Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 50


__ADS_3

Shaka tampak mencium puncak kepala Shaila yang berada di bawah ketiaknya dengan posisi berbaring di sofa panjang yang ada di ruang keluarga. Istri muda pak dosen itu akhir-akhir ini sangat senang menyurukkan kepala ke ketiak sang suami sambil mengendus baunya. Pada awalnya sang suami merasa risih dan geli, tetapi hatinya sangat bahagia.


Tidak hanya itu saja, Shaila pun menjadi lebih ekspresif dan selalu meminta terlebih dahulu jika sang suami belum mandi. Setiap Arshaka sudah mandi dan wangi seperti biasanya, dia akan diusir sang istri. Oleh karena itu, laki-laki itu sering mandi tanpa menggunakan sabun atau pun sampo, bahkan tanpa parfum juga.


Begitu sampai di kantor barulah dia memakai parfum. Setelah seharian beraktivitas dan berkeringat, bau parfum yang bercampur keringat akan menjadi favorit sang istri.


"Sayang, sudah mandi?" tanya Shaka masih dengan posisi semula, wajah sang istri di bawah ketiaknya dan dosen muda itu akan mencium puncak kepala sang istri dengan penuh kasih.


"Sudah, memang masih bau ya, Mas?" Shaila menjawab pertanyaan sang suami dengan pertanyaan


"Enggak, sudah wangi kok. Mas cuma mau mengajak kamu keluar sebentar. Mau?"


"Mau! Memangnya kita mau kemana? Sekarang aja kita berangkat, mumpung masih jam segini," jawab Shaila dengan antusias seraya bangun dari rebahan.


Sementara itu, Shania hanya menjadi penonton kebahagiaan pasangan muda itu. Mantan perawan itu merasa aneh karena hatinya tidak merasakan sakit melihat kebahagiaan adiknya itu. Tak ada rasa iri atau pun cemburu, hanya rasa haru yang tiba-tiba menyeruak dalam kalbu.


"Sebentar, Sayang. Mas mandi dulu," ujar Arshaka ketika sang istri langsung mengajak berangkat.


"Mas sudah wangi ihh! Ngapain pakai mandi segala, mau tebar pesona?"

__ADS_1


Rasa cemburu tiba-tiba menyerang ibu muda itu. Tidak hanya kali ini, setiap kali sang suami keluar rumah tampak rapi dan ganteng, selalu merasa curiga dan cemburu.


"Tidak ada! Siapa yang mau tebar pesona? Cukup kamu yang selalu berdiri di belakangku memberi dukungan dan do'a yang tak pernah putus. Cukup kamu yang selalu di sisiku mendampingi di setiap langkah kaki mengayun. Tanpa kamu, aku tidak akan pernah maju. Tanpa kamu juga, aku tidak bisa menjadi laki-laki yang seperti sekarang," ucap Arshaka penuh kesabaran menghadapi sang istri yang akhir-akhir ini mudah curiga dan cemburu.


"Ayo berangkat sekarang. Ehh, simpan tas kamu dulu ding!" ujar Shaila nyengir sembari menenteng tas kerja menuju kamar.


"Iyaa, kita berangkat sekarang."


Arshaka memilih menuju dapur untuk menyimpan gelasnya yang tadi dibawa sang istri saat dirinya baru pulang kerja. Begitu akan kembali ke ruang keluarga, laki-laki itu terkejut melihat sang kakak ipar berada di rumahnya.


"Hai, Mantan. Lihat aku kok kek lihat hantu. Kenapa? Kaget ya," sapa Shania dengan senyum genitnya.


Arshaka merasa tidak enak pada sang istri, laki-laki itu takut sang istri salah paham dan marah lagi, apalagi akhir-akhir ini dia begitu sensitif dan moodian. Dosen muda itu sampai bingung menghadapinya. Suami Shaila itu memilih menghindari sang mantan sekaligus kakak iparnya dari pada kehilangan sang istri.


Shania yang melihat sang mantan menjauh pun membuntuti Arshaka dari belakang sambil menahan sakit di area pangkal pahanya. Hal ini dia berjalan cepat untuk menyamakan langkah suami adiknya. Dia tidak merasa takut sama sekali jika sang adik akan cemburu.


Shaila yang baru menghampiri sang suami merasa heran melihat laki-laki yang dicintainya itu merasa tidak nyaman berada di dekat sang mantan. Alisnya menyatu, pikirannya berkecamuk berbagai macam pertanyaan siap dia tumpahkan.


"Kita berangkat sekarang, Mas?" tanya Shaila untuk menghilangkan rasa canggung di antara mereka bertiga.

__ADS_1


"Ng, ayok!" sahut Arshaka seraya berjalan ke arah mobilnya.


Shaila pamitan pada kakaknya sebelum masuk ke mobil sang suami. Istri Arshaka itu tidak lagi merasa cemburu pada sang kakak karena perlakuan sang suami yang selalu romantis sejak kejadian beberapa bulan yang lalu.


Begitu sang istri duduk dan memasang seatbelt, Arshaka pun melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah minimalis itu. Saat mobil yang membawa mereka berbaur menjadi satu dalam keramaian jalan raya, Shaila menanyakan tujuan mereka


"Kita periksa kamu sebentar, Sayang. Mas curiga, di sini telaah tumbuh penerus Mandala," jawab Arshaka seraya mengusap kepala sang istri lembut.


"Aku sehat, Mas. Lagian, aku tidak merasa ada yang aneh dengan diriku," elak Shaila.


"Yang bilang kamu tidak sehat siapa sih, Sayang? Mas cuma bilang periksa dulu, mana tahu ada adik Azka di sini." Arshaka menjawab sembari mengusap perut sang istri, berharap istri kecilnya ngantuk.


Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di klinik ibu dan anak. Arshaka tadi sebelum berangkat sudah mendaftar sehingga mereka hanya menunggu sebentar saja, langsung mendapat giliran.


"Boleh tahu apa saja keluhan Ibu?" tanya dokter kandungan itu dengan ramah.


"Tidak ada keluhan apa-apa sih, Dok. Hanya saja moodnya mudah berubah, terus ada saja yang membuat dia nangis atau marah-marah tidak jelas.


Mereka berdua konsultasi tentang keadaan Shaila yang aneh akhir-akhir ini. Selain itu, istri Arshaka juga terlambat datang bulan. Kecurigaan Arshaka terbukti setelah dilakukan USG pada perut ibu sambung Azka itu.

__ADS_1


__ADS_2