Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 49


__ADS_3

"Sayang, Shania," panggil Keenan seraya membuka pintu kamarnya.


Dokter muda itu mencari sang istri di semua sudut rumahnya. Bibi sang asisten rumah tangga pun tak lupa ditanya keberadaan sang istri. Namun, setelah satu jam mencari istri kecilnya itu tidak kunjung menampakkan wajahnya.


"Bi, tadi istriku ada pamit mau pergi ke mana, nggak?" tanya Keenan dengan raut wajah cemas memikirkan keberadaan sang istri yang belum diketahui sampai sekarang.


"Bibi tidak tahu, Tuan. Tadi Nona Shania tidak ada pamit sama kami. Hanya saja dia keluar bawa mobil," jawab wanita yang rambutnya sudah mulai memutih itu.


"Ke mana dia? Dari tadi dihubungi tidak dijawab, dikirim pesan tidak dibaca atau dibalas," gumam Keenan sembari berulang kali mencoba menghubungi sang istri.


Keenan masuk ke kamarnya karena sudah merasa gerah, dia juga ingin membersihkan diri. Badannya terasa lengket setelah seharian beraktivitas di rumah sakit. Tak berapa lama kemudian, suami Shania itu selesai dengan urusannya di kamar mandi


Betapa terkejutnya laki-laki itu, mendapati lemari sang istri yang hanya tinggal sedikit. Keenan kembali menghubungi sang istri, tetapi suara operator yang menjawab. Setelah berulang kali menghubungi dan hanya dijawab operator, Keenan terduduk lesu di pinggir ranjang.


Baru tadi malam merasakan jadi suami yang seutuhnya, sekarang sang istri sudah kabur entah kemana. Saat dia berangkat ke rumah sakit, sang istri tidak menunjukkan gelagat mencurigakan sama sekali. Shania tetap seperti biasanya sehingga Keenan pun berpikir jika sang istri akan tetap di rumah karena kondisinya.


Sementara itu, Shania yang kabur dari sang suami sudah sampai di rumah Shaila. Tadi pagi, begitu Keenan berangkat ke rumah sakit, dia langsung pergi ke bandara. Dia merasa kesal karena suaminya itu memanfaatkan keadaannya yang tidak sadar untuk mengambil harta berharganya.


Menurut Shania, saat melakukan itu sama-sama dala keadaan sadar dan ikhlas menyerahkannya. Jika dalam pengaruh obat seharusnya sebagai seorang dokter, memberikan bantuan secara medis bukan memanfaatkannya. Shania yang sudah mulai bisa menerima Keenan sebagai sang suami pun merasa kecewa dan memilih pergi.


Shania yang suka dengan kebebasan tidak ingin terus dikekang oleh Keenan yang terlalu posesif. Shania ingin seperti sang ayah dan ibunya yang bekerja di rumah sakit dengan profesional. Sang ayah selaku pemilik rumah sakit dan ibu sebagai dokter yang bekerja di bawah naungan sang ayah tidak sekali pun menunjukkan hubungan istimewa mereka.


Berbeda dengan orang tuanya, Keenan selalu menunjukkan pada tenaga medis lain jika Shania hanya miliknya seorang. Setiap ada lawan jenis yang menyapa, suaminya itu langsung menegur atau pun menunjukkan secara langsung jika mereka pasangan suami istri. Hal ini membuat kakak Shaila itu merasa jengah dan tidak nyaman.

__ADS_1


"Kakak mungkin bertingkah yang membuat suami kakak cemburu, mungkin? Jadi, Kak Keenan melakukan itu semua," sahut Shaila ketika sang kakak selesai bercerita betapa posesifnya sang suami.


"Mana ada Kakak kek gitu," bantah Shania dengan wajah kesalnya


"Seharusnya para perempuan itu seneng, memiliki suami yang posesif karena akan diratukan. Tapi, Kakak malah kesel," ucap Shaila sambil menggelengkan kepala.


"Ya, lihat-lihatlah! Masa ngobrol sama dokter senior saja sudah cemburu. Ngobrol dengan pasien dan ramah sama mereka juga tidak boleh. Yang benar saja, periksa pasien dengan wajah jutek yang ada kabur semua pasien rumah sakit," ujar Shania dengan wajah memerah menahan amarah setiap kali mengingat kejadian-kejadian itu.


"Kakak numpang tidur di sini, boleh? Jangan bilang daddy sama mommy, apalagi Keenan!" tanya Shania sambil berjalan tertatih mengikuti sang adik.


Melihat cara jalan sang kakak, Shaila pun menjadi curiga dan akhirnya bertanya.


"Tadi malam berapa ronde, Kak? Kok jalannya sampai begitu."


Melihat sang kakak yang tampak malu-malu, Shaila semakin ingin mengerjai kakaknya itu. Apalagi sudah lama keduanya tidak bercanda.


"Ganasnya juga Kak Keenan ya, Kak? Eeh, dia 'kan made in luar negeri pasti ganas dan memuaskan dong. Betul nggak?" cecar Shaila dengan menahan senyum.


Shania langsung berbalik dan menempelkan punggung tangannya di dahi sang adik, lalu terdiam sebentar.


"Nggak panas! Biasa aja, tapi kenapa ngelantur ngomongnya?" ucap Shani dengan dahi berkerut pura-pura sedang berpikir kerasa.


Buahahaha ....

__ADS_1


Kakak beradik itu tertawa lepas bersama. Sudah lama mereka tidak seperti ini rasanya rindu menikmati moment dimana mereka bisa bercanda dan tertawa bersama.


"Bagaimana dengan suami kamu sekarang? Sudah lama kamu tidak cerita sama Kakak," tanya Shania begitu mereka sudah berada di kamar tamu.


Shaila pun bercerita jika dia telah salah paham pada sang suami karena sikapnya yang kaku itu. Setelah tahu jika sang suami begitu mencintainya, Shaila juga merasakan hal yang sama. Ikhlas menerima pasangan kita, bisa membuat cinta tumbuh dengan suburnya.


Rasa ikhlas menerima pasangan membuat, masing-masing merasa nyaman tinggal bersama. Menjalani pernikahan dengan rasa saling, saling menghormati dan melengkapi tanpa menuntut lebih. Cinta itu hadir dengan sendirinya di hati Shaila.


Saat Shaila sedang bercerita kehidupan rumah tangganya pada sang kakak, suami dan anak sambungnya pulang. Wanita muda itu langsung keluar dari kamar tamu meninggalkan sang kakak untuk menyambut suami dan anaknya.


Azka langsung berlari mendatangi ibu sambungnya. Tak lama kemudian, Arshaka pun mendekat memeluk dan mencium kening sang istri. Keluarga kecil itu tampak bahagia.


Bocah kecil itu langsung mencari pengasuhnya setelah memeluk sang ibu. Seperti biasa, Shaka akan mengusir sang anak jika baru pulang. Azka harus membersihkan diri dulu bersama sang pengasuh, baru kemudian diizinkan bergabung setelah bersih.


Tanpa malu atau canggung, Shaila langsung menempel pada sang suami. Wanita cantik itu bahkan mulai menempel dan mengendus bau suaminya yang terasa wangi baginya.


"Sayang, aku bau keringat loh ini," ucap Shaka sambil mengencangkan pelukannya pada sang istri.


Saat ini mereka memilih duduk di ruang keluarga karena Shaila tiba-tiba seperti terkena lem, maunya menempel pada sang suami.


"Nggak bau kok, wangi begini kok dibilang bau," jawab Shaila, semakin menyurukkan kepalanya di ketiak sang suami.


Shaka tertawa merasa geli dengan ulah sang istri yang akhir-akhir ini selalu mencari ketiaknya setiap kali pulang kerja. Dosen muda itu pun merasa aneh dengan kelakuan sang istri akhir-akhir ini. Sehabis mandi dikata bau, sedangkan saat berkeringat dibilang wangi.

__ADS_1


Shania yang mendengar derai tawa sang adik pun penasaran dan memutuskan untuk keluar kamar dan melihat apa yang dilakukan pasangan muda itu. Istri Keenan tercengang melihat kelakuan Shaila dan Arshaka di ruang keluarga.


__ADS_2