Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 46


__ADS_3

"Kata tuan Keenan, baju-baju Non Shania disimpan di lemari ini. Apa saya salah dengar ya, Non?" Bi Iyem bingung sendiri karena kedua majikannya memiliki keinginan yang berbeda.


"Keenan sudah berangkat ke rumah sakit, Bi?"


"Sudah, Non. Sekitar satu jam yang lalu."


"Hhh, ya udahlah, Bi. Bibi sekarang boleh keluar." Shania turun dari ranjang lalu berjalan memasuki kamar mandi.


Shania terkejut karena kamar itu berbeda dengan sebelumnya yang manly sekarang lebih netral. Cat abu-abu yang dulu mendominasi sekarang sudah ganti warna putih. Saat keluar kamar mandi, gadis itu kembali dibuat terkejut dengan suasana kamar yang tadi ditempati selama tidur.


Beberapa bulan tidak masuk ke kamar ini, sudah mengalami banyak perubahan. Gadis itu merasa heran kenapa tiba-tiba isi kamar Keenan banyak mengalami perubahan. Dia segera turun untuk memuaskan rasa penasarannya.


"Bi! Bi Iyem!" panggil Shania seraya berjalan menuju bagian belakang rumah mewah itu, mencari keberadaan sang asisten rumah tangga yang sudah mengabdi belasan tahun pada Keenan.


Bi Iyem yang merasa ada yang memanggil pun berlari mendekati sumber suara.


"Saya, Non. Ada apa Non Shania panggil Bibi?"


"Bi, sudah berapa lama cat kamar utama diganti?" tanya Shania langsung tanpa basa basi lagi.


Bi Iyem terdiam tampak mengingat-ingat kapan tepatnya cat kamar sang majikan diganti.


"Sejak tiga bulan yang lalu, Non. Kata tuan muda, Non Shania tidak suka suasana kamar yang manly makanya tidak mau menginap lagi di sini. Jadi, tuan muda tanya ke Bibi warna apa bagusnya. Karena Bibi suka warna putih sama krem ya Bibi jawab itu saja. Maaf ya, Non, kalau Bibi ada salah," jelas Bi Iyem panjang lebar.


Shania meninggalkan Bi Iyem begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu merasa kesal karena Keenan dan Bi Iyem asal tebak aja tanpa mau bertanya langsung padanya.


Shaila tertidur sampai siang. Dia benar-benar kelelahan melayani sang suami yang memiliki kondisi fisik yang prima. Badannya benar-benar terasa sangat lelah luluh lantak karena digempur berulang kali dalam waktu satu malam.


"Bun! Bubun ... Bubun sakit ya? Kok belum bangun juga dari tadi." Bocah tiga tahun itu sedih melihat ibu sambungnya masih meringkuk di bawah selimut, padahal matahari sudah mulai tinggi.


Shaila tampak menggerakkan tangannya karena merasa tidurnya ada yang mengganggu. Badannya pegal semua, digerakkan pun terasa sakit semua. Istri Arshaka itu meringis saat bergerak terlalu cepat arena merasakan nyeri.


"Jam berapa sekarang?" tanya Shaila sambil duduk bersandar pada headboard.

__ADS_1


"Sudah siang, Bun. Azka 'kan baru pulang sekolah ini," jawab Azka seraya naik ke ranjang mendekati sang ibu sambung.


Tangan bocah kecil itu terulur mengecek dahi sang bunda. Anak itu penasaran apakah ibunya demam atau tidak karena sejak semalam tidur baru bangun siang hari. Azka tidak tahu jika ibunya itu tidur pagi hari.


"Tidak panas Kenapa Bubun tidur terus?"


"Azka sudah makan siang?" tanya Shaila mengalihkan pertanyaan.


"Kalau belum kita makan siang bersama, tapi Bunda ke kamar mandi dulu. Bagaimana?" lanjut Shaila dengan bujukannya.


Bocah yang masih duduk di bangku pendidikan usia dini itu mengangguk senang karena makan ditemani ibunya. Dia duduk di pinggir ranjang menunggu sang bunda keluar dari kamar mandi.


Mereka ke ruang makan dengan bergandengan tangan senyum mengembang di bibir ibu dan anak itu. Bagi yang tidak tahu mereka, pasti mengira Shaila adalah wanita yang melahirkan Azka. Jika dilihat dari tahun kelahiran keduanya, mereka memiliki selisih umur hanya lima belas setengah tahun.


"Bun, Mbak Rina belum masak loh. Azka bantuin Bubun masak, boleh?" Anak sambung Shaila itu menawarkan diri untuk membantu dan diangguki oleh wanita itu.


"Azka mau dimasakin apa?" tanya Shaila sembari melihat isi kulkas.


Shaila mengacungkan jempolnya tanda setuju. Kemudian, mengambil sayuran bahan baku capcay dan cumi-cumi. Wanita yang sebentar lagi memasuki usia sembilan belas tahun itu meminta sang anak untuk mencuci sayuran.


Azka dengan senang hati mengambil wortel dan sawi yang sudah diletakkan dalam wadah, agar mudah mencucinya. Selesai mencuci sayuran, bocah itu minta izin untuk memotong-motong sayuran. Shaila mengajari sang anak dengan telaten.


Baru selesai memotong sawi, Shaila meminta Azka untuk duduk manis di depannya. Setelah matang semua, istri Arshaka itu menghidangkan semua masakan di atas meja makan.


"Horee, kita makan masakan Bunda yang super enak!" teriak bocah itu sambil memukulkan sendok ke meja marmer di hadapannya.


"Ada apa ini, Azka?" Arshaka tiba-tiba muncul di belakang bocah tiga tahun itu.


Azka hampir menangis mendengar suara sang ayah yang tiba-tiba mengagetkannya. Air mata sudah berkumpul di sudut matanya, siap-siap tumpah dalam satu kedipan.


"Pak, sudah pulang? Apa tidak ada pekerjaan lagi?" tanya Shaila seraya mengambil tangan sang suami lalu mencium punggung tangannya.


Arshaka bergabung duduk mengitari meja makan setelah mencuci tangannya di wastafel. Laki-laki itu sengaja meluangkan waktu untuk pulang, ingin melihat keadaan sang istri yang tadi pagi dia tinggalkan begitu saja.

__ADS_1


"Pak lagi ... hufttt, susah memang kalau punya istri anak kec ...."


"Biar kecil begini juga setiap malam Bapak naikin. Dasar pedofil!" potong Shaila cepat dengan raut wajah kesal.


Azka bingung mendengar percakapan ibu dan ayahnya yang seperti Tom dan Jerry. Anak itu menatap dua orang dewasa itu secara bergantian dengan mimik penasaran.


"Azka, makan. Jangan bengong aja, lihat ayah dan bunda seperti melihat hantu," ujar Shaka mengingatkan sang anak.


Bocah tiga tahun itu langsung memakan nasinya dengan lahap. Dia memilih bungkam dari pada menghadap kemarahan sang ayah.


Setengah jam kemudian makan siang selesai. Azka langsung dibawa masuk ke kamarnya oleh Rina, sang pengasuh. Rina membantu anak asuhnya itu untuk mengerjakan PR-nya. Usai menidurkan majikan ciliknya. Mbak Rina bisa sedikit lega.


Sementara itu, Arshaka yang masih duduk menunggu sang istri selesai mencuci piring. Laki-laki itu kembali melayangkan protesnya karena merasa diabaikan. Shaka pun mendekat, lalu memeluk sang istri dari belakang.


"Sudah nggak sakit, 'kan?" bisik Shaka di belakang telinga sang istri.


Shaila awalnya malas menanggapi, tetapi saat melihat arah pandangan mata suaminya tersebut. Istri Arshaka itu langsung menjerit dengan tawa renyahnya, tangannya pun reflek mencubit perut sang suami.


"Dasar pedofil m3soom!"


"Jangan begitu! Selisih kita cuma lima tahun loh, lagian juga kita masih sama-sama masih muda. Kalau pedofil itu umur aku sudah kepala empat atau di atas tiga puluhan gitu." Shaka tidak mau disebut sebagai pedofil oleh istrinya.


"Baik, Pak!"


"Pak lagi, tidak bisakah kamu memanggil dengan sebutan lain? Padahal kemarin sudah bagus panggil Kak."


*


*


*


__ADS_1


__ADS_2