Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 66


__ADS_3

Tampak wanita cantik berwajah bule yang sangat familiar di depan Shaila. Tak lama kemudian, Azka pun ikut menyelinap di pintu dan sekarang berdiri di depan kedua wanita beda usia itu.


"Kak Grace? Ayo masuk, Kak!" Shaila membuka lebar pintu rumahnya agar sang tamu bisa masuk.


Awalnya wanita yang dipanggil Grace itu tertegun melihat perut buncit sang tuan rumah. Namun, akhirnya wanita berwajah bule itu pun mengikuti langkah kaki sang tuan rumah seraya tangannya mengusap kepala Azka penuh kasih. Ada binar kerinduan tampak dalam mata birunya.


"Bun, ini Onty yang teman ayah, 'kan?" tanya Azka sembari menarik daster sang ibu sambung.


"Iya, Sayang. Yuk, ajak onty makan siang sekalian!" sahut Shaila dengan senyum manisnya.


"Hmm," jawab Azka sambil menganggukkan kepala.


"Kak Grace, belum makan siang, 'kan? Kebetulan kita akan makan, yuk sekalian. Jarang-jarang loh ada kesempatan bisa makan bersama seperti ini," tanya Shaila sekaligus mengajak mantan istri suaminya untuk makan bersama.


Wanita yang telah melahirkan Azka itu pun mau tidak mau ikut bergabung mereka di ruang makan. Hanya ada dua piring yang terbuka, menandakan bahwa hanya ibu dan anak saja yang akan bersantap siang ini.


"Hmm, Shaka gak makan di rumah?" tanya Grace setelah ikut duduk bergabung mengitari meja makan.


"Oh, mungkin sebentar lagi dia pulang. Soalnya tadi bilang mau makan siang di rumah," jawab Shaila masih mengumbar senyumnya.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman dan berhenti di carport.

__ADS_1


"Bun, itu suara mobil ayah. Mamas mau sambut ayah," ucap bocah kecil umur empat tahun itu seraya berlari meninggalkan dua ibunya di ruangan itu.


"Ayaaahhhhhh...."


Suara bocah itu melengking memenuhi rumah minimalis itu, bahkan sampai ke gendang telinga kedua wanita yang sama-sama menjadi bagian hidup Arshaka. Yang satu masa lalu dan satunya lagi masa depan laki-laki yang saat ini sudah menjadi ASN itu.


Arshaka menggendong sang anak masuk dari pintu samping yang langsung menghubungkan dengan dapur sekaligus ruang makan. Tampak dua laki-laki kembar beda generasi itu sedang bercanda saat memasuki ruangan.


"Ehh, ada tamu. Aku tinggal sebentar ya, mau ...."


"Mas, tidak usah ganti baju dulu. Cuci tangan di kamar mandi sini aja. Jangan dibiasakan orang menunggu terlalu lama!" potong Shaila cepat.


Shaila tahu, suaminya itu sudah tidak mau lagi berhubungan dengan mantan istrinya. Namun, adanya Azka di antara mereka membuat mantan pasangan itu harus selalu berhubungan.


Tak butuh waktu lama untuk seorang Arshaka Mandala mencuci tangan dan membasuh wajahnya di kamar mandi. Lima menit kemudian, dia sudah bergabung bersama anak dan istrinya.


"Maaf, menunggu lama. Yuk, Mamas yang memimpin do'a kali ini," ujar Arshaka, membiasakan anak untuk berdo'a dalam setiap mengawali suatu pekerjaan.


Dengan patuh bocah berusia empat tahun itu mulai membaca do'a makan. Mereka berdo'a dengan khusyuk sebelum makan. Mereka juga tenang saat menikmati makan siang hasil masakan bumil yang rasanya luar biasa, sehingga membuat setiap orang yang memakannya ingin merasakan masakannya lagi.


Selesai makan siang, Shaila mengajak sang tamu yang kebetulan juga sahabat sang kakak, untuk duduk di ruang keluarga saja agar lebih rileks untuk berbicara. Sementara mereka bertiga akan berbicara serius, Azka dibawa masuk kamar oleh sang pengasuh.

__ADS_1


"Sebelumnya aku minta maaf karena mengusik ketenangan kalian. Namun, dengan berat hati aku sampaikan ...." Grace menghentikan ucapannya karena sudah tidak bisa menahan tangis yang sudah dia bendung sejak tadi.


"Kak Grace?"


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa terharu kalian masih mengizinkan aku masuk ke rumah ini, bahkan sampai menjamu," sahut Grace merasa sungkan.


Shaila menghela napas lega karena kedatangan Grace bukanlah mengajak onar seperti dugaannya. Maraknya kejahatan di masa sekarang membuat istri muda Arshaka itu selalu merasa khawatir, takut sang anak ikut orang lain.


"Sebenarnya apa tujuan kamu ke sini? Kenapa bicaranya dari tadi mutar-mutar saja?" cecar Arshaka yang kelihatan sudah sangat kesal.


"Aku ingin ikut mengasuh Azka. Izinkan aku mendekati darah dagingku sendiri. A-aku ingin mengambil hak asuh Azka," ucap Grace dengan terbata, mengumpulkan segenap keberaniannya.


Arshaka yang mendengar ucapan mantan istrinya itu pun menjadi sangat marah, awalnya kesal karena sang mantan berbelit-belit dalam berbicara. Kejadian ini sudah dia prediksi sebelumnya. Suatu saat nanti, Grace akan datang padanya untuk mengambil alih sang anak.


Untuk mengantisipasi hal itu, Arshaka sudah mengumpulkan semua saksi juga dokumen yang menyudutkan sang mantan jika ingin menguasai anaknya. Walau bagaimanapun juga dia tidak ingin berpisah dengan sang anak. Ditambah lagi, mantan suami Grace itu yang mengasuh sang anak.


"Apa aku tidak salah dengar kamu ingin mendapatkan hak asuh Azka? Dia baru lahir saja sudah kamu tinggal minggat. Sekarang setelah anak itu besar kamu dengan seenaknya datang meminta hak asuh anak itu."


"Kamu di mana saat Azkara bayi kelaparan dan kehausan? Kamu di mana saat Azkara demam tengah malam, semua apotik dan praktek dokter sudah tutup? Ka- ...."


"Cukup, Shaka! Aku tahu, aku bersalah. Apakah tidak ada maaf untukku?" potong Grace dengan air mata mengalir deras di kedua pipinya.

__ADS_1


Wanita berambut coklat itu turun dari sofa, lalu bersimpuh di kaki Arshaka. Memohon kebaikan mantan suaminya itu mengabulkan permintaannya, walau Grace tahu bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang dicintainya.


"Mas, apa tidak sebaiknya kita beri kesempatan pada Kak Grace untuk menebus kesalahannya. Sebagai umat manusia kita juga sering khilaf. Bagaimana, Mas?"


__ADS_2