Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 60


__ADS_3

Akhirnya Arshaka memilih mengunci mulutnya rapat-rapat dari pada sang istri mengeluarkan mode singanya. Dia tidak habis pikir kenapa setelah dinyatakan hamil, istri kecilnya itu sekarang mudah sekali marah dan menangis. Sebelum hamil, istrinya itu sangat lemah lembut pada dia walau tomboi.


Sesampainya di rumah, ayah muda itu mengajak sang istri untuk mencuci tangan dan kaki karena pasar yang mereka kunjungi tadi sangat kumuh. Tidak peduli jika nanti kena tatapan mematikan dari sang istri. Dia hanya ingin dirinya dan sang istri bersih dari kuman.


"Maasss ...," desis Shaila lirih sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba melilit.


Belum juga sang suami mendekat, ibu muda itu langsung berlari ke kamar mandi yang ada di dapur. Perutnya mulas seperti diremat, setelah sepuluh menit di dalam kamar mandi istri Arshaka itu keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi. Badan yang lemas membuat dia malas berjalan akhirnya duduk di kursi meja makan.


"Mas!" jerit Shaila lagi karena kembali merasa mulas yang hebat.


Arshaka yang mendengar suara sang istri pun langsung bergegas mendekat, meninggalkan pekerjaannya di halaman belakang. Saat masuk sang istri sudah tidak tampak lagi di dapur, tetapi terdengar suara gemericik air dari kamar mandi yang terletak di dapur itu.


"Dek, Sayang," panggil Arshaka sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan telinga ditempelkan di pintu.


"Hmm, ss-sakit sekali perutku," jawab Shaila dengan suara lemas dan terbata.


Arshaka hanya bisa menunggu di depan pintu sampai istrinya keluar dari ruangan dua kali dua meter itu. Laki-laki itu merasa cemas memikirkan keadaan sang istri. Baru saja hilang morning sickness-nya, kini harus merasakan diare.


Ternyata apa yang dikhawatirkan tadi menjadi kenyataan karena kodisi pasar yang mereka datangi tadi sangat kumuh, berbeda dari tempat biasanya sang istri belanja. Entah kenapa sebelum-sebelumnya tidak mau menginjakkan kaki di sana, tiba-tiba saja minta ditemani ke pasar itu.


Pintu kamar mandi pun terbuka, tetapi Shaila tidak kunjung keluar sehingga Arshaka pun merasa heran dan bergegas masuk ke kamar mandi. Tampak sang istri duduk bersandar dinding dengan kaki diluruskan. Arshaka langsung mengangkat istri kecilnya itu menuju mobilnya karena kebetulan kuncinya masih ada di saku celana.

__ADS_1


Arshaka membawa istrinya ke klinik terdekat, tetapi sebelumnya dia memberi sang istri air mineral yang ada di mobil agar tidak terjadi dehidrasi. Saat menunggu sang istri minum, ayah Azka itu menghubungi Mbak Rina agar membuang semua sisa jajanan pasar yang dibeli serta memberi tahu jika dia membawa sang istri ke rumah sakit.


Lima belas kemudian, mereka sampai di klinik terdekat yang tidak begitu ramai pengunjung. Namun, klinik itu sangat berkelas sehingga tidak diragukan lagi kualitasnya. Shaila pun langsung mendapatkan penanganan medis dengan baik.


Kini, Shaila sudah dipindahkan di ruang rawat inap. Tangan kirinya terpasang jarum infus untuk menambah cairan tubuh yang sempat berkurang karena diare.


"Untung Bapak cepat membawa ibu ke sini. Terlambat sedikit saja, Bapak bisa kehilangan janin dalam kandungan istri Bapak," ucap dokter yang menangani Shaila.


"Berarti dampak diare sangat berbahaya ya, Dok?"


"Tentu saja, Pak. Banyaknya kotoran yang sebagian besar merupakan cairan itu dikeluarkan dengan paksa, membuat tubuh kita kekurangan cairan yang biasa disebut dehidrasi. Untuk mereka yang dalam kondisi biasa, memiliki ketahanan sistem imun yang lebih kuat dibandingkan dengan mereka yang sedang berbadan dua. Jika terlambat sedikit saja, bisa dipastikan janin dalam kandungan yang akan kalah," jelas dokter senior yang usianya di atas enam puluhan itu.


Setelah selesai urusannya dengan dokter itu, Arshaka memasuki ruangan dimana sang istri dirawat. Laki-laki itu tampak sedih melihat wajah istrinya yang masih pucat walaupun sudah diberi obat injeksi. Istri kecil Arshaka masih terbaring pulas setelah mendapat penanganan dari dokter.


"Jangan siksa bunda lagi, Sayang. Cukup dua kali ini dia harus opname karena dehidrasi. Kasihan jika bunda harus sering tidur di rumah sakit seperti ini. Sehat-sehat kalian semua." Arshaka mengecup kening sang istri dalam, mencurahkan segenap rasa yang penuh sesak di hati. Setelah itu, mengusap perut buncit sang istri lalu menciumnya.


Air mata Arshaka menetes karena rasa haru yang menyeruak dalam dada, saat perut buncit sang istri bergerak pelan. Dia tidak menyangka jika anaknya yang masih berada di dalam perut sudah bisa merespon setiap ucapannya. Baru kali ini dia mencoba berinteraksi dengan mereka, walaupun masih lemah karena sang anak yang tidak selincah biasanya.


"Maaf, karena ucapanku tadi menjadi kenyataan. Tidak ada maksudku meminta sesuatu yang buruk terjadi. Tadi hanya bentuk rasa khawatirku karena melihat tempat yang kurang sehat. Cepat sembuh, Sayang," ucap Arshaka sambil sesekali mencium tangan sang istri.


***

__ADS_1


Keenan meluangkan waktunya untuk menemani sang istri periksa di rumah sakit untuk mengetahui kondisi kandungan istri kecilnya. Sesuai dengan dugaan, kini wanita yang dinikahi dua bulan yang lalu itu telah mengandung benihnya.


Dokter sekaligus dosen itu tidak berhenti menggumamkan rasa syukur atas kehamilan sang istri. Bibirnya selalu mengembangkan senyum sepanjang menemani Shania, bahkan tanpa rasa canggung dia berulang kali mengecup kening dan puncak kepala istrinya.


Calon ayah itu yang pada awalnya posesif, kini bertambah menjadi semakin posesif dan protektif. Sebagai tenaga medis seharusnya Keenan tahu bagaimana menyikapi kehamilan sang istri di trimester pertama. Namun, rasa bahagianya membuat laki-laki bertingkah layaknya orang awam sehingga membuat Shania kesal.


"Honey, kita ke ruanganku dulu ya. Ada dokter baru yang akan mulai bertugas mulai besok. Jadi, aku harus menemuinya untuk wawancara," ajak Keenan seraya merangkul pinggang sang istri.


"Tapi jangan lama ya. Aku harus ke kampus sejam lagi," sahut Shania dengan tatapan memohon.


"Iya, tidak akan lama. Hanya sebentar saja, lima belas menit saja. Ok?"


Shania merasa senang karena Keenan tetap memprioritaskan dirinya. Tidak ada yang berubah dari suaminya itu walaupun dia telah menyakiti. Hal itu, membuat cinta dalam wanita berusia dua puluh tiga tahun itu semakin dalam.


Sesampainya di depan ruangan Keenan, Rony sudah berdiri bersama seorang gadis yang sepertinya Shania kenal. Istri Keenan itu terus memperhatikan wanita berparas cantik dan berusia lebih dewasa dibanding dirinya. Rasa penasaran yang tinggi membuat calon dokter itu ingin tahu, tetapi dia tidak berani bertanya pada sang suami atau pun pada Rony, asisten pribadi Keenan.


Kenapa mereka tampak akrab sekali? Siapa sebenarnya perempuan ini?


***


__ADS_1


__ADS_2