Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 69


__ADS_3

Perut Shaila tiba-tiba terasa mulas dan kencang. Rasanya seperti ingin buang air besar tetapi bukan. Janin di dalam perutnya pun seperti sedang melakukan senam akrobat.


Benar-benar nikmat seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu. Wanita yang dua hari lagi genap sembilan belas tahun itu tampak kesakitan tetapi dia berusaha tenang kala melihat sang suami yang tiba-tiba panik.


Simbok sang asisten rumah tangga yang kebetulan melihat kejadian itu langsung berteriak.


"Ya ampun, Bubun mau melahirkan!" Asisten rumah tangga Arshaka yang latah itu berteriak tidak jelas, sehingga mengundang rasa ingin tahu Mbak Rina yang sedang menemani Azka belajar.


"Azka lanjutkan belajarnya, Mbak mau lihat Simbok sebentar," pamit Mbak Rina pada sang tuan muda.


"Hmm," jawab Azka tanpa menoleh sama sekali, pandangan matanya fokus pada buku pelajaran.


Mbak Rina berlari keluar dari kamar Azka dengan tergesa. Saat sampai di ruang keluarga tampak Simbok sang ART menenteng tas menuju pintu. Dia tidak melihat sang majikan, baik majikan perempuan maupun laki-laki.


"Mbok, mau ke mana?" tanya Mbak Rina.


"Itu tuh, itu ...."


Mbak Rina mendekati simbok lalu menabok lengannya pelan.


"Bubun! Eh, Bubun!"


"Kenapa Bubun?"


"Bubun mau melahirkan, Rin," jawab Simbok akhirnya.

__ADS_1


Mba Rina mengangguk dan membiarkan Simbok melanjutkan langkah menuju mobil sang majikan. Simbok ikut masuk ke mobil atas permintaan sang majikan. Sementara Mbak Rina di rumah menemani majikan ciliknya yang sedang belajar.


Ditinggal terlalu lama, membuat bocah usia empat tahun itu merasa heran dan kehilangan sang pengasuh. Bocah kecil itu keluar kamar mencari sang pengasuh.


"Mbak Rina!" teriaknya dengan wajah merah karena kesal ditinggalkan begitu saja.


Mbak Rina yang sedang menutup pintu utama terkejut mendengar sang majikan cilik sudah berteriak dengan suara lantang. Gadis berusia matang berumah tangga itu sudah menduga sebelumnya, jika sang anak pasti mengamuk. Oleh karena itu, dia bergegas mendatangi sang majikan cilik, lalu mengajaknya kembali ke kamar untuk melanjutkan belajar.


Selesai belajar, Azka tidur seperti biasanya. Bocah itu sudah dibiasakan tidur siang setelah belajar siang. Arshaka mengajarkan disiplin dan tanggung jawab sejak dini, sehingga tanpa diperintah pun anak itu sudah tahu apa yang harus dilakukan.


Sementara itu di rumah sakit, Arshaka yang tidak tega melihat sang istri kesakitan menyarankan untuk operasi cesar. Bukan hanya karena tidak tega melihat sang istri yang mengerang kesakitan, tetapi terlebih tidak tega jika sang istri harus melahirkan dua bayi dalam hitungan menit. Istrinya itu pasti akan kehabisan tenaga.


Sebelum terjadi sesuatu di luar kehendak, Arshaka memaksa dokter untuk melakukan operasi saja. Setelah berulang kali dibujuk dan diberi pengertian, akhirnya Shaila mau melakukan operasi cesar untuk proses persalinan.


Kini, di sinilah mereka, di depan ruang operasi menunggu proses kelahiran si kembar. Nathan dan Dewi serta keluarga Mandala duduk menunggu kelahiran sang cucu dengan gelisah. Arshaka sendiri ikut masuk ke ruang operasi menemani sang istri tercinta.


"Alhamdulillah," ucap mereka serentak tanpa dikomando sebelumnya.


"Cucu kita, Pa," ucap nyonya Mandala bahagia seraya menggenggam tangan sang suami.


"Masih satu lagi, Jeng," sahut Dewi begitu saja karena rasa antusias menyambut kelahiran sang cucu.


Nyonya Mandala mengangguk mengiyakan ucapan sang besan. Sungguh dia merasa bahagia bisa memiliki cucu yang terlahir dari rahim Shaila. Wanita yang dinikahi anaknya itu memang tergolong masih remaja, tetapi cara berpikirnya sudah dewasa, seperti orang yang sudah memiliki banyak pengalaman.


Sepuluh menit kemudian, bayi kedua diangkat dari rahim sang ibu. Kedua jenis kelamin bayi itu adalah laki-laki. Selama dalam kandungan jenis kelamin mereka tidak bisa dilihat, sehingga Arshaka dan Shaila memutuskan untuk tidak melihat jenis kelamin sang anak.

__ADS_1


Nathan melakukan sujud syukur begitu mendengar anak dan kedua cucunya dalam keadaan baik-baik saja. Apalagi sejak diberi tahu kedua cucunya berjenis kelamin laki-laki. Degan begitu akan ada penerus yang akan mengurus rumah sakitnya.


Arshaka sejak tadi yang mendampingi sang istri, tidak berhenti menciumi sang istri. Berulang kali, tangan besarnya itu mengusap puncak kepala Shaila lalu merapikan rambut sang istri yang tampak berantakan dan bercampur keringat.


"Terima kasih, Sayang. Kamu wanita hebat," ucap Arshaka seraya mengecup punca kepala sang istri.


Shaila hanya menjawab dengan anggukan dan senyum manisnya.


Tak lama kemudian setelah kedua bayi itu dibersihkan, Arshaka diminta dokter untuk melakukan kontak skin to skin pada kedua bayinya. Laki-laki yang kini menjadi ayah tiga anak itu memeluk kedua bayinya sambil mengumandangkan adzan dalam posisi duduk memeluk si kembar.


***


Sementara itu di Bandung, Keenan tiba-tiba merindukan masakan Laras. Lidahnya yang sudah terbiasa merasakan enaknya masakan dokter cantik itu tiba-tiba ingin kembali mencicipi. Kesibukan Shania juga kehamilannya membuat istri Keenan itu tidak sempat memanjakan lidah sang suami.


Selain karena sibuk kerja juga perut yang membuncit membuat Shania melupakan tugas utamanya sebagai seorang istri. Sebenarnya istri Keenan itu tidak begitu pandai memasak, karena sejak kecil tugas dia hanya belajar dan belajar. Dia tidak pernah menyambangi dapur walau sekedar memasak air.


"Sayang, besok aku kembali ke Jakarta, ya? Ada pekerjaan yang harus aku urus," pamit Keenan pada sang istri.


Pemilik rumah sakit itu sengaja mengatakan rencanannya, setelah pasangan itu melewati malam panas mendaki puncak nirwana. Hal ini untuk menghindari amukan sang istri yang sekarang menjadi moody-an setelah hamil. Bumil itu selalu benar sehingga sulit untuk dipatahkan argumen-nya.


"Katanya mau di sini sampai lahiran? Baru juga memasuki bulan tujuh malah sudah bosan di sini." Mata Shania tampak berkaca-kaca saat mendengar sang suami pamit pulang ke kota.


"Masih lama lagi perkiraan lahirnya. Jadi, sabar dulu. Aku tidak akan lama ninggalin kamu. Percayalah, aku akan segera kesini lagi setelah urusan di sana selesai. Ok?"


Usia kandungan Shania sudah memasuki bulan ketujuh. Namun, semakin mendekati hari persalinan, istri Keenan itu semakin rewel dan tidak mau ditinggal sendiri. Dia selalu ingin berada di dekat sang suami, padahal dia tahu itu tidaklah mungkin.

__ADS_1


Sang suami yang sudah memiliki rumah sakit dan membuka praktek, serta mengajar di sebuah universitas ternama membuat Keenan tidak bisa terus mendampingi sang istri menjalani internship. Sebelumnya, laki-laki itu sudah meminta sang istri untuk menunda internship karena sedang mengandung, tetapi tidak diindahkan.


"Jangan pergi, aku masih merindukanmu!" pinta Shania dengan tatapan memohon.


__ADS_2