Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 19


__ADS_3

Shaila memukul dada sang suami karena merasa kehabisan oksigen. Gadis itu belum pernah merasakan ciu man, rasa penasaran membuatnya menikmati ciu man itu. Jantungnya berdebar kencang, darahnya pun berdesir seperti ada ribuan kupu-kupu menggelitik perut.


Tidak hanya Shaila saja yang merasakan jantungnya berdebar, Arshaka pun merasakan hal itu. Rasa-rasanya jantung itu seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Sama seperti saat dia berciu man pertama kali dengan sang mantan pacar.


Ini adalah ciu man pertama Shaila sehingga gadis itu tampak kaku cenderung pasif. Arshaka mengusap sisa saliva yang masih tertinggal di dagu sang istri. Laki-laki itu tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah.


"Kamu belum pernah pacaran?" tanya Shaka penasaran dan Shaila menjawab hanya dengan gelengan kepala.


Shaila masih menunduk dengan jantung berdebar-debar. Dia merutuki kebodohannya karena malah menikmati ciu man tadi. Seharusnya dia melawan, tetapi mengingat statusnya saat ini dia pun mulai melunak, memilih pasrah walau tak rela.


Arshaka mengulum senyum melihat wajah istrinya yang memerah. Ada rasa bahagia sekaligus bangga kerena sang istri belum ada yang menyentuh sebelum dia. Ayah Azka itu berjanji pada diri sendiri akan bersabar menunggu sang istri memberikan haknya.


Shaka mengajak sang istri pulang setelah debaran jantungnya kembali normal. Dosen muda itu meraih tangan sang istri dan menggenggamnya sambil berjalan. Shaila menolak halus dengan berusaha melepaskan genggaman itu perlahan.


Shaila memaksa melepaskan genggaman tangan itu saat akan melewati lorong yang selalu ramai oleh para mahasiswa nongkrong. Arshaka melepaskan genggaman itu setelah mendapat tatapan tajam dari istri kecilnya. Dia tahu sang istri tidak ingin ada yang tahu tentang hubungan mereka.


Saat akan memasuki mobil ada beberapa mahasiswa yang melihat mereka, tetapi tak mereka hiraukan. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan area kampus.


Sepeninggal pasangan baru tadi, gosip menyebar dengan cepat. Semua penghuni kampus mengatakan ada scandal antara mahasiswa dengan dosen. Kabar itu cepat menyebar hingga sampai pada rektor.


Rektor tersebut tidak menanggapi gosip itu karena dia ikut hadir dan menjadi saksi pernikahan antara dosen dan mahasiswa tersebut. Mungkin dia akan memanggil dan menegur dosen dan mahasiswa itu agar tidak terlalu mengumbar kemesraan agar nama baik kampus tetap terjaga.


Gawai Shaila dan Arshaka terus berbunyi, notifikasi pesan masuk sejak tadi belum juga berhenti. Ternyata grup wa yang beranggotakan mereka sedang ramai membahas kedekatan keduanya. Beberapa saat kemudian notifikasi itu berhenti berganti dengan nada dering, ada panggilan masuk ke gawai Arshaka.

__ADS_1


"Pak, menepi dulu. Angkat telepon itu, takutnya penting," saran Shaila pada sang suami.


Arshaka pun menepikan mobilnya di tempat yang bebas parkir agar tidak terkena tilang. Laki-laki itu merogoh saku celananya untuk mengambil gawai. Shaila yang penasaran mencoba mengintip, gadis itu hanya bisa melihat sekilas saja.


Sasha♥️


"Siapa Sasha? Apa dia mantan Pak Shaka? Tapi bukankah nama mama Azka, Graceila?"


Batin Shaila berkecamuk, berbagai pertanyaan berputar dalam otaknya. Kini gadis itu harus memikirkan bagaimana sang suami yang galak itu mau berkata jujur. Sungguh dia sangat penasaran siapa wanita yang sering menghubungi suaminya.


Akhir-akhir ini laki-laki yang kini telah menjadi suaminya itu lebih sering memegang ponsel sambil senyum-senyum sendiri. Shaila hanya melihat saja tanpa berani bertanya atau menegur. Hal ini dikarenakan gadis itu tidak ingin terikat terlalu kuat bersama laki-laki yang tidak dicintainya.


Bagi Shaila, Arshaka mau berhubungan dengan siapa dan berbuat apa terserah, yang penting tidak saling bersinggungan. Shaka sendiri juga tidak pernah ikut campur urusan sang istri. Tanpa adanya perjanjian, keduanya kompak untuk tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing.


"Nggak nanya," sahut Shaila acuh, pandangan matanya tertuju pada jalanan melalui kaca di sampingnya.


"Hhh, saya hanya memberitahu agar kamu tidak cemburu." Shaka membuang napasnya kasar sebelum menimpali sahutan sang istri.


"Cemburu? Dalam mimpimu!" Shaila hanya memandang sekilas pada sang suami. Gadis itu lebih suka melihat jalanan dari pada memandang suaminya.


Arshaka terkekeh mendengar kata-kata sang istri yang ketus padanya. Gadis itu kadang bertutur kata lemah lembut, tetapi kadang juga bersikap judes padanya. Sungguh gemas sendiri laki-laki itu dibuat istri kecilnya itu.


Melihat sikap sang istri yang sering berubah-ubah dalam waktu sekejap, menjadi hiburan tersendiri bagi Arshaka. Oleh karena itu, dia lebih sering memancing emosi Shaila. Wajah judes gadis itulah yang menjadi alasan dia tidak bisa melupakan istri kecilnya sejak pertama kali melihat.

__ADS_1


Arshaka yang sewaktu acara penerimaan mahasiswa baru ikut masuk jajaran panitia ospek, melihat Shaila yang terkena hukuman kakak tingkat berani melawan. Jarang sekali mahasiswa baru berani melawan kakak tingkat karena takut. Berbeda dengan istri kecilnya waktu itu, dia tetap pada pendiriannya karena merasa benar.


Berawal dari keberaniannya itu, Shaila menjadi buah bibir seantero kampus. Sejak saat itu perhatian Shaka selalu tertuju pada mahasiswa baru berwajah cantik tapi judes itu. Selain terkenal pemberani dan judes, Shaila terkenal dengan sifatnya yang siap membantu siapa saja.


"Bubun! Azka rindu ...," teriak anak sambung Shaila saat dia keluar dari mobil.


Shaila langsung merentangkan kedua tangannya sambil berjalan mendekati bocah tiga tahun itu. Azka pun langsung berlari dan menubruk badan ibu sambungnya. Anak kecil itu memeluk paha wanita yang kini menjadi ibunya.


"Ayah nggak dipeluk nih?" tanya Shaka pura-pura iri dan merajuk. "Dapat bubun baru, ayah dilupain."


Azka pun melepaskan pelukannya pada sang ibu, lalu berlari pada sang ayah. Bocah itu minta gendong ayahnya memasuki rumah dengan tawa lebar. Ketiganya masuk bersama dan terlihat seperti keluarga kecil yang sempurna.


Hari berlalu, setiap hari mantan pacar Shaka selalu menghubunginya. Tidak peduli pagi, siang atau malam. Jika tidak sempat bertelepon, dia akan mengirimkan pesan yang menunjukkan perhatiannya pada laki-laki beristri itu.


Shaila yang sudah terbiasa diacuhkan jika sang suami sedang memegang gawai pun mulai acuh. Apalagi selama menjadi istri Arshaka, dia selalu tidur bersama anak sambungnya. Walaupun begitu, kewajibannya sebagai seorang istri tetap dilaksanakan, kecuali kewajiban di ranjang.


Arshaka juga tidak pernah meminta haknya, selain ciuman. Bukan tidak menginginkan tetapi dia ingin melakukan itu atas inisiatif bersama. Laki-laki itu sedang persiapan sidang tesisnya sehingga pikirannya masih fokus pada pendidikan yang sebentar lagi selesai.


"Tolong do'akan saya agar sidangnya lancar dan dapat nilai memuaskan," ucap Arshaka pada sang istri dan anaknya.


"Aamiin," sahut ibu dan anak itu serentak.


"Sukses ya, Pak!"

__ADS_1



__ADS_2