tangan sang istri keluar dari kamar, bergabung dengan keluarga sang istri di ruang makan.
Pasangan muda itu menyalami tamunya satu persatu, setelah terkejut melihat kedatangan suami Shania. Shania sendiri belum keluar kamar sejak kemarin sore.
"Mbak Rina, bisa minta tolong panggilkan budhenya Azka?" teriak Shaila dari tempatnya duduk, sementara Mbak Rina berada di dapur.
Arshaka mengingatkan pada istri kecilnya itu untuk tidak kembali berteriak, mengingat ada orang tua tak jauh dari tempat mereka duduk. Shaila langsung menutup mulut dan menunduk, tanda menyesal.
"Ada apa?" tanya Shania heran karena pengasuh yang merangkap sebagai asisten rumah tangga itu tiba-tiba berdiri di depan kamar yang ditempatinya.
"Eh, itu Non sudah ditunggu di ruang makan," jawab Mbak Rina gugup karena melihat wajah jutek sang tamu.
Kakak Shaila itu hanya mengangguk lalu berjalan menuju ruang makan. Betapa terkejutnya dia saat melihat orang-orang yang sudah duduk mengelilingi meja makan. Sungguh dia tidak menyangka jika keberadaannya di rumah ini sudah diketahui.
Tiba-tiba saja pikiran jahatnya menguasai. Istri Keenan itu menatap nyalang pada adiknya, seolah menuduh sang adik yang memberi tahu pada Keenan. Tanpa dia tahu bahwa kedatangan orang tua dan sang suami atas inisiatif dari sang ayah.
"Apa maksud kamu Shaila? Sudah aku katakan jangan berita tahu siapa pun kalau aku di sini. Aku benar-benar kecewa sama kamu La!" tanya Shania penuh dengan amarah.
Shaila yang tidak tahu jika orang tua dan kakak iparnya akan datang pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin berdebat dengan sang kakak, terlebih lagi saat ini. Badannya sudah terasa lemas, sehingga memilih diam.
__ADS_1
"Bukan Shaila yang memberi tahu keberadaan kamu, Sayang. Kami sebenarnya tidak tahu jika kamu berada di sini. Kedatangan kami ini dadakan sehingga tidak menghubungi Shaka atau istrinya. Jadi jangan salahkan orang-orang yang tiba-tiba berkumpul di sini," ungkap sang paman dengan wajah sendu.
"Lalu?" Shania bertanya sembari mencibir.
Keenan berdiri mendekati sang istri. Laki-laki itu alih-alih memarahi sang istri, dia malah membujuk sang istri dengan sabar. Tidak hanya itu saja, dokter sekaligus dosen itu juga memastikan bahwa kedatangannya itu atas inisiatif sendiri.
Entah sifat keras kepala siapa yang diwarisi oleh Shania. Orang tuanya tidak ada yang memiliki sifat seperti dirinya. Mungkin kesibukan orang tua yang jarang meluangkan waktu bersama dan menuruti setiap keinginannya, membentuknya menjadi pribadi yang seperti saat ini.
"Setelah ini kita pulang, ya. Jangan ganggu rumah tangga adikmu lagi. Biarkan dia bahagia bersama keluarga kecilnya," ajak Keenan pada sang istri.
"Aku minta maaf karena mengambil itu saat kamu dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya. Kita saat itu sama-sama dalam pengaruh obat. Jadi, tolong maafkan aku. Aku janji tidak akan memintanya terlebih dahulu," ucap Keenan lagi, membujuk sang istri agar mau diajak pulang.
"Atau kamu ingin hadiah apa dari aku?" Keenan terus berbicara membujuk sang istri sampai istri kecilnya itu mau mengiyakan ajakannya.
"Sarapan dulu, Kak. Nanti keburu dingin tidak enak," kata Shaila menginterupsi.
"Iya, makan dulu. Nanti lagi diskusinya," ujar Dewi menimpali.
Akhirnya, Keenan menggandeng tangan sang istri dan menuntunnya menuju kursi yang tadi didudukinya. Shania pun mengikuti sang suami dengan patuh. Tidak mungkin dia marah-marah di area meja makan saat makanan terhidang di atas meja.
Shaila melayani sang suami walaupun badannya terasa lemas. Berbeda dengan sang adik yang dengan suka cita melayani suaminya, Shania malah dilayani oleh Keenan. Hal itu membuat Dewi dan Nathan hanya bisa saling menatap kemudian menggelengkan kepala.
"Kurang apa lagi coba? Keenan sudah begitu sabar menghadapi kamu. Seharusnya kamu yang melayani dia, tapi malah kebalikannya. Sudah begitu kamu masih berulah lagi," kata Dewi dengan frontal.
"Kurang mengena di hati!" jawab Shania dengan tanpa perasaan.
__ADS_1