Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 62


__ADS_3

Hari telah berganti Minggu, pun demikian Minggu berganti bulan. Empat bulan sudah berlalu, duo bumil itu puas membuat pasangan masing-masing kalang kabut karena mood yang seperti roller coaster serta ngidam yang tidak wajar. Untungnya masa morning sickness mereka tidak begitu lama menyiksa.


Hari ini adalah hari keberangkatan Shania mengikuti internship setelah mendapat gelar dokter. Istri Keenan itu mendapat daerah di Bandung. Dia melaksanakan internship di Puskesmas sebuah desa yang lumayan terpencil tetapi mudah aksesnya.


Daerah di mana Shania akan mengabdi selama setahun terdapat tower salah satu pemilik usaha telekomunikasi di Indonesia, sehingga mudah untuk bertukar kabar atau pun informasi melalui jalur udara. Jika terjadi apa-apa bisa langsung sampai kabarnya.


"Sehat-sehat, ya! Kalian di sana, maaf Mama tidak bisa mendampingi kalian," ucap ibu mertua Shania saat istri Keenan itu pamitan pada mertuanya.


"Aamiin, Mama dan Papa jaga kesehatan juga di sini. Maaf, belum bisa menjadi menantu seperti yang Mama dan Papa harapkan," sahut Shania seraya mencium punggung tangan sang mertua.


Kedua mertua Shania sengaja datang ke rumah Keenan hanya untuk melepas kepergian sang menantu untuk melakukan internship ke kota Bandung. Mereka tidak bisa mengantarkan menantu satu-satunya itu karena ada acara pertemuan dengan beberapa relasi bisnisnya.


Keenan ikut mencium punggung tangan orang tuanya bergantian sebelum masuk ke dalam mobil. Suami Shania itu sengaja memakai sopir agar bisa bermanja sama sang istri. Selain itu, agar badannya tidak terlalu capek saat harus kembali bekerja kembali. Laki-laki itu juga tidak lupa membawa asisten rumah tangganya agar bisa membantu sang istri selama di desam


"Ayok, Sayang. Kita berangkat sekarang, biar nanti tidak kesiangan sampai sana," ajak Keenan sembari membukakan pintu untuk sang istri, tak lupa tangannya melindungi kepala sang istri agar tidak terbentur bagian atas mobil.


Shania masuk ke mobil setelah cipika-cipiki dengan sang ibu mertua. Disusul oleh Keenan di samping Shania, sedangkan Bi Iyem duduk di bangku depan. Mobil pun melaju perlahan sesuai arahan dari Keenan.


"Rasanya aku tidak tega melepas kalian di daerah itu. Pasti kamu kesulitan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Selama di Jakarta saja, aku harus berkeliling Jakarta untuk mendapatkan setiap yang kalian inginkan," ucap Keenan sendu, tangannya mengusap perut sang istri pelan.


"Jangan nyusahin Mama, ya Nak. Papa tidak bisa menemani kalian. Sehat selalu sampai kita bertemu empat bulan lagi." Keenan mengajak sang anak berbicara, kemudian mengecup perut buncit sang istri.

__ADS_1


"Adik nggak akan nyusahin Mama, Papa. Adik janji," ucap Shania dengan suara mirip anak kecil.


Gemas melihat sang istri yang bertingkah bak anak kecil, Keenan langsung menyambar bibir berwarna nude itu. Memagut, menyesap lalu m3lum4t dengan lembut bibir Shania. Lidah keduanya saling membelit karena wanita hamil itu membalas ci uman sang suami.


Setelah beberapa saat, barulah Keenan melepaskan pagutannya. Kesempatan itu digunakan oleh Shania untuk menghirup udara segar untuk mendapatkan pasokan oksigen yang hampir habis karena ci uman panas tadi.


"Nanti malam kita menginap di hotel saja, ya? Besok pagi aku harus kembali ke Jakarta," bisik Keenan dengan tatapan penuh makna.


Sebenarnya Keenan sudah melarang sang istri untuk mengikuti internship karena kondisinya yang berbadan dua. Namun, keinginan sang istri yang ingin segera mendapatkan Surat Izin Praktek(SIP), pemilik rumah sakit itu harus merelakan sang istri. Laki-laki itu sudah berjanji akan membebaskan sang istri berkarir sebagai syarat mereka menikah, sebagai laki-laki yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya, kini dia harus menepati janjinya.


Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di desa yang dituju. Walaupun desa itu disebut desa terpencil, jalanan serta infrastruktur yang ada sudah cukup memadai untuk ukuran sebuah desa terpencil. Selain itu tempat itu juga sangat bersih dan memiliki daya tarik sendiri.


Selesai acara penyambutan, Shania diantar ke rumah dinas yang telah disediakan oleh pihak pemerintah setempat. Di Puskesmas itu, hanya dia sendiri yang melakukan internship. Dokter yang bertugas di sana sudah diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sudah berkeluarga sehingga dia hanya tinggal sendiri di rumah dinas itu.


"Ternyata kita tidak perlu sewa kamar hotel, rumah ini sudah bisa kita tempati sekarang juga. Mereka menyiapkan semua ini untuk kamu, Sayang," ucap Keenan begitu mereka masuk ke rumah dinas.


Rumah dinas itu memiliki tiga kamar tidur, sehingga sopirnya bisa menginap juga di rumah tersebut. Rumah tersebut tampak baru selesai direnovasi, hal ini bisa diketahui dari bau cat yang begitu menusuk hidung. Perabot yang ada juga masih baru semua.


Saat pasangan suami istri itu sedang melihat-lihat rumah dinas, datang Bapak Kepala Desa bersama beberapa warga membawa bahan makanan untuk mereka. Sungguh penyambutan yang sangat baik dari pemerintah dan warga setempat.


"Seharusnya Pak Kades tidak usah repot-repot begini. Kami sudah membawa asisten rumah tangga yang biasa membantu istri saya di rumah," kata Keenan merasa sungkan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Dokter. Kami sangat bahagia karena ada dokter muda yang bersedia ditempatkan di sini. Dokter Fadil sebentar lagi akan pindah ke kota kelahirannya. Jadi, kami sangat berharap dokter Shania bisa menggantikan dokter Fadil," jawab Pak Kades.


"Kalau istri saya dibandingkan dengan dokter Fadil, sudah pasti istri saya kalah jauh. Sepak terjang dokter Fadil jauh lebih lama dibanding dengan saya," ujar Keenan merendah.


"B-bukan m-maksud untuk menyakiti atau pun menyinggung perasaan Ibu dan Bapak. Saya sebagai penduduk asli di sini hanya ingin ada seorang dokter yang benar-benar mau mengabdi di sini, seperti dokter Fadil," ungkap Pak Kades dengan terbata, ada keringat yang mulai menetes.


Pak Kades itu sudah tahu siapa laki-laki muda yang ikut serta mengantar dokter muda yang ditugaskan di Puskesmas. Nama Keenan sudah terkenal di dunia medis karena tangan dinginnya. Banyak pasien yang memiliki riwayat penyakit berat berhasil disembuhkan oleh suami Shania itu.


Bukan itu saja, pasien-pasien dengan kartu BPJS pun akan dilayani dengan baik. Tidak ada perbedaan perlakuan yang menunjukkan siapa lebih baik dari yang lain. Semua pasien mendapatkan perlakuan yang sama.


Akhirnya, Keenan dan para tamu yang datang sore ini, bercengkrama seolah-olah sudah mengenal satu sama lainnya, sampai lupa waktu. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam sampai tidak terasa waktu pun akan berganti.


"Kami pamit pulang, Dok. Semoga dokter Shania betah mengabdi di sini."


*


*


*


__ADS_1


__ADS_2