Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 24


__ADS_3

"Dasar kalian berdua sama saja isi otaknya! Kalau mikir itu nomor satu, giliran kuliah lemotnya minta ampun," sembur Shaila yang dijawab gelak tawa kedua teman dekatnya.


Satu lagu yang dinyanyikan Ardian pun habis, saat akan membawakan lagu berikutnya, Adiba datang menyerahkan kertas yang digulung menjadi gumpalan. Ardian pun membukanya ternyata berisi dua lembar uang berwarna merah dan kertas berisi request lagu dari Shaila dan kawan-kawan. Laki-laki itu pun langsung membawakan lagu sesuai permintaan.


Adiba dan Rosa meledek Shaila selama Ardian membawakan lagu request mereka.


"Duh, yang lagi kasmaran," ledek Rosa sambil senyum-senyum gaje.


"Dih, siapa juga yang lagi kasmaran. Lo tuh yang kasmaran terus sama Bobby," sahut Shaila kesal karena sejak tadi sahabatnya itu meledeknya.


"Siapa yang lagi kasmaran nih? Kamu ya Shai? Siapa cowok yang beruntung itu?" Tiba-tiba Ardian bergabung bersama mereka dan melontarkan pertanyaan bertubi-tubi sehingga membuat trio cablak itu terkejut.


Tak ada yang menjawab pertanyaan laki-laki berusia dua puluh satu tahun itu. Mereka malah sepakat untuk mengakhiri acara nongkrong mereka. Sebelum berpisah, Ardian meminta nomor whatsapp Shaila, dan gadis itu memberikan nomornya tanpa berprasangka apapun.


Ujian akhir semester telah berakhir kegiatan belajar mengajar pun tidak ada sehingga para mahasiswa libur. Selama liburan, Shaila mengisi waktunya dengan bermain bersama Azka. Kadang juga gadis itu bereksperimen di dapur dengan gangguan Azka tentunya.


"Azka main sana sama Mbak Rina atau main di belakang kasih makan ikan. Nanti kalau sudah matang, Bubun panggil." Shaila membujuk sang anak agar tidak mengganggu kegiatannya di dapur.


"Azka mau bantuin Bubun cetak kue. Ikannya sudah dikasih makan sama ayah tadi," jawab bocah kecil itu dengan entengnya. Tangan kecilnya asyik mengaduk adonan kue yang akan dipanggang.


Shaila mengambil adonan itu lalu dimasukkan ke dalam loyang, kemudian memanggangnya. Pandangannya beralih pada meja marmer dan lantai di bawah kakinya. Sungguh luar biasa berantakan, semua karena ulah si bocil yang tidak bisa dilarang.


"Mbak Rina, tolong!" panggil Shaila kemudian.


Mbak Rina yang sedang menyimpan pakaian yang baru selesai digosok itu pun berjalan mendekati sang majikan.

__ADS_1


"Iya, Non."


"Mbak tolong mandikan Azka terus ajak tidur. Aku mau bereskan kekacauan ini sambil nunggu brownies ketan hitam mateng," kata Shaila pada sang pengasuh.


Mbak Rina membawa majikan ciliknya masuk ke kamar untuk dimandikan. Bocah kecil itu tentu saja melawan, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan sang pengasuh. Akhirnya dengan sedikit pemaksaan, bocah umur tiga tahun itu tidur juga.


Saat Shaila membereskan kekacauan akibat sang anak sambung, gawainya berbunyi tanda notifikasi pesan masuk. Gadis itu pun penasaran dengan nomor baru yang berisi identitas pengirim pesan. Orang itu adalah sang kakak tingkat, Ardian.


Mereka berkirim pesan sampai Shaila selesai membereskan dapur itu sampai kembali kinclong dan dan keset, bahkan sampai kue brownis buatannya matang sempurna. Saking asyiknya chattingan sama kakak tingkat, sampai Shaka datang tidak tahu.


Shaka berdiri di belakang sang istri sambil ikut membaca isi pesan itu. Sebenarnya tidak ada yanng perlu dicurigai karena tidak ada gombalan atau rayuan. Chat itu hanya berisi cerita tentang aktivitas selama libur kuliah saja, tetapi cukup membuat Shaka cemburu.


"Chat sama siapa? Mesra banget," tanya Shaka dengan wajah datar. Aura dingin terlihat jelas dalam wajahnya


Shaila terkejut sampai gawainya terlepas dari tangan. Wajah itu langsung cemberut ketika mendapati gawai yang dibeli dari tabungan sendiri itu terjatuh ke lantai marmer di bawah kakinya. Tanpa menghiraukan pertanyaan sang suami, gadis itu mengambil gawai lalu kembali duduk ke tempat semula.


"Kalau ditanya itu dijawab, Shaila! Apa pantas perlakuan seorang istri seperti ini? Suami pulang ngucap salam berulang kali tidak dijawab malah asyik main hp, giliran ditanya nggak dijawab," ungkap Shaka kesal, tetapi masih menjaga suaranya agar tidak menggelegar.


"Kamu ngagetin aja, hpku jadi jatuh," sungut Shaila dengan bibir mengerucut.


"Kalau kamu tidak terlalu fokus pada hp, pasti dengar suara salam yang aku ucapkan sampai berulang kali. Tak satupun kamu jawab. Kalau saya mengagetkan kamu, saya minta maaf."


Shaka berjalan menuju pantry mengambil gelas lalu mengisinya air dari dispenser. Duduk lalu meneguknya sampai habis. Sepertinya laki-laki itu sangat haus sekali.


"Jangan lupa besok subuh harus sudah siap-siap! Acara wisuda saya dimulai jam delapan pagi, tapi kami para wisudawan harus hadir jam tujuh pagi. Jadi saya harap sebelum jam tujuh kamu sudah siap berangkat," ucap Shaka mengingatkan sang istri sebelum pergi berlalu ke kamarnya.

__ADS_1


Sebenarnya Shaka sangat marah melihat sang istri yang lebih memilih chatting-an dengan lelaki lain dari pada menyambut kepulangannya. Rasa lelahnya semakin bertambah bukan berkurang seperti biasanya. Mungkin dia terlalu sepele pada sang istri sehingga tidak dianggap sebagai seorang suami.


"Aku terlalu sibuk menyiapkan wisuda magisterku, sampai lupa memperhatikan anak dan istri. Makanya istriku berpaling. Setelah acara wisuda kelar, aku akan selalu meluangkan waktu untuk kalian berdua."


Selain sibuk mengerjakan tesis sampai menyiapkan acara wisuda besok, Shaka juga sibuk mengolah nilai para mahasiswanya yang berjumlah ribuan. Bukanlah mudah mengolah nilai yang masuk selama satu semester dengan jumlah mahasiswa lebih seribu orang. Belum lagi sang mantan yang minta bantuan untuk mencarikan orang guna menyelidiki pacarnya yang baru saja menikah.


Laki-laki itu sudah menolak membantu sang mantan dengan alasan sudah memiliki anak dan istri. Dia ingin menjaga perasaan sang istri, tetapi mantan pacarnya itu memaksa. Alhasil hubungannya dengan anak dan istrinya mulai renggang karena waktu bersama yang hampir tidak ada.


Usai membersihkan diri, Shaka menemui sang istri yang sedang duduk manis di ayunan yang terletak di samping kolam renang. Shaila sengaja duduk di sana untuk istirahat sebentar setelah lelah membuat kue dan membereskan dapur. Mata gadis itu terpejam saat sang suami mendekatinya.


"Sepertinya capek sekali. Mau aku pijit?" Arshaka duduk di depan Shaila dan menawarkan bantuan.


"Tidak. Terima kasih. Mungkin pacar Bapak mau, sayangnya saya tidak," sahut Shaila datar karena masih dikuasai emosi yang tadi.


"Sini!" Arshaka langsung mengambil kaki Shaila tanpa menunggu jawaban dari sang istri, lalu memijat pelan kaki itu.


"Kamu sekarang ini bukan lagi anak lajang, wanita single yang bebas bergaul dengan laki-laki mana pun. Boleh berteman tapi sewajarnya. Saya tidak marah hanya saja, saya tidak rela kamu akrab dengan laki-laki lain, sementara dengan saya kamu selalu menjaga jarak," tutur Arshaka dengan suara lembut agar sang istri tidak tersinggung.


"Saya tidak boleh dekat dengan laki-laki lain? Tidak salah? Kalau begitu Anda juga jangan dekat dengan wanita selain keluarga Anda!"


*


*


*

__ADS_1



__ADS_2