
"Menikah."
"Pisah."
Keenan dan Shania menjawab secara bersamaan dengan jawaban yang berbeda, sehingga membuat Nathan menaikan satu alisnya. Ayah Shania dan Shaila itu pun menjadi curiga mendengar keputusan sang anak.
"Kalau kamu tidak mau menikah dengan Dokter Elard, kamu mau menikah dengan siapa?" tanya Nathan langsung mumpung Keenan masih ada.
Shania bingung menjawab apa. Perasaan dan pikirannya masih abu-abu. Gadis itu masih labil, saat melihat perlakuan Arshaka yang begitu romantis pada adiknya dia cemburu dan menginginkan laki-laki yang sama dengan sang adik. Saat bersama Keenan, sikap manis pemilik rumah sakit itu membuat dia tidak ingin kehilangan.
"Aku masih mencintai cinta pertamaku, Dad. Aku ingin kembali bersamanya untuk menebus rasa bersalahku karena dulu meninggalkan dia begitu saja tanpa perasaan." Shania akhirnya menjawab pertanyaan sang ayah dengan kepala tertunduk menyembunyikan wajahnya.
Seperti dugaan sang istri, Shania masih menginginkan suami adiknya itu. Entah apa salah Shaila, sampai Shania begitu tega ingin menghancurkan rumah tangga sang adik. Atau dirinya sebagai orang tua salah dalam mendidik anak-anaknya.
Keenan tercengang mendengar jawaban dari wanita pujaan hatinya. Sungguh dia tidak menyangka jika hanya dijadikan ban serep oleh anak didiknya sendiri. Untuk itu dia bersumpah akan membuat seorang Shania Azzahra bertekuk lutut padanya, juga bucin setengah mati pada laki-laki yang dijadikan cadangan itu.
Laki-laki itu diam memikirkan apa yang dapat menyatukan dia dengan wanita yang dicintainya. Apapun yang terjadi Keenan harus mendapatkan Shania untuk membungkam kesombongan gadis berambut sebahu itu.
__ADS_1
Suasana ruang tamu itu senyap karena ketiga orang itu tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Nathan sedang memikirkan cara agar si sulung tidak menganggu si adik. Berbanding terbalik dengan sang ayah, Shania memikirkan agar bisa putus dengan Keenan.
"Maaf, Dokter Nathan. Kami sudah melakukan terlalu jauh. Jadi, izinkan saya bertanggung jawab atas putri Anda," ujar Keenan tiba-tiba membuat hati pria pauh baya bagaikan ditikam belati.
"Bohong! Jangan percaya dia, Dad! Kami tidak pernah melakukan hal yang dilarang agama," bantah Shania cepat, gadis itu tidak terima difitnah begitu saja oleh sang kekasih.
Keenan tampak sedang memainkan jari-jarinya pada gawai yang baru saja diambil dari saku celana. Beberapa menit kemudian, dia menyerahkan gawainya pada Nathan. Agar ayah sang kekasih melihat sendiri foto yang tersimpan dalam galeri seorang Keenan Elard Guinandara.
"Besok saya tunggu kedua orang tua kamu di rumah ini! Paling lambat jam sembilan harus sudah berada di sini," ujar Nathan pada Keenan.
"Baik, Dokter. Saya akan hubungi mereka sekarang juga!" Keenan menjawab dengan antusias, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Mulai malam ini sampai besok sore, jangan pernah melangkahkan kaki kamu keluar dari rumah ini. Mengerti kamu Shania?"
"Ada apa, Dad? Apa yang Daddy lihat tidak seperti yang ...."
"Daddy kecewa padamu, Shania. Sekarang kamu masuk ke kamar kamu. Ingat jangan pernah mencoba kabur dari rumah!" bentak Nathan dengan wajah kecewanya.
__ADS_1
Shania meninggalkan ruang tamu dengan menghentakkan kakinya kesal. Sebelum meninggalkan ruangan itu, dia menatap tajam pada laki-laki yang saat ini masih menjadi kekasihnya itu. Sorot matanya menyiratkan kebencian pada Keenan.
"Maafkan saya, Dokter Nathan. Saya terpaksa melakukan ini agar tidak kehilangan putri Anda. Walaupun dia memiliki perangai buruk, saya tetap mencintainya. Saya berjanji akan mengubah dia menjadi pribadi yang lebih baik dari saat ini."
Keenan menatap Nathan dengan perasaan bersalah. Sebenarnya dia tidak ingin berbuat curang untuk mendapatkan Shania. Namun, melihat gelagat sang kekasih yang kurang baik, dia pun harus mengambil keputusan ini.
Memang keduanya belum pernah kebablasan dalam pacaran. Hanya sekedar pelukan dan ciuman, tetapi menurut Keenan itu sudah merupakan dosa. Apalagi dialah yang pertama kali menyentuh Shania, untuk itu dia merasa harus bertanggung jawab.
Laki-laki manapun tidak akan mau menerima wanita bekas laki-laki lain, walaupun itu bekas ciuman sekali pun. Dengan menjadikan Shania sebagai istrinya, Keenan berharap bisa menggugurkan dosanya selama berpacaran.
Keenan pamit undur diri setelah Shania sudah memasuki kamarnya dengan membanting pintu sampai suaranya terdengar di ruang tamu. Nathan kembali mengingatkan agar Keenan datang bersama orang tuanya sebelum jam sembilan pagi.
Sementara itu, Shania di dalam kamarnya sedang mengamuk dengan menyerakkan semua barang yang ada di meja. Gadis itu berteriak menyalurkan amarahnya yang bergejolak.
"Awas saja kamu Keenan! Jangan harap aku mau memaafkan kamu!" teriak Shania.
Nathan bergegas menuju kamar anak sulungnya begitu Keenan meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
"Apa kamu sudah gila, Shania?"