
Shania berjalan memasuki mall besar itu sambil menggerutu sepanjang kakinya melangkah. Dia merasa sangat kesal karena semua panggilan yang dilakukan tidak terjawab, selain itu pesan yang dikirim pun belum dibaca sama sekali, bahkan pesan yang dia kirim tadi sebelum pergi ke mall juga belum dibaca.
Istri Keenan itu berjalan tanpa melihat ke pajangan etalase yang menyajikan berbagai dagangan. Pandangan matanya mencari sosok yang dikenalnya sebagai pemilik mobil yang dilihat di area parkir tadi. Setiap kali melihat seseorang dengan postur tubuh yang sama dengan sosok tersebut, dia akan menajamkan penglihatannya.
Saat tiba di lantai dua, mata Shania terbeliak kaget. Sosok yang dicarinya berjalan berdua dengan seorang wanita cantik yang usianya tampak lebih dewasa dari dia. Wanita itu bertubuh bak gitar spanyol, paras wajahnya juga sangat ayu.
Ingin rasanya kakak Shaila itu mendatangi dua sejoli yang tampak bahagia itu. Namun, dia urungkan dan memilih membuntuti mereka sambil sesekali mengabadikannya dengan tujuan sebagai bukti suatu saat nanti.
Si perempuan yang merasa ada yang sedang membuntuti, mengajak pasangannya pulang. Dengan senang hati lelaki itu mengantarkan si perempuan di rumahnya. Rumah yang tidak jauh dari kampus tempatnya kuliah.
Shania masih membuntuti sampai kediaman si perempuan, bahkan sampai mobil lelaki itu memasuki halaman rumah tempatnya tinggal mulai kemarin. Ya, laki-laki itu Keenan yang sedang menemani Laras shopping karena Bram, sang kakak tiba-tiba harus bertemu dengan relasi bisnisnya di restoran yang ada di mall itu juga. Berhubung Bram belum selesai dengan urusannya, dia kembali meminta tolong pada Keenan untuk mengantar sang adik.
"Sudah puas bersenang-senangnya? Aku kira cintamu tulus padaku! Ternyata setelah mendapatkan harta berhargaku, muncul siapa kamu sebenarnya. Dasar laki-laki hidung belang tampang malaikat!" maki Shania begitu masuk ke dalam rumah.
Rasa malunya sudah tertutup oleh amarah dan cemburu sehingga bibir istri Keenan itu mengeluarkan caci maki dengan begitu lancarnya. Sebelumnya tidak pernah mencaci orang lain apalagi sang suami, biasanya hanya memilih diam atau pun kalau marah tidak mengeluarkan umpatan seperti tadi.
"Kamu salah paham, Honey. Dia itu adik sahabatku yang kebetulan bertemu di mall. Kami tidak memiliki hubungan seperti yang kamu pikirkan," sanggah Keenan.
"Halah, mana ada maling ngaku! Kalau ada penjara penuh, Kee." Shania tidak percaya dengan ucapan sang suami.
__ADS_1
Suara Keenan dan Shania yang ribut di ruang tamu, terdengar sampai kamar Shaila. Untungnya Azka minta izin mampir di rumah sang nenek sepulang sekolah, sehingga bocah itu tidak mendengar kata-kata Shania yang tidak pantas didengar oleh anak kecil. Ibu sambung Azka itu keluar dari kamar dengan sedikit terhuyung karena terkejut saat terlelap.
"Kak?" Dengan berdiri bersandar dinding, Shaila menegur sang kakak, wajah istri Arshaka itu tampak pucat.
Shania dan Keenan menoleh ke arah sumber suara. Keduanya tercengang mendapati tuan rumah sudah pucat.
Tadi saat baru selesai membuat puding buah, tiba-tiba saja perut Shaila mual. Wanita itu terus memuntahkan isi perutnya sampai habis tak bersisa, bahkan sampai cairan kuning yang keluar. Badan lemasnya direbahkan di ranjang sampai tidak sadar terlelap karena kelelahan.
Saat baru mulai terlelap, sang kakak pulang dan membuat keributan. Mendengar suara yang begitu kuat membuat tidur Shaila terusik dan terkejut. Di sinilah sekarang wanita yang hamil muda itu berada, di ruang tamu dengan tubuh bersandar di dinding.
Keenan langsung mendekati sang adik ipar lalu memapahnya sampai ke kursi panjang dan membaringkannya. Setelah itu, dokter muda tersebut bergegas ke mobil untuk mengambil peralatan medis yang selalu menemaninya ke mana pun.
Shania dengan sigap menghubungi sang mantan yang kini menjadi adik iparnya. Ternyata Arshaka sudah dalam perjalanan pulang usai mengajar. Laki-laki pun langsung menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai rumah.
Dalam waktu sepuluh menit, Arshaka sampai di rumahnya. Laki-laki itu berlari memasuki rumah, dadanya sesak mendengar keadaan sang istri. Dia ingin segera melihat sang istri yang selalu mengganggu pikirannya.
"Tensinya rendah, sebaiknya dia diinfus agar tidak terjadi dehidrasi," ucap Keenan setelah selesai memeriksa sang adik ipar.
"Aku ikut saja, mana yang terbaik untuk anak dan istriku. Memang sudah seminggu ini dia selalu muntah-muntah. Tapi, kata dokter si kembar sehat," sahut Arshaka dengan napas memburu setelah berlari.
__ADS_1
Shania yang mendengar berita kehamilan Shaila pun membulatkan matanya karena terkejut. Usia adiknya baru akan menginjak sembilan belas tahun, tetapi sudah mengandung janin kembar. Dia tahu bagaimana susahnya mengandung di usia muda apalagi kembar.
"Kamu tega ya, Sha! Shaila itu masih belum cukup umur untuk hamil. Kenapa kamu tega lakukan itu pada adikku?" amuk Shania karena merasa kasihan pada sang adik yang masih tergolek lemas di sofa.
"Graciela dulu juga hamil saat umur sembilan belas tahun. Buktinya dia masih sehat, Azka juga sehat dan cerdas. Kalau sudah kehendak Yang Kuasa, ditumpat pun tetap saja hamil," bantah Shaka dengan santainya.
Arshaka yang sudah mengenal lama bagaimana Shania, bersikap tenang menghadapi wanita temperamen itu.
"Ini bagaimana jadinya, kita bawa ke rumah sakit atau diinfus di rumah saja? Malah berdebat nggak jelas!" tanya Keenan menunjukkan wajah kesalnya karena istri dan saudara iparnya malah saling bantah.
"Kita bawa ke rumah sakit saja Kak. Kalau di rumah takutnya malah terjadi sesuatu karena tidak adanya tenaga medis dan peralatan medis yang lengkap," jawab Arshaka dengan tegas, tampak kekhawatiran di wajah gantengnya.
Akhirnya, Arshaka langsung menggendong sang istri menuju mobilnya tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Shania ikut di mobil sang adik ipar untuk membantu menjaga adik satu-satunya.
Shania meminta sang adik dibawa ke klinik sang ayah, mengingat di sana peralatan medisnya sudah lengkap. Arshaka pun mengikuti saran sang kakak ipar. Setelah memberi saran, istri Keenan itu mengabari orang tuanya jika sang adik akan dibawa ke rumah sakit keluarga.
Nathan dan Dewi yang kebetulan masih berada di rumah sakit pun menunggu anak mereka di lobi rumah sakit dengan brankar dan tim medis yang siap sedia menangani sang anak.
"Kehamilan Shaila sepertinya sama kek kamu saat hamil si kembar. Harus bed rest karena muntah terus," ujar Nathan pada sang sahabat yang kini menjadi istrinya itu.
__ADS_1
"Tadi pagi dia baik-baik saja loh, Nat. Tapi agak lain sih, mau tanya gak jadi gegara si Shania buat keributan." Dewi yang merasa curiga sejak tadi pagi pun mengatakannya pada sang suami.