
Shania terdiam mendengar pertanyaan yang ayahnya lontarkan barusan. Sakit, saat ayahnya mengatakan dirinya gila hanya karena tidak mau menikah dengan Keenan. Lebih sakit lagi, sang ayah lebih percaya pada orang laing dari pada dirinya yang merupakan darah daging sendiri.
Dalam hati kecilnya, Shania merutuki sang ayah. Kekesalan hatinya berubah dendam atas perlakuan sang ayah. Belum pernah sekali pun ayahnya memarahi dia dan Shaila.
Sekarang, hanya mendengar cerita dari sang dosen yang mengaku sebagai kekasihnya, dan melihat beberapa foto kedekatan mereka. Sang ayah langsung percaya begitu saja tanpa bertanya terlebih dulu padanya.
"Asal kamu tahu! Shaila menikah bukan atas kehendaknya. Semua itu sudah menjadi jalan hidup, terserah kamu menilainya seperti apa. Daddy hanya ingin anak-anak Daddy jauh dari dosa. Jika sudah ada laki-laki yang bertanggung jawab meminta untuk mengambil alih tanggung jawab Daddy pada kalian, maka Daddy akan menikahkan kalian. Tidak ada pilih kasih, semua sama menurut Daddy."
Nathan meninggalkan kamar Shania yang berantakan setelah mengeluarkan semua pendapatnya yang dirasa benar menurut agaman.
"Oh iya, satu lagi. Daddy menikahkan Shaila dan Arshaka karena laki-laki itu sangat mencintai adikmu. Jadi, jangan pernah iri pada adikmu sehingga berniat merebut suaminya." Nathan kembali mengingatkan anak sulungnya sebelum benar-benar meninggalkn kamar itu.
Pagi harinya, rumah Nathan sudah kedatangan keluarga kakak kembar dan adiknya. Mereka datang karena tadi malam Nathan mengabari kedua saudaranya tersebut.
"Nathan, Nathan, punya hajat selalu dadakan. Punya mantu lanang dua, sama-sama dosen anak-anaknya. Bisa kebetulan begini sih?" ujar Nicholas kembarannya.
"Ini nih yang dinamakan jerat cinta pak dosen! Dua-duanya masuk perangkap cinta pak dosen. Hadeehhh .... jadi pengen ketawa aku," sahut Raka sang adik ipar menimpali.
Mereka berbincang bersama dan tertawa bersama sembari menunggu kedatangan pak penghulu. Keluarga mempelai laki-laki sendiri sudah sampai sejak jam delapa tadi. Kini waktu sudah menunjukkan jam sembilan kurang sepuluh menit tetapi penghulu dan petugas KUA belum datang juga.
"Sudah nggak bener ini! Janji sampai di sini jam setengah sembilan biar pas pengucapan ijab jam sembilan pas, sepertinya harus mundur." Nicholas sengaja mengompori kembarannya dengan berkata demikian.
Tak lama setelah itu, petugas KUA dan penghulu datang. Petugas KUA itu mengecek kelengkapan berkas karena mereka menikah secara dadakan. Awalnya Shania dan Keenan akan dinikahkan secar siri saja, tetapi orang tua Keenan minta langsung resmi agama dan negara biar aman.
__ADS_1
Kelengkapan surat-surat telah terpenuhi. Tinggal mengisi data pada formulir dan buku nikah kedua mempelai. Saat sang penghulu menikahkan kedua mempelai, petugas KUA itu mengisi formulir dan buku nikah. Terakhir menempelkan pas foto di buku nikah.
Acara berjalan lancar tanpa halangan, hanya mempelai wanita yang wajahnya tampak cemberut dan sembab matanya karena terpaksa menjalani pernikahan. Gadis itu terpaksa menikah atau dia akan bernasib sama dengan sang ibu. Tidak mendapatkan sepeser pun harta orang tua.
Selain itu kuliahnya terancam putus kalau tidak mau dinikahkan hari ini. Ancaman Nathan tidak main-main. Tidak mau menikah dengan Keenan berarti gugur semua halnya sebagai anak di rumah itu.
Berhenti uang bulanan, baik uang kuliah maupun uang jajan. Selain itu dia juga harus angkat kaki di rumah besar itu tanpa membawa barang apapun hasil keringat orang tua. Oleh karena itu, mau tidak mau Shania harus menikah dengan dosennya.
Shaila bersama suami dan anak sambungnya datang ke acara pernikahan sang kakak. Melihat sang kakak yang menatap penuh kebencian padanya membuat istri Arshaka itu menaruh curiga. Ada rencana di balik kesediaannya untuk menikah dengan sang dosen hari ini.
Rasa curiganya dia pendam sendiri dalam hati. Shaila mengikuti sang suami yang berjalan di depannya hendak bersalaman dengan kedua mempelai.
"Cepat banget jalannya, Pak. Sudah tidak sabar ya memeluk sang mantan," sindir Shaila dengan tatapan mata ke arah sampingnya.
Arshaka langsung berhenti dan berbalik arah dengan tiba-tiba, begitu mendengar sang istri yang tampak cemburu.
Arshaka tersenyum melihat sang istri yang sepertinya sudah mulai mencintainya, terbukti sudah mulai cemburu.
"Mana yang sakit, hmm? Atau mau digandeng biar tampak mesra?"
Bibir Shaila mengerucut mendengar pertanyaan sang suami yang terkesan berlebihan menurutnya. Melihat bibir sang istri yang maju, tanpa membuang waktu lama Arshaka langsung menyambar bibir berwarna pink itu. Memagut dan menyesapnya sebentar.
Kelakuan Arshaka tak luput dari pengamatan pengantin baru yang sedang duduk di pelaminan. Gigi Shania bergemeletuk melihat kejadian itu. Arshakanya yang dulu sangat kaku tidak seperti sekarang yang sangat romantis pada sang istri.
__ADS_1
Shaila memukul dada sang suami yang mesoom. Tingkat k3m3suman sang suami meningkat seribu persen setelah mengutarakan niatnya untuk segera memiliki anak darinya.
Arshaka menggandeng sang istri di sebelah kanannya sedangkan Azka sudah duduk manis bersama sang nenek dan kakek sambungnya tak jauh dari pelaminan.
Pasangan muda itu mengucapkan selamat dan do'a untuk kebaikan kedua mempelai dalam mengarungi lautan rumah tangga.
"Seharusnya yang berdiri di sampingku itu kamu, bukan Keenan," bisik Shania saat Arshaka menyalaminya.
Arshaka terkesiap mendengar bisikan mantan pacar yang kini telah menjadi kakak iparnya itu. Sungguh dia tidak menyangka sang mantan berani mengatakan hal itu. Untung saja Keenan sedikit menjauh dan tidak mendengar suara sang istri yang masih berusaha menggoda sang mantan.
"Sayang, ayo!" Shaila menarik tangan sang suami begitu saja tidak peduli apakah kedua mempelai tersinggung atau tidak.
"Lanjutkan perjuanganmu untuk mendapatkan kembali sang mantan. Biar aku duduk melihat drama segitiga," ujar Shaila begitu mereka menjauh dari pelaminan.
Melihat gelagat sang istri yang masih cemburu pada kakaknya sendiri, Arshaka memutuskan mengajak sang istri meninggalkan kediaman sang mertua.
"Kita mau kemana, Pak? Ini bukan jalan menuju rumah Bapak," tanya Shaila saat mobil melewati jalan kosong yang kanan kirinya hanya terpapar.
"Kita perlu waktu untuk berdua saja."
Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di tempat yang sangat sepi. Kanan kiri jalanan masih terhampar sawah menghijau. Suasana terasa lebih dingin dari sebelumnya, saat mereka tiba-tiba terdiam karena bingung.
Arshaka mulai berbicara, mengutarakan apa yang menjadi ganjalan hatinya. Laki-laki itu melihat sang istri hanya terdiam seribu bahasa. Hal ini menjadi kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada sang istri.
__ADS_1
Kali ini adalah penjelasan Arshaka pada anak istri ke sekian kalinya.
Sepeninggal Arshaka dan Shaila dari rumah orang tuanya, semua tamu undangan pun ikut pamit. Pasangan pengantin baru itu pun masuk ke dalam kamar setelah tamu tidak ada lagi.