
Kalau sudah tiada, baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga....
Sebait lagu yang tengah menggambarkan suasana hati Shania saat ini. Merasa kehilangan sang suami yang pergi tanpa pamit dan tanpa kabar. Berulang kali sudah dia mencoba menghubungi suaminya itu, tetapi selalu operator yang menjawab.
Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan....
Satu bulan sudah kini Shania ditinggalkan sang suami di negeri Jiran. Ingin berburuk sangka tetapi dia sangat yakin Keenan adalah tipe laki-laki setia. Ditambah lagi, asisten pribadi sang suami baru saja menyusul ke Penang seminggu yang lalu.
Shania yakin terjadi sesuatu pada sang suami. Namun, dia tidak tahu apa yang menyebabkan sang suami tidak bisa dihubungi. Setiap kali menemui asisten pribadinya, jawabannya selalu saja mengatakan sang suami dalam keadaan baik.
Keadaan Keenan memang baik-baik saja. Saat ini sedang meninjau pembangunan rumah sakit di daerah terpencil bersama dengan pihak rumah sakit besar di Penang yang sedang menjalin kerja sama. Di daerah itu tidak ada jaringan selular sama sekali. Alat komunikasi penduduk setempat menggunakan jasa kurir untuk mengirimkan surat atau hanya untuk sekedar mengirim kabar.
Tidak semua bisa menggunakan jasa kurir karena jumlah yang terbatas dan biaya yang tinggi. Semua dokter dan tenaga lainnya yang tergabung dalam tim pembangunan rumah sakit itu, tidak ada yang bisa berkomunikasi dengan orang luar kecuali ke kota. Begitu juga dengan Keenan, setiap ada kesempatan ke kota pertama kali yang dia lakukan adalah mengecek email.
Waktu yang sebentar, membuat suami Shania itu tidak memiliki kesempatan untuk menghubungi sang istri atau pun keluarga lainnya. Dia berkomunikasi dengan asisten pribadinya melalui email, baik itu masalah pekerjaan maupun keperluan pribadinya.
Keenan memandangi wallpaper ponselnya yang memperlihatkan foto sang istri tetapi tidak menunjukkan adanya sinyal sama sekali.
"Apa kamu merindukan aku seperti aku merindumu? Semoga Allah selalu menjaga hatimu hanya untukku. Maaf belum sempat mengirim kabar padamu walau hatiku sangat merindumu."
Dosen muda itu tampak sendu karena menahan rindu. Sejak melakukan itu dengan sang istri rasa cintanya semakin dalam. Rasa takut kehilangan sang istri pun semakin kuat.
Sang asisten pribadi baru saja sampai sore tadi membawa serta dokumen penting yang harus ditandatanganinya. Keenan pun mulai disibukkan dengan pekerjaan yang dibawa oleh Rony, sang asisten. Selesai dengan pekerjaannya, suami Shania itu akan menghabiskan waktunya untuk memandang foto sang istri.
__ADS_1
Satu minggu pun berlalu, Rony sudah kembali ke Jakarta tiga hari yang lalu. Hari ini giliran Keenan dan tim yang akan meninggalkan tempat itu karena sudah dimulai pembangunan. Mereka akan kembali lagi nanti saat pembangunan sudah berjalan tujuh puluh lima persen.
Rony sudah diwanti-wanti oleh Keenan agar tidak mengatakan jika dia akan segera pulang ke Jakarta. Selama berjauhan, baik Keenan dan Shania sama-sama lebih mendekatkan diri pada Sang Pemilik untuk mengurangi rasa rindu yang membelenggu.
Keenan turun dari taksi tepat di depan gerbang rumahnya. Dia sengaja tidak meminta jemput pada sang asisten atau pun salah satu keluarganya, karena tidak ingin kepulangannya diketahui sang istri. Laki-laki itu ingin membuat kejutan untuk Shania.
Maksud hati ingin memberi kejutan pada sang istri, tetapi dia sendiri yang terkejut melihat ada wanita berhijab sedang duduk manis di ruang keluarga dengan jajanan berserak.
Ada piring berisi spagheti, mangkuk berisi bakso dua butir, bahkan ada juga mangku berisi rujak serta serta mangga mentah bersama sambalnya. Wanita berhijab itu tampak lahap memakan mangga muda yang dicolekkan dengan sambal berwarna coklat pekat.
Keenan langsung memanggil para pekerjanya dengan lantang sehingga membuat wanita berhijab itu terjengit kaget dan menumpahkan mangga muda di pangkuannya. Wanita berhijab itu, membulatkan matanya begitu melihat sang suami berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kee, kamu sudah pulang?" tanya Shania sambil berjalan mendekati sang suami.
"K-kamu siapa? Berani-beraninya mengacak-acak rumahku, bahkan bertingkah sok akrab denganku." Keenan balik bertanya pada wanita berhijab di depannya.
Istri Keenan yang sudah mulai hijrah itu berjalan mendekati sang suami dengan air mata menetes di pipi. Rasanya tidak percaya saat sang suami tidak mengenali dirinya kini.
Keenan mematung memandang wanita cantik di depannya. Dia memindai dari kepala hingga ujung kaki. Penampilan wanita di depannya itu berbeda jauh dengan sang istri yang selalu berpenampilan seksih.
"Kamu Shania Azzahra, istriku? Kamu cantik sekali, sangat cantik." Keenan akhirnya mendekati sang istri lalu memeluk dan sesekali mencium puncak kepalanya.
"Maaf aku tidak bisa mengenali kamu tadi. Kamu sangat cantik sekali sekarang," ucap Keenan meminta maaf dan memuji dalam satu kesempatan.
Shania menangis tergugu dalam pelukan sang kekasih halal. Rasa rindu itu kini terobati dengan kepulangan sang suami walaupun belum sepenuhnya.
__ADS_1
"Maafkan aku Kee, banyak salah dan dosaku selama ini ke kamu. Aku mohon ampuni aku yang tidak pernah menyenangkan hatimu," ucap Shania di sela isak tangisnya.
"Ssttt, kamu ngomong apa? Aku selalu memaafkan kamu, sebelum kamu meminta maaf. Allah saja mau memaafkan setiap hambanya yang bertobat, masak aku yang hanya manusia biasa tidak mau memaafkan. Apalagi istriku yang sekarang telah banyak berubah." Keenan menjawab dengan senyum mengembang.
"Semoga istiqomah ya, Sayang. Tantangan terberat seseorang itu yaitu untuk istiqomah saat memulai berhijrah karena banyak godaan yang menerpa," lanjut Keenan seraya menuntun sang istri menuju kamar.
Saat baru beberapa langkah, istri Keenan menghentikan langkahnya lalu menatap sang suami.
"Kamu mau minum kopi atau teh atau minuman dingin?" Shania menawarkan sang suami minum, dia tahu suaminya itu pasti lelah dan haus setelah melakukan perjalanan jauh.
Keenan tersenyum haru, baru kali ini selama menjadi istrinya, Shania menawarkan minuman.
"Susu saja. Kalau ada yang langsung dari sumbernya," jawab Keenan sambil menatap dada sang istri.
Shania yang awalnya tidak paham dengan maksud ucapan sang suami sempat terbengong beberapa saat. Namun, begitu melihat tatapan mata sang suami dia paham dan langsung memukul lengan sang suami pelan.
"Dasar m3soom! Aku serius Kee, kalau tidak mau ya sudah aku bantu membereskan baju kamu saja," ujar Shania akhirnya.
"Buatkan aku kopi saja, seperti biasa gulanya sedikit nggak usah pakai susu. Nanti susunya aku ambil sendiri dari sumbernya langsung," pinta Keenan akhirnya dan diangguki oleh Shania.
"M3soom parah!" teriak Shania sambil berjalan menuju pantry.
Keenan yang mendengar jeritan sang istri, tertawa lepas. Baru kali ini sejak menikah dia bisa tertawa lepas. Laki-laki itu berjalan menuju kamar dengan senyum menghiasi wajahnya.
Shania membawa secangkir kopi ke dalam kamar, lalu meletakkannya di atas meja nakas. Setelah itu dia menyiapkan baju ganti sang suami karena terdengar suara gemericik air dari kamar mandi tanda Keenan sedang mandi.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Keenan keluar hanya menggunakan handuk melilit pinggangnya. Dia mendekati sang istri yang menutup jendela dan gorden. Lelaki itu memeluk sang istri dari belakang.
"Aku kangen," ucap Keenan tepat di belakang telinga Shania, sehingga istrinya itu merinding.