Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 38


__ADS_3

"Percayalah Shaila! Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun, kecuali rasa hormatku sebagai seorang adik ipar. Tidak lebih!"


"Karena begitu hormatnya Anda pada dia, sampai bisa membuat Anda mengurungkan niat untuk mencari saya. Hebat! Anda hebat sekali!" sindir Shaila telak, mengenai sudut hati dan pikiran Arshaka.


"I-itu ka- karena dia mengatakan daddy dan mommy tidak ada di rumah. Nomor mereka tidak ada yang dapat dihubungi." Baru kali ini sepanjang sejarah seorang Arshaka gagap menyahuti ucapan orang lain, apalagi seorang wanita.


Shaila terus menatap tajam pada sang suami. Dari matanya tampak jelas bahwa itu adalah tatapan penuh permusuhan. Ada bara amarah keluar untuk membentengi diri.


"Kalau tidak merasa bersalah, orang itu tidak akan gugup ketika menjawab pertanyaan. Hanya orang yang melakukan kesalahan yang bersikap lain dari biasanya."


Arshaka tertunduk merasa malu, merasa bersalah. Dia akui jika dirinya bersalah tidak bisa menolak Shania dengan tegas. Seandainya dia bisa bersikap tegas pada kakak iparnya itu, mungkin tadi malam bisa mengulangi kegiatan seperti malam sebelumnya.


Arghhh ... bodo! Bodo! Besok lagi kalau Shania telepon aku biarkan saja. Jika datang ke rumah biar Mbak Rina yang menemui.


Arshaka berjanji dalam hati saja, tidak berani mengatakan yang sesungguhnya pada sang istri. Cukup sampai di sini Shania dia izinkan menganggu dirinya dan membuat Shaila ingin meninggalkannya.


"Ayo, kita harus segera pulang atau si bocil akan tantrum sepanjang malam," ajak Arshaka dengan suara lembut agar kemarahan sang istri reda.

__ADS_1


Shaila akhirnya mengikuti sang suami menuju mobilnya. Arshaka membukakan pintu untuk Shaila, tak lupa laki-laki meletakkan tangannya di atas kepala sang istri untuk menjaga agar kepala sang kekasih halal tidak mengenai bagian atas mobil. Lelaki itu juga memasangkan seatbelt sang istri.


Ayah Azka itu mencuri satu ciuman di bibir sang istri saat menegakkan tubuhnya setelah memasang seatbelt. Shaila spontan memukul dada sang suami yang nakal itu dengan wajah ditekuk. Berbeda dengan wajah sang istri, Arshaka malah tertawa bahagia karena bisa mencuri ciuman dari sang istri.


"Dasar m3sum!"


Arshaka membawa istrinya pulang ke rumah karena tadi sang anak sudah berulang kali menghubungi memintanya membawa pulang sang ibu. Sepertinya bocah kecil itu memiliki mata batin, selalu saja tahu apa yang tengah terjadi pada ibu sambungnya. Berbeda dengan sang anak yang begitu mudah mengerti isi hati Shaila, sang suami tidak peka sama sekali.


"Sayang, kalau saya berhenti mengajar bagaimana? Minggu depan saya sudah ditempatkan di salah satu kantor pemkab. Sebenarnya mulai hari ini saya masuk ke kantor pendapatan, berhubung kamu menghilang saya minta izin," tanya Arshaka meminta pendapat sang istri, tak lupa menjelaskan alasannya.


"Terserah Bapak, 'kan Bapak yang menjalaninya. Gimana enaknya Bapak saja, toh selama ini aktivitas Bapak di kantor perpajakan, kuliah dan mengajar tidak terganggu. Jika aktivitas utama terganggu, ya kegiatan pendukung harus ditinggalkan." Shaila mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.


Tak butuh waktu yang lama untuk keduanya sampai di rumah. Hanya membutuhkan tiga puluh menit perjalanan saja. Arshaka heran saat mobilnya memasuki halaman, sudah ada sebuah mobil di carport.


"Tuh mantan Bapak sudah menunggu! Pantas saja wajahnya ceria sepanjang perjalanan pulang!" cibir Shaila seraya membuka pintu mobil tanpa menunggu dibukakan oleh sang suami.


"Cemburu nih, ceritanya? Kalau sayang dan cinta sama suami, suaminya dijaga Non. Jangan biarkan pelakor memiliki celah untuk mendekat!" bisik Arshaka sambil merangkul pundak sang istri..

__ADS_1


Shaila meronta ingin melepaskan belitan tangan sang suami di pundaknya, tetapi bukan dilepas sang suami malah mengecup pipinya. Istri Arshaka itu langsung mencubit pinggang sang suami karena kesal, berulang kali lelaki itu mencuri ciuman.


"Awwsss! Sakit, Sayang. Sini sun lagi biar ilang sakitnya!" Lagi-lagi Arshaka mencium Shaila tanpa permisi. Kali ini laki-laki itu tertawa puas karena sudah empat kali mencuri ciuman dari sang istri.


Tanpa suami istri itu sadari ada seseorang yang memperhatikan tingkah perbuatan mereka sejak turun dari mobil tadi. Orang itu adalah Shania. Gadis itu mengepalkan tangannya, menahan cemburu dan amarah.


Ghem!


Shania berdehem di belakang pasangan suami istri itu. Gadis itu memasang wajah ceria di hadapan adiknya, seperti biasa ingin dianggap malaikat oleh sang adik. Sungguh akting yang sempurna.


Shania ternyata menunggu kedatangan Arshaka sejak tadi. Gadis itu sudah menekan bel dan mengetuk pintu berulang kali, tetapi tidak ada yang membuka pintu. Jadi, dia memutuskan menunggu kepulangan Arshaka di mobil.


"Hai," sapa Shania dengan senyuman dibuat semanis mungkin.


Arshaka dan Shaila menoleh secara bersamaan ke sumber suara. Sebenarnya mereka sudah tahu kehadiran gadis itu, tetapi pura-pura tidak tahu.


"Eh, Kak Shania. Kok malah nunggu di mobil?" sahut Shaila dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Sayang, ayo cepet! Sudah nggak sabar nih, kangen berat dia satu malam nggak berkunjung," sela Arshaka dengan tampang tak berdosa.


__ADS_2