Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 35


__ADS_3

Drt ... drt ....


Gawai Arshaka terus bergetar di dalam saku celananya. Demi keamanan dan keselamatan, laki-laki itu menepikan mobilnya lalu mengangkat panggilan dari sang kakak ipar. Ternyata sang ipar minta dijemput di bandara karena kedua mertuanya sedang keluar kota.


Dengan terpaksa Arshaka menjemput sang ipar di bandara. Niat mencari sang istri urung seketika. Suami Shaila itu melajukan mobilnya ke arah bandara untuk menjemput sang kakak.


Kurang lebih satu jam perjalanan sampailah dia di bandara. Saat baru memasuki area bandara, ada suara yang memanggil dirinya. Setelah dilihat, ternyata sang kakak ipar.


Arshaka menghentikan mobilnya lalu kembali melaju setelah sang ipar duduk di sampingnya. Wajah Shania tampak berbinar bahagia karena sang mantan yang menjadi adik iparnya itu mau menjemputnya. Apalagi sang adik dan anak kecil itu tidak ikut menjemput.


Shania berpikir jika sang mantan masih mencintainya. Terbukti malam-malam begini mau menjemput dirinya tanpa ditemani istri dan anaknya. Sungguh kesempatan yang tak terduga menurut gadis itu.


Tanpa dia tahu jika Arshaka menjemputnya dengan setengah hati. Lak-laki itu mau menjemput sang kakak ipar hanya demi menjaga nama baiknya di hadapan kedua mertuanya. Dia hanya tidak ingin dicap sebagai menantu yang tidak mau menolong saudara sang istri yang meminta tolong.


"Shaila mana kok nggak ikut jemput?" tanya Shania pura-pura mencari sang adik.


"Shaila sedang banyak tugas jadi dia harus mengerjakannya atau harus mengulang lagi di semester berikutnya. Kenapa?"


"Tidak apa-apa sih, tanya aja. Emang nggak boleh?" Shania menjawab dengan suara dibuat manja.


Arshaka hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah sang ipar. Pandangan matanya fokus pada jalanan yang mulai lengang. Laki-laki itu mengantarkan kakak iparnya ke rumah sang mertua.


"Kita makan dulu ya? Aku lapar Ar," rengek Shania memasang wajah memelas, sehingga Arshaka menghentikan mobilnya di dekat angkringan pinggir jalan.


"Kok di sini?"


"Sudah malam, warung makan sudah pada tutup," jawab Arshaka sekenanya.

__ADS_1


"Pulang aja deh! Nggak banget makan di angkringan," gerutu Shania pelan tetapi masih terdengar oleh telinga Arshaka walau samar.


"Bagaimana? Mau pulang atau makan di sini?"


Shania tampak berpikir sejenak, jika dia makan di angkringan waktunya bersama Arshaka akan lebih lama. Jika terlambat pulang, bisa-bisa sang ayah mengamuk karena pulang larut malam.


"Okelah, makan di sini aja, tapi temeni ya," jawab Shania lagi-lagi memasang wajah yang sulit untuk ditolak oleh Arshaka.


Akhirnya, mereka berdua turun dari mobil dan memesan makanan dan minuman. Arshaka sengaja memesan kopi joss yaitu kopi yang diseduh dengan gula kemudian dimasuki arang panas sehingga berbunyi joss. Sementara itu, Shania memilih memesan wedang jahe.


Setengah jam kemudian mereka meninggalkan warung angkringan itu menuju rumah sang mertua. Begitu sampai, Shania mengajak Arshaka turun tetapi ditolak. Tanpa menunggu lama, mobil langsung melaju begitu Shania turun dari mobil.


Arshaka akhirnya pulang karena sudah lelah. Laki-laki itu berharap sesampainya di rumah sang istri sudah ada. Namun, harapan itu tinggal harapan karena sang belum juga pulang.


Di rumah sakit, Shaila belum bisa tidur, padahal kedua sahabatnya itu sudah tertidur pulas. Pikirannya menerawang ke rumah sang mertua. Ada Azka yang pasti mencari dirinya karena selama beberapa bulan menjadi ibu sambung bocah itu, mereka tidak terpisahkan.


Wanita itu tiba-tiba merindukan anak sambungnya. Tingkah sang anak yang menggemaskan membuatnya merindukan anak itu. Shaila berulang kali mengubah posisi tidurnya agar bisa segera mengarungi alam mimpi


Sampai tengah malam, Shaila tetap tidak bisa tidur walau matanya terpejam. Rasa bersalah pada anak itu mulai menggelayuti. Gadis itu juga merasa kehilangan pelukan sang suami.


Walaupun suaminya galak dan suka bertindak semaunya sendiri, dia sangat perhatian. Pelan tetapi pasti, Shaila mulai mencintai sosok laki-laki yang mengisi hari-harinya beberapa bulan terakhir ini. Walau sering berbeda pendapat, mereka berdua saling mengalah dan menghormati setiap keputusan yang berbeda.


Tidak hanya Shaila yang tidak bisa tidur malam ini, Arshaka pun demikian. Kedua insan yang disatukan dalam ikatan pernikahan tetapi berpisah tempat tidur itu sama-sama merasa kehilangan pasangan yang biasa menemani. Mereka sama-sama introspeksi diri, mencoba mencari kesalahan yang telah dilakukan. Keduanya tertidur setelah memantapkan hati untuk meminta maaf dan memaafkan pasangan.


Shaila yang tampak gelisah tak luput dari penglihatan sang sahabat. Saat mimpi akan menjemput, Adiba mengeluarkan apa yang menjadi ganjalan hatinya.


"Shai, lo kenapa sejak tadi gelisah? Lo menyesal tidur di sini?" tanya Adiba tiba-tiba mengagetkan Shaila dan Rosa.

__ADS_1


Mata yang mulai terpejam itu sebenarnya sulit untuk terbuka, tetapi mendengar suara sang sahabat yang bertanya, tidak mungkin diabaikan. Shaila memaksa membuka matanya yang sudah mulai lengket.


"Apa Diba? Mata gue ngantuk sekali," sahut Shaila menggumam karena kantuk mulai menyerang.


"Tadi lo tanya apa, Adiba?" Rosa ikut bertanya sambil mengucek kedua matanya untuk menghilangkan rasa kantuk.


"Enggak! Gak ada apa-apa. Cuma gue perhatiin sejak tadi, Shaila gelisah sekali. Jadi gue tanya ke dia, apa menyesal tidur bersama di sini?" jelas Adiba merasa tidak enak hati telah mengganggu tidur kedua sahabatnya.


Terdengar suara dengkur halus saat Rosa akan menyahuti ucapan Adiba.


"Kampret! Ditanya bukan dijawab malah ditinggal ngorok!" umpat Rosa kesal.


Kedua sahabat Shaila itu memutuskan kembali tidur setelah tahu Shaila sudah tertidur pulas.


Keesokan harinya, Arshaka terbangun saat suara adzan berkumandang. Laki-laki itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengambil wudhu dan bersiap menunaikan ibadah di rumah. Setelah itu, dia menandatangi kamar sang anak, melihat apakah anak tersebut sudah bangun atau belum.


"Ayah, bubun mana? Kenapa bukan bubun yang bangunin Azka?" Bocah kecil itu terus menanyakan ibu sambungnya yang menghilang sejak kemarin.


"Bubun sudah berangkat ke kampus tadi saat Azka masih tidur. Sekarang Azka mandi sama Mbak Rina ya, setelah itu kita sarapan bersama," sahut Arshaka seraya mengusap lembut kepala sang anak.


Sarapan telah disiapkan oleh Rina, pagi ini hanya ada sarapan sederhana karena yang biasa menyiapkan sarapan belum juga memberi kabar. Arshaka berulang kali mengirimkan pesan yang berisi permintaan maaf pada sang istri, tetapi hanya centang satu.


Kini, Arshaka dan Azka sudah duduk mengitari meja makan. Saat keduanya menyantap nasi goreng, tiba-tiba terdengar deru mesin mobil berhenti di carport. Suara mesin itu sama persis dengan mobil Shaila.


Azka langsung lari keluar mengira sang ibu sambung yang pulang. Arshaka ikut bangkit mengejar sang anak yang mendahului membuka pintu. Ayah dan anak itu kecewa saat yang muncul bukanlah orang yang mereka harapkan.


"Hai, kalian sengaja ya menunggu aku? Aku merasa tersanjung sekali."

__ADS_1


__ADS_2