
Jam sembilan malam Shania baru sampai di rumah. Gadis itu merasa seperti mengenal mobil yang sedang terparkir di depan rumah.
"Mampoos! Keenan datang gak kasih kabar dulu, bisa-bisa kena sidang gue!" gumam Shania pelan.
Gadis itu berjalan pelan memasuki rumah melalui pintu samping. Dia sengaja menghindar bertemu dengan Keenan dan ayahnya saat ini. Shania belum siap ditanya soal hubungannya dengan Keenan oleh sang ayah.
Dengan berjalan berjingkat, tanpa menoleh kiri kanan, gadis itu menaiki tangga dengan pelan agar tidak ada yang mendengar suara langkah kakinya. Namun, baru menaiki tiga anak tangga, sang ayah memanggilnya. Mau tidak mau, gadis itu akhirnya mendatangi ruang tamu.
Tangga yang terletak antara ruang tamu dan ruang keluarga. Dengan posisi duduknya saat ini Nathan dengan mudah melihat anak sulungnya akan menaiki tangga. Ditambah lagi suara deru mesin mobil Shania sudah sangat dihafal oleh sang ayah.
"Duduk sini, sebentar!" perintah Nathan begitu Shania berdiri di dekatnya.
"Mommy mana, Dad?" tanya Shania mengalihkan pembicaraan sambil memainkan kuku-kuku jarinya.
"Duduk dulu! Tidak sopan seperti itu. Ada dosen sendiri tapi tingkahmu seperti itu," perintah Nathan dengan suara pelan tetapi tegas, membuat Shania langsung duduk di sebelah sang ayah. "Mommy kamu ada jadwal jaga malam di UGD."
Nathan menggelengkan kepalanya melihat sikap si sulung yang tidak memiliki sopan santun sama sekali. Berbeda dengan sang adik yang selalu menurut pada ayahnya.
"Maafkan sikap anak saya yang tidak tahu sopan santun ini, Dokter Elard," ucap Nathan pada tamunya.
"Tidak apa-apa, Dokter Nathan. Saya memaklumi kok, anak perempuan pasti akan bersikap manja pada sang ayah. Wajar jika kesannya tidak memiliki sopan santun," jawab Keenan dengan memaksakan senyum.
__ADS_1
Sejelek apapun Shania, hati Keenan sudah terlanjur terpaut pada gadis itu. Laki-laki itu sangat susah untuk jatuh cinta, tetapi begitu jatuh cinta dia akan setia pada pasangannya. Segala kekurangan pasangan tidak akan menggoyahkan hatinya untuk berkomitmen dengan sang kekasih.
Shania melengos dikatakan tidak memiliki sopan santun. Dalam hati gadis sangat kesal sekali. Disuruh duduk hanya untuk ditunjukkan kejelekannya.
"Tahu begini, tadi tidak usah gabung sama mereka. Semua laki-laki sama saja, kalau lihat jeleknya gue gercep. Nggak mikirin perasaan orang sama sekali."
Shania tidak membuka mulutnya sejak menghempaskan bokongnya ke sofa. Ruangan itu menjadi hening karena saat ini mereka sedang menunggu gadis itu berbicara. Sibuk merutuki dalam hati sampai tidak mendengar apa yang ayah dan kekasihnya bicarakan.
"Nia, Shania!" panggil Nathan berulang kali karena sepertinya anak gadisnya itu melamun dengan wajah ditekuk. Nathan menyentuh lengan sang anak karena tidak mendapat tanggapan.
"Kamu melamun, Nak? Astaghfirullah!" ucap sang ayah sembari mengusap wajahnya sendiri.
"Ng, ada apa, Dad?" tanya Shania pada sang ayah.
Nathan akhirnya menjelaskan tujuan kedatangan Keenan ke rumah. Laki-laki yang rambutnya sudah mulai memutih itu bertanya pada sang anak kebenaran hubungan mereka. Sebagai orang tua, dia tidak ingin sang anak menambah dosanya dengan berpacaran. Jika sudah saling mencintai lebih baik menikah saja.
"Tidak, Dad! Itu tidak benar. Hubungan kami hanya dosen dan mahasiswa. Selain itu, Shania magang di rumah sakitnya," sangkal Shania tidak mau mengakui Keenan sebagai kekasihnya.
Keenan menghirup oksigen sepenuh dada lalu menghembuskan napasnya dengan perlahan. Menghadapi gadis yang usianya terpaut jauh harus ekstra sabar. Apalagi kekasihnya itu sangat manja dan keras kepala.
Nathan bertanya sekali lagi pada anak sulungnya. Lelaki paruh baya itu ingin kejujuran sang anak yang sepertinya sangat sulit didapat. Akhirnya, dengan terpaksa dia bersikap tegas.
__ADS_1
"Kalau Dokter Elard bukan pacar kamu, lalu apa? Apakah ada seorang dosen dan anak didiknya yang bisa begitu akrab, sampai-sampai mau menjadi sopir pribadinya?" cerca Nathan yang membuat Shania tidak bisa berkutik. Oleh karena itu, kakak Shaila langsung menyerang sang pacar.
Keenan yang mendengar perkataan calon mertuanya itu terkejut. Dia tidak menceritakan apa yang mereka lakukan, tetapi lelaki di depannya bisa tahu.
"Kamu mengadu apa saja pada Daddy? Dasar laki-laki pengecut bisanya cuma ngadu. Laki-laki kok cepu!"
"Bukan dia yang bercerita, tapi orang suruhan Daddy yang selalu memberikan laporan tentang apa saja yang kamu lakukan di luar kampus dan rumah sakit. Jangan pernah menyalahkan orang lain sebelum tahu kebenarannya!" potong Nathan dengan tenang. "Masih tidak mau mengaku?"
Shania menundukkan kepalanya dalam. Gadis itu merutuki kebodohannya karena merasa aman melakukan segala sesuatu tanpa ada yang mengawasi, mengingat dirinya jauh dari orang tua dan keluarga.
Tak jauh berbeda dengan sang kekasih, Keenan pun menunduk malu. Merasa bersalah karena tidak berani meresmikan hubungannya dengan Shania sejak awal.
"Bagaimana? Sekarang mau menikah atau pisah?" Nathan memberi pilihan pada sang anak.
*
*
*
__ADS_1