
Keenan memilih menemui sang istri dari pada nanti hatinya goyah. Walau bagaimanapun juga dia seorang laki-laki normal yang tidak akan tahan jika setiap saat selalu dihadapkan pada godaan. Apalagi godaan yang dihadapi adalah seorang gadis cantik dengan segudang kelebihan.
Seperti batu yang terkena tetesan air, begitu juga dengan Keenan. Pikiran dia mulai kacau karena ulah Laras yang tidak pantang menyerah mendekati dirinya, bahkan gadis itu dengan terang-terangan mengatakan mencintainya dan rela menjadi yang kedua. Namun, suami Shania itu masih waras mengingat sang istri yang sedang mengandung darah dagingnya.
"Kamu kenapa? Kok wajahnya kek baju gak pernah diseterika sama sekali," tanya Shania begitu suaminya memasuki rumah.
"Ishh, suami baru datang bukan disambut dengan baik malah dikatain wajahnya kusut kek baju. Dasar istri solehot!" Keenan mendengkus kesal karena sang istri meledeknya, padahal dia lelah setelah melakukan perjalanan jauh.
Shania terkikik mendengar sang suami kesal, walau begitu dia hanya bercanda saja. Istri Keenan itu kangen bercanda bersama sang suami, sehingga begitu melihat kedatangan sang suami disambut dengan candaan.
Shania bergelayut manja di lengan kekar sang suami. Wanita itu membawa suaminya ke dapur, lalu mengambilkan minum air putih hangat untuk sang suami tercinta.
"Air putih dulu, tadi habis perjalanan jauh. Setelah ini mandi, terus kita ngobrol. Aku sudah kangen berat sama kamu," ucap Shania sembari menyodorkan segelas air putih pada sang suami.
Dengan senang hati, Keenan menerima uluran gelas dari sang istri kemudian menenggaknya sampai tersisa setengah. Setelah meletakkan gelas di atas meja, Keenan langsung menarik tangan sang istri hingga Shania terduduk di atas pangkuannya.
Keenan mencium puncak kepala sang istri dengan tangan mengusap lembut perutnya yang membuncit. Setelah mencium puncak kepala sang istri, ciuman itu pindah ke kening, pelipis dan seluruh wajah. Keenan mulai mengabsen wajah dan leher sang istri menggunakan bibirnya, sehingga terdengar de sah an keluar dari bibir merah Shania.
"Aku menginginkanmu, Sayang," bisik Keenan di belakang telinga sang istri, setelah itu menjilatnya.
__ADS_1
Shania menggelijang kegelian karena ulah sang suami. Namun, wanita itu tidak melawan atau membantah sang suami. Dia membiarkan sang suami mulai berpetualang ke gurun cinta mendaki nirwana.
Pasangan muda yang sudah dua Minggu tidak bertemu itu mulai menyalurkan rasa rindunya. Kini, Keenan dan Shania sudah pindah tempat. Laki-laki itu menggendong sang istri yang sudah menempel di bagian depan tubuhnya bak koala menuju kamar mereka.
***
Waktu terus bergulir, Graceila Johnson ternyata benar-benar mengajukan gugatan hak asuh Azka. Mantan istri Arshaka itu dibantu oleh pengacara hebat yang dimiliki oleh keluarganya. Dukungan penuh dari kedua orang tuanya membuat Grace merasa yakin akan memenangkan hak asuh atas Azkara Putra Mandala, mengingat umur sang anak yang masih membutuhkan sosok seorang ibu.
Sidang sudah digelar dua kali, hari ini adalah sidang ketiga. Sidang kali ini mendengarkan saksi yang sangat dibutuhkan untuk menentukan siapa yang lebih berhak atas hal asuh Azka. Keluarga Mandala juga pengasuh Azka pun bersedia menjadi saksi tanpa diminta terlebih dahulu.
Keterangan saksi sangat memberatkan Grace, walaupun dia sudah membayar pihak pengadilan. Namun, usahanya untuk mendapatkan hak Azka berjalan cukup alot. Keduanya sama-sama ingin mengasuh anak berusia empat tahun itu.
Arshaka yang sudah berjalan menjauh meninggalkan ruang sidang pun menghentikan langkahnya.
"Ten minute," jawab Arshaka singkat.
Grace bernapas lega karena sang mantan mau berbicara dengannya.
"A-apa kita bisa berdamai? Sebentar lagi kami akan memiliki anak lagi dari istri keduamu. Sementara aku masih sendiri ...."
__ADS_1
"Kita tunggu saja hasil akhir persidangan nanti. Biar jaksa yang memutuskan Azka lebih layak diasuh oleh siapa," potong Arshaka dingin seraya melangkah meninggalkan Grace yang berdiri mematung mendengar jawaban sang mantan.
Grace men de sah kasar. Peluangnya untuk mendapatkan hak asuh Azka sangat kecil, padahal dia sudah menyewa pengacara hebat dan mahal. Namun, bukti dan saksi yang dimiliki oleh mantan suaminya itu sangat memberatkan dirinya.
Sang pengacara juga sudah mengatakan sulit tetapi dia berjanji akan mengusahakan sebisa mungkin agar dia bisa memenangkan sidang ini. Akhirnya mereka menempuh cara kotor agar bisa memenangkan sidang.
Arshaka pulang ke rumah dengan wajah lesu karena terlalu banyak pikiran, pekerjaan dan masalah datang secara bersamaan sehingga membuat laki-laki berusia dua puluh empat tahun itu sedikit tertekan dan merasa lelah.
"Mas?" Shaila terkejut mendapati sang suami sudah duduk bersandar di sofa ruang keluarga.
Perempuan itu buru-buru mencium punggung tangan sang suami lalu kembali ke dapur untuk membuatkan minuman kesukaan sang suami. Setelah selesai membuat minum untuk sang suami, Shaila membawanya pada sang suami dan ikut duduk di sampingnya.
Shaila mengangkat kaki sang suami dan meletakkan kaki itu di pangkuannya. Istri Arshaka mulai memijit kaki yang tampak lelah sekali hari ini. Saat sang istri sibuk memijit kaki yang berada di atas pangkuannya, janin dalam perut Shaila bergerak kencang.
"Aduh... duh... duh!" ucap Shaila tiba-tiba sambil mengusap perutnya tanpa memindahkan kaki sang suami dadi pangkuannya.
Arshaka langsung menurunkan kakinya dan mendekati sang istri. Wajah cantik Shaila tampak pucat karena menahan sakit sejak tadi. Namun, rasa tegang di perutnya itu kembali datang setelah beberapa saat kemudian.
"Kamu kenapa, Sayang? Ada apa memang, kenapa kamu tampak kesakitan dan wajahmu pun pucat," tanya Arshaka panik mendengar sang istri kesakitan.
__ADS_1