
"Tapi apa, Shania?"
"Aku masih ingin bebas. Aku belum ingin terikat. Aku tidak ingin seperti adikku yang kehilangan kebebasannya setelah menikah," ungkap Shania dengan suara terbata takut sang kekasih murka.
"Kamu akan tetap bisa mendapatkan kebebasan kamu walaupun kita menikah nanti. Asalkan kamu tidak lupa status kamu aja dan pura-pura tidak tahu apa kewajiban kamu," sahut Keenan dengan tenang.
Shania bingung harus mencari alasan apa lagi agar sang kekasih mengurungkan niatnya untuk menikahinya dalam waktu dekat ini. Dulu gadis itu melakukan berbagai cara agar Keenan jatuh cinta padanya. Kini, saat dosen juga pemilik rumah sakit itu sudah dimabuk cinta, dia ingin melepaskan Keenan begitu saja.
Tak ingatkah betapa susahnya dia mendapatkan cinta dari Dokter Keenan yang saat itu menjadi dosennya. Keenan, type laki-laki yang tidak mudah untuk jatuh cinta. Sikapnya yang dingin dengan wajah datar yang banyak digilai oleh para mahasiswi di kampus itu.
Dari sekian banyak wanita yang mencoba mendekati Keenan, hanya Shania yang akhirnya bisa mendapatkan hati seorang Keenan Elard Guinandra. Namun, sayangnya Shania tidak benar-benar mencintai Keenan. Gadis itu mendekati hanya ingin membuktikan bahwa dirinya bisa menggaet laki-laki seperti Keenan yang ganteng, mapan, kaya serta memiliki otak cerdas.
Shaila malam ini tidak keluar kamar sama sekali sejak kejadian tadi sore. Azka pun mencari ibu sambungnya dan masuk ke kamar orang tuanya. Bocah tiga tahun itu tampak sedih saat melihat sang ibu meringkuk di bawah selimut tebal.
"Bubun kenapa? Kata ayah, Bubun sakit. Sakit apa?" tanya bocah kecil itu seraya naik ke ranjang ikut berbaring di dekat Shaila.
"Bubun gak apa-apa, Sayang. Hanya kecapekan habis jalan-jalan tadi siang. Memang Azka nggak capek?" jawab Shaila tersenyum manis dan balik bertanya pada sang anak.
"Hmm, capek sih. Tapi, masih mau main-main lagi." Anak kecil itu super sekali, sudah seharian aktif bermain tetapi masih ingin bermain lagi, padahal waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam.
"Azka! Ini udah malam, waktunya tidur. Jangan ganggu Bubun yang mau istirahat!" ucap Arshaka yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
__ADS_1
Bocah kecil itu langsung menundukkan kepala begitu mendengar suara tegas sang ayah. Niat hati mendatangi kamar itu hendak mengajak sang ibu bermain, urung seketika.
"Iya, Ayah. Azka mau tidur sama Bubun, boleh?"
"Boleh saja! Kenapa tidak boleh, hmm?" jawab Shaila cepat, dalam hatinya bersyukur karena lagi-lagi anak sambungnya itu menjadi dewa penolong bagi dia.
Arshaka yang hendak melarang sang anak tidur di kamarnya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sang istri yang begitu menyayangi Azka membuat hatinya tersentuh. Wanita yang dicintai dalam diam itu kini telah menjadi candu.
Azka masuk ke dalam selimut tebal berwarna abu-abu itu. Tangan kecilnya memeluk pinggang ramping sang ibu sambung. Bocah itu tidur dengan posisi menguasai tempat tidur, sehingga sang ayah tidak mendapat tempat.
"Tidur posisinya yang bener, Azka! Atau kamu tidur di kamar kamu sendiri," titah Arshaka penuh ancaman, membuat anak kecil itu menggeser badannya agar menempel sang ibu.
"Shai, aku ingin bicara sebentar. Bisa?" tanya sang suami tetapi tidak mendapat tanggapan sama sekali dari sang istri.
Arshaka akhirnya pun melepaskan tangannya yang mendarat dengan apik di pinggang sang istri. Dia tahu sang istri masih marah sehingga tidak mau bersentuhan dengannya. Laki-laki itu terlentang merenungi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan selama menikah dengan Shaila.
"Maaf jika saya terkesan cuek dan tidak perhatian sama kamu, Shai. Semua karena saya masih sibuk dengan urusan pekerjaan. Sebenarnya tadi siang saya ingin mengajak kamu makan siang di luar. Nggak tahunya kamu sedang ketemuan sama Grace. Saya takut dia mempengaruhi kamu agar meninggalkan saya.
Itulah alasan saya nekat mengambil hak saya tadi sore. Saya tidak ingin ditinggalkan oleh kamu. Saya ingin kita menua bersama dengan bahagia. Saya juga berharap kita berjodoh sampai di akhirat kelak," ungkap Arshaka lirih, berharap sang istri masih mendengarkannya.
"Saya minta maaf karena memaksa kamu untuk melayani saya. Kamu pasti sakit sekali, sakit hati juga sakit badan. I'm so sorry," lanjut Arshaka dengan suara serak menahan tangis karena merasa bersalah.
__ADS_1
Shaila yang mendengar ungkapan hati sang suami merasa trenyuh. Akan tetapi, dia tidak bisa membenarkan cara Arshaka mengambil haknya dengan cara memaksa. Walaupun memperlakukan dirinya dengan lembut, tetap saja gadis itu belum siap menyerahkan harta yang telah dijaga seumur hidupnya.
Istri kedua Arshaka Mandala itu memejamkan mata dan tak lama kemudian sudah mengarungi lautan mimpi di pulau bantal. Sang suami, Arshaka memeluk istri kecilnya dari belakang dengan posesif. Seolah-olah jika pelukannya terlepas Shaila akan hilang.
Takut kehilangan tetapi tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Rasa cintanya yang berlebih pada sang istri membuat Arshaka tidak bisa mengekspresikan dirinya secara positif. Akhirnya, selalu terjadi salah paham di antara mereka.
Si suami tidak ingin jauh sedetik pun dari si istri tetapi sang istri terlalu polos dalam urusan cinta. Apa yang keluar dari mulutnya hanya sebatas ucapan iseng untuk dunia mereka.
Shaila terbangun saat suara terakhim (mengaji-ngaji) di masjid mulai terdengar sayup-sayup. Ada tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya. Perlahan sekali wanita itu memindahkan tangan sang suami yang memeluknya tanpa izin darinya.
Wanita itu terbangun karena kantung kemihnya mulai terasa penuh. Shaila bergegas ke kamar mandi begitu terlepas dari belitan tangan kekar sang suami. Inti tubuhnya sudah tidak sesakit kemarin sore.
Shaila tak membutuhkan waktu lama, dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe seperti kemarin sore. Dia memang begitu ceroboh dalam bertindak, tetapi Arshaka malah cinta. Wanita itu mengambil satu stel baju ganti lalu melesat ke kamar mandi kembali untuk mengganti pakaiannya
Seperti biasa selepas sholat subuh, Shaila bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan untuk suami dan anak sambungnya. Setelah selesai memasak dan menyiapkan sarapan di atas meja makan, wanita cantik usia delapan belas tahun itu langsung masuk ke kamar. Tampak sang suami sudah memakai baju kerja yang tadi disiapkan di atas kursi tolet.
Saat sang suami turun untuk sarapan, diam-diam Shaila memasukkan sebagian bajunya ke dalam ranselnya. Wanita itu memutuskan untuk menyendiri terlebih dahulu. Dia merasa belum bisa menerima kejadian kemarin sore sepenuhnya.
Shaila menggendong ranselnya yang berisi laptop dan beberapa buku kuliah. Dengan wajah ceria ibu sambung Azka bergabung di meja makan bersama suami dan anaknya.
"Kenapa bawa ransel? Mau kemana kamu?" tanya Arshaka dengan alis bertaut.
__ADS_1