
Sebulan sudah pernikahan Keenan dan Shania, selama itu juga Shania belum bisa menerima Keenan sebagai suaminya. Walaupun mereka tinggal satu rumah dan tidur satu ranjang, keduanya tidak pernah melakukan sentuhan fisik dalam keadaan sadar.
Saat akan tidur pun keduanya berbaring sambil saling membelakangi. Namun, saat tengah malam mereka tidak sadar saling berpelukan. Adanya pembatas guling dan bantal tidak mempengaruhi sama sekali.
Bantal dan guling yang diletakkan di tengah-tengah kasur akan menjadi bola bagi pasangan pengantin baru itu. Selama satu bulan ini, belum pernah Shania bangun lebih cepat dari sang suami. Walaupun begitu, Keenan tidak mempermasalahkan hal itu.
Shania yang selalu bangun lambat membuat Keenan memiliki kesempatan untuk mencicipi bibir ranum sang istri tanpa takut kena marah. Shania yang tidurnya seperti orang mati itu tidak terusik sama sekali setiap suaminya mencuri ciuman.
"Sayang, nanti malam ada acara gala dinner yang dihadiri oleh beberapa tenaga medis dan farmasi se-Jabotabek. Kamu ikut ya, dampingi aku," ucap Keenan saat sarapan.
Pagi ini Shania adalah jatah Shania piket menjaga unit gawat darurat. Oleh karena itu dia bangun pagi, walau tidak sepagi Keenan.
"Nggak punya baju buat ke acara itu," jawab Shania sekenanya karena males diajak pergi bersama, takut tidak bebas.
"Ada, sudah aku siapkan. Nanti siang bajunya diantar kurir. Dikirim ke rumah sakit atau ke rumah saja?" tanya Keenan dengan sabar.
"Terserah." Shania menjawab sambil berjalan meninggalkan sang suami.
Keenan selalu bersabar menghadapi sifat sang istri yang keras kepala. Wanita itulah adalah tulang rusuk yang bengkok. Diluruskan dengan keras dia akan patah, tidak diluruskan dia akan tetap bengkok. Untuk itulah kesabaran dibutuhkan dalam meluruskan yang bengkok tadi.
Itulah yang dilakukan oleh Keenan bersabar dalam menghadapi sang istri bukan berarti tidak bisa berbuat tegas. Walaupun Shania terus merengek minta untuk tinggal di kos, buktinya dia tetap tinggal bersama Keenan. Oleh karena sabar bukan berarti lembek, tidak bisa tegas pada sang istri
Tegas dan bersabar itu berbeda. Jika seorang lelaki bersabar menghadapi istrinya bukan berarti tidak tegas.
Malam harinya, Shania mendampingi sang suami menghadiri acara gala dinner itu dengan wajah ditekuk. Keenan tidak menuntut sang istri untuk mengumbar senyum pada rekan-rekan sejawatnya. Laki-laki itu hanya mengingatkan untuk bersikap baik pada suami, karena suami adalah pakaian seorang wanita.
"Malam, Dokter. Apa kabar nih, sudah lama tidak bertemu?" sapa salah seorang tamu undangan dari luar kota.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik. Dokter Jordan sendiri apa bagaimana kabarnya?"
Mereka berdua saling menanyakan kabar dan kegiatan apa saja akhir-akhir ini. Keduanya aling memuji keberhasilan dan berbagi tips dalam mengelola usaha. Mereka saling bercengkrama, bahkan ada rekan lain yang ikut bergabung.
Shania yang merasa jenuh di antara para dokter senior itu, meminta izin sang suami untuk mengambil minuman dan kudapan yang telah disediakan di atas meja. Namun, baru beberapa langkah berjalan menjauh dari sang suami, ada seorang pelayan yang membawa nampan berisi beberapa gelas, satu masih terisi penuh. Malas untuk mendatangi meja, gadis itu pun mengambil gelas itu dan mulai menyesapnya.
Tak berapa lama, Keenan memisahkan diri dari para rekannya karena juga merasa haus. Dia ingin menyusul sang istri karena tidak tega melepaskan sang istri sendirian di keramaian malam ini, walau dalam ruangan. Baru beberapa langkah dia sudah melihat sang istri menyesap minuman berwarna merah.
Laki-laki itu mendekati sang istri. Tanpa bertanya atau berkata apa-apa, Keenan mengambil gelas di tangan sang istri dan ikut menikmati minuman itu.
"Kee ...," rengek Shania karena minuman di tangannya tinggal separuh. Bibir gadis itu mengerucut tidak rela minumannya diserobot begitu saja, padahal dia baru minum sedikit.
Keenan hanya nyengir dan menempelkan gelas itu ke mulut sang istri agar meminumnya.
"Minta sedikit aja masa nggak boleh. Nih habisin, setelah itu kita ke sana ambil makan. Kamu sudah lapar, 'kan?"
Selesai makan, Keenan merasakan aneh pada tubuhnya. Dia merasakan kegerahan pada AC di ruangan itu tadi cukup dingin. Laki-laki itu sudah mulai berkeringat dan gelisah.
Tidak jauh berbeda dengan sang suami, Shania pun merasakan hal yang sama dengan sang suami. Gadis itu mulai mengusap tengkuknya dan menggeser duduknya agar lebih dekat dengan sang suami.
Keenan pun merasa curiga jika mereka berdua telah mengkonsumsi obat perangsang, karena sejak tadi apa yang mereka makan dan minum berasal dari tempat yang sama.
Dokter muda itu langsung membawa sang istri pulang. Dia tidak ingin mereka berdua lepas kendali dan menghancurkan nama baik mereka nantinya.Shania yang minum lebih banyak dari pada Keenan sudah seperti cacing kepanasan.
Keenan mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan walau sang istri terus merengek minta disentuh. Dia melajukan mobil degan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah. Namun, saat baru saja memasuki gerbang perumahan, Shania sudah membuka bajunya.
Keenan pun menepikan mobilnya sebentar untuk membetulkan baju sang istri.
__ADS_1
"Sabar, jangan seperti ini! Sebentar lagi kita sampai," ucap Keenan dengan suara serak penuh g4ir4h, karena dia pun sama di bawah pengaruh obat yang sama dengan sang istri.
"Siyal! Siapa yang berani melakukan ini? Aku harus menindaknya cepat!" gumam Keenan seraya kembali melajukan ke rumah yang sudah tidak jauh lagi.
Begitu memasuki pagar rumahnya, Keenan langsung menghubungi asistennya untuk melihat CCTV ballroom hotel tempat acara gala dinner tadi. Dia memerintahkan sang asisten untuk mencari dalang dibalik minuman itu.
"Panas! Sentuh aku, Kee!" Shania terus meracau dengan tangan meraba dada bidang sang suami.
"Sebentar lagi, sabar dulu. Aku masih mencari siapa pelakunya," ucap Keenan, selanjutnya dalam hati. "Aku akan berterima kasih karena telah membantuku memiliki kamu seutuhnya walau kamu tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya."
Keenan menggendong sang istri ala bridal style masuk ke dalam kamarnya. Begitu sampai di dalam kamar, Shania sudah tidak kuat lagi menahan nabsunya. Gadis itu merobek bajunya lalu mendekati sang suami yang melepas jas.
Melihat sang istri yang sudah dipenuhi kabut g4iir4h, Keenan pun buru-buru membuka kemejanya. Dua insan yang sama-sama dalam pengaruh obat laknat itu akhirnya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Menyalurkan rasa pada pasangan halal.
Sementara itu di Jogja, Shaka kena usir dari kamar sendiri oleh sang istri. Tiba-tiba saja, istri mudanya itu tidak mau didekati. Aneh memang, tadi sore nangis-nangis minta ditemani nonton televisi, giliran malam mau tidur kena usir.
"Pergi, kamu bau sekali!"
"Aku barusan mandi, Sayang. Bau wangi ini loh."
*
*
*
__ADS_1