Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 74


__ADS_3

"Yah, kenapa rambut mamas sama adek beda?" tanya Azka, ketika sang ibu dan kedua adiknya baru saja tiba dari rumah sakit.


Ya, hari ini Shaila dan si kembar diperbolehkan pulang dari rumah sakit karena keadaan ibu dan anak itu sudah membaik. Arshaka dengan semangat membawa istri dan kedua anaknya pulang ke tempat tinggalnya.


"Hah?" Ayah tiga jagoan itu terkejut mendengar pertanyaan dari si sulung yang selalu penasaran dan ingin tahu.


Shaila yang juga mendengar pertanyaan itu pun mengulas senyum tipis. Dia tahu pasti sang suami juga tidak bisa menjawab pertanyaan kritis sang anak, sama seperti dirinya. Namun, istri Arshaka Mandala itu berpikir cepat agar tidak ada pertanyaan lain yang lebih memeras otak.


"Azka, Sayangnya bubun. Sini, Nak!" panggil Shaila dengan suara lembut, sehingga bocah umur empat tahun itu mendekati sang ibu meninggalkan box baby twins .


Perempuan itu ingin mengalihkan perhatian sang anak agar tidak terjadi keributan seperti biasa. Azka yang akhir-akhir ini sering mengamuk harus dihadapi dengan kepala dingin.


"Rambut seseorang itu tidak bisa sama. Mamas Azka itu sudah aktif, sering main-main di bawah terik matahari. Jadi, warna rambutnya bisa berubah seperti ini. Kalau adek sudah besar nanti juga terlalu aktif sepeti mamas, pasti akan berubah juga," jelas Shaila asal agar anak sulungnya itu tidak bertanya lagi.


Azka mengangguk mendengarkan penjelasan sang bunda. Bocah itu pun seakan upa dengan aktivitas yang tadi dia lakukan. Dia lari keluar begitu saja setelah menyentuh kaki kedua adiknya.


Arshaka mendekati sang istri lalu mencium kening dan puncak kepala Shaila.


"Terima kasih, Sayang Kamu memang istri dan ibu yang terbaik. Tidak salah aku menjeratmu saat itu," ucap Arshaka sambil memeluk sang istri, kemudian mengecup puncak kepalanya.


Shaila memutar bola matanya malas. Suaminya itu selalu saja mengeluarkan rayuan gombal. Sejak dirinya hamil laki-laki itu menjadi lebih peka dan perhatian, bahkan selalu meluangkan waktu untuk keluarga.


Kabar Shaila yang melahirkan terdengar di telinga teman-temannya juga rekan kerja Arshaka. Keluarga besar Wijaya dan Mandala yang mendengar kabar bahagia itu bergantian menjenguk baby twins. Kedatangan mereka tentu saja untuk mengucapkan selamat juga melangitkan do'a untuk keluarga kecil itu.


Setiap hari selalu saja ada kerabat atau teman yang mengunjungi rumah Arshaka, sehingga rumah itu selalu ramai. Walaupun begitu, Arshaka dan Shaila menerima kedatangan para tamunya dengan terbuka.


Sementara itu Shania yang mendengar kabar adiknya sudah melahirkan ikut bahagia. Namun, dia tidak bisa pulang ke Jogja karena saat ini sedang menjalani internship. Selain itu, kehamilannya yang sudah memasuki trimester akhir membuatnya tidak berani melakukan perjalanan jauh.

__ADS_1


"Kee, aku pengen banget gendong baby twins. Pasti mereka lucu dan gemesin," ujar Shania sendu.


"Tidak usah sedih, tidak sampai dua bulan lagi anak kita lahir. Apa kamu tidak suka dengan anak kita, hmm?"


"Jangan salah, Kee! Aku sudah tidak sabar melihat dan menggendongnya," sahut Shania seraya mengusap perut buncitnya.


"Shaila yanng masih muda dikasih anak kembar, sedangkan kita yang sudah dewasa dan mapan cuma dikasih satu," lanjut Shania merasa iri karena mengandung satu bayi saja.


Keenan mengusap rambut panjang sang istri penuh kasih.


"Seharusnya kamu bersyukur, sudah diberi kesempatan hamil dan memiliki anak. Di luar sana banyak wanita yang merasakan hamil, bahkan mereka rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk hamil," tutur laki-laki yang telah menikahi Shania secara paksa itu.


Shania langsung mendekap erat sang suami. Dia merasa malu karena tidak pandai bersyukur atas rejeki dan nikmat yang telah diterimanya.


"Astaghfirullah, maafkan aku yang telah kufur nikmat ini," ucap Shania lirih.


Keenan menghibur sang istri agar tidak bersedih lagi. Awalnya hanya berupa ciuman lembut tanpa nabsu, lama kelamaan berubah menjadi ciuman yang menuntut.


Shania yang juga sudah terbakar hasratnya akibat ciuman tadi pun hanya mengangguk mengiyakan, menyambut setiap sentuhan sang suami yang menghantarkannya terbang menuju nirwana.


Kita tinggalkan pasangan yang sedang memadu kasih.


Laras berlari kecil menuju ruangannya. Banyak pasien yang sudah menunggu dia untuk diperiksa. Sang perawat yang biasa mendampinginya bekerja sudah siap sedia di ruangannya.


"Sorry, Sus. Mobilku tiba-tiba mogok, nunggu taksi lewat gak ada. Taksi online lama menanggapi," cerocos Laras sembari meletakkan tasnya.


Setelah Laras duduk menenangkan diri, perawat mulai memanggil pasien untuk diperiksa, satu persatu sesuai nomor antrian.

__ADS_1


Dua jam kemudian, pasien sudah mulai sepi. Laras menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Gadis itu merasa lelah setelah memeriksa pasien dengan teliti. Tiba-tiba Rony muncul di ambang pintu ruangannya.


"Sudah mau Maghrib, istirahat dulu. Pasien juga maklum jam segini waktunya istirahat," ujar Rony mengingatkan sang kekasih, dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Laras..


Ya, sejak Keenan memintanya untuk menghabiskan masakan Laras. Mereka berdua merasa cocok dan memilliki sele ra yang sama. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan.


***


Dua bulan kemudian ....


Shaila tengah mempersiapkan keperluan baby twins untuk seminggu. Mereka akan ke Bandung untuk melihat bayi Shania.


Arshaka terpaksa menuruti kemauan sang istri yang terus merengek meminta untuk menjenguk sang kakak yang sudah melahirkan dua minggu yang lalu. Laki-laki yang telah memiliki tiga anak itu terpaksa menuruti keinginan sang istri demi kesejahteraan si Alif yang sudah puasa selama dua bulan.


Shaila menjanjikan akan memberi servis terbaiknya nanti di Bandung, jika sang suami mau diajak menengok bayi kakaknya. Mendengar akan mendapatkan servis terbaik, dengan semangat membara Arshaka menyetujui asalkan didampingi oleh dokter anak.


"Mas, bantuin dong! Masak mau enak sendiri. Tolong Mamas Azka itu diurus, Mbak Rina mengurus si kembar," teriak Shaila galak.


Sejak melahirkan Shaila menjadi lebih galak. Dia tak segan untuk memarahi siapa pun yang membuat ketiga anaknya menangis. Tak jarang sang suami kena omelannya yang kecepatannya seperti kereta api.


Dengan patuh, Arshaka melakukan apa yang dikatakan sang istri. Titah sang ratu tidak bisa diganggu gugat siapa pun juga dan harus dilaksanakan jika ingin telinganya nyaman. Walaupun begitu, Arshaka semakin mencintainya.


Tidak ada lagi Shaila yang bar-bar dan seperti anak kecil. Kini, istri kecilnya itu telah menjelma menjadi sosok ibu yang penuh kasih menyayangi anak-anaknya tanpa membedakan terlahir dari rahim siapa. Selain itu, di sela kesibukannya mengurus tiga anak, dia bisa melayani suami dengan baik.


Mereka berangkat ke Bandung menggunakan mobil yang dikendarai oleh sopir pribadi. Shaka duduk di depan bersama sopir, sedang Shaila memangku baby Zayyan di tengah bersama Azka dan Mbak Rina yang memangku baby Zahran. Di kursi paling belakang ada dokter anak dan baby sitter baru.


*

__ADS_1


*


Yuk mampir ke karyaku yang baru "Cinta Gila"🙏🙏🙏


__ADS_2