Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 51


__ADS_3

"Bisa kita lihat di sini ya, Pak, Bu. Wah, Masya Alloh anak Bapak ternyata kembar. Selamat ya, Pak, Bu," ucap dokter kandungan seraya menggerakkan transducer di perut Shaila.


"Usia mereka sudah menginjak tujuh minggu, jadi masih sebesar kacang kedelai. Bapak dan ibu harus bekerja sama menjaga mereka karena hamil kembar itu tidaklah mudah," imbuh sang dokter.


Arshaka yang mendengar sang istri hamil kembar merasa sangat bahagia sehingga air matanya tak terasa menetes di pipi. Ayah muda itu mengusap air matanya dengan kasar sambil tersenyum lebar. Tak lupa mengecup kening sang istri yang sedang berbaring berulang kali.


"Terima kasih, Sayang," ucap Arshaka penuh haru, dadanya bergemuruh karena terlalu bahagia.


Shaila maupun Arshaka menanyakan seputar kehamilan yang dialami oleh ibu muda itu. Apa saja yang belum keduanya ketahui mereka tanyakan pada sang dokter. Walaupun sebenarnya sedikit banyak Shaka sudah tahu karena ini adalah kehamilan kedua yang dia hadapi.


Shaila yang merupakan keturunan seorang dokter, hanya mengetahui sedikit informasi. Lebih banyak bertanya dibandingkan sang suami. Semua ini demi kebaikannya yang hamil di umur yang masih muda.


Selesai urusannya di klinik, Arshaka mengajak sang istri pulang. Takut Azka akan mencari mereka karena saat berangkat tadi, bocah itu sedang mandi bersama Mbak Rina. Sebenarnya bocah itu sering ditinggal bersama sang pengasuh, hanya saja ayah muda itu lebih tenang meninggalkan sang anak jika berpamitan.


Begitu sampai rumah, kedatangan mereka disambut dengan muka masam oleh sang anak. Bocah itu merajuk karena tidak diajak keluar, padahal dia ingin ikut. Oleh karena itu untuk menunjukkan protesnya, Azka hanya diam tidak mau menyahuti ucapan orang tuanya.


"Azka marah ya, sama ayah dan bunda?" tanya Shaila dengan posisi berdiri dengan lutut sebagai penopangnya.


"Kalian jahat, pergi nggak ajak-ajak Azka. Ayah cuma sayang sama Bunda Ila, nggak sayang Azka lagi," teriak bocah tiga tahun itu.

__ADS_1


"Siapa yang bilang begitu, hmm? Kami sayang kok sama Kak Azka. Tadi kami perginya buru-buru, makanya nggak sempat pamit sama kamu." Shaila menghadapi sang anak sambung dengan sabar.


Tidak sedikit pun amarah atau rasa kesal menghinggapinya. Ibu muda itu memaklumi sifat anak kecil yang mudah terprovokasi. Shaila tahu ada yang mempengaruhi sang anak sehingga bisa berkata demikian yang di luar kebiasaannya.


"Kalau ada yang tanya itu dijawab, Sayang," imbuh Shaila lagi masih dengan stok sabar yang banyak.


"Onty Nia yang bilang. Katanya ayah sama bunda pergi jalan-jalan hanya berdua saja, nggak ajak Azka. Itu tandanya kalian nggak sayang Azka," jawab bocah kecil itu dengan polosnya.


Shaila dan Arshaka saling berpandangan, ada raut terkejut mendengar jawaban sang anak. Pantas saja anak itu tiba-tiba berubah menjadi aneh, padahal biasanya ditinggal pergi tidak pernah protes karena ada Mbak Rina yang selalu di sisinya. Jadi, walaupun ditinggal di rumah masih ada pendamping dia.


Shaila berdiri lalu mengajak sang anak menuju kamarnya. Dia ingin menjelaskan pada sang anak, bahwa dirinya dan sang suami sangat menyayangi bocah itu. Apa yang diucapkan oleh kakaknya itu tidaklah benar.


"Katanya Ayah mau kasih Azka adek, mana?" jawab anak itu dengan pertanyaan. Jangan lupakan wajah polosnya yang membuat gemas dua orang di depannya.


"Adiknya lahir masih lama lagi, sekitar tiga puluh dua minggu lagi. Jadi, masih lama sedangkan ulang tahun Azka tinggal dua minggu lagi," ucap Arshaka menjelaskan pada sang anak.


"Kalau Azka ulang tahunnya dua minggu lagi, lalu ayah Azka kapan ulang tahunnya?" celetuk Shaila tiba-tiba sehingga mengundang senyum sang suami.


Arshaka mengulas senyum tipisnya seraya mengacak surai hitam sang istri. Namun, tangannya dengan cepat ditepis oleh istri kecilnya itu.

__ADS_1


"Ihh, berantakan jadinya rambutku Mas!" pekik Shaila menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan sang suami dengan tangan berulangkali menepis tangan sang suami.


"Ini beneran nggak tahu apa pura-pura nggak tahu sih? Gemas deh," tanya Shaka penasaran.


Shaila menggeleng dengan memasang wajah seriusnya sebagai tanda bahwa dia memang tidak mengetahui kapan sang suami hadir ke dunia ini. Yang dia tahu tanggal lahir Azka, itu juga karena diberitahu oleh pengasuh anaknya.


Dosen muda itu tersenyum lalu menyuruh sang istri untuk mengambil buku nikah mereka. Dia ingin sag istri membaca data dirinya di buku nikah itu agar istri kecilnya itu tahu tentang dirinya. Dengan patuh, Shaila beranjak dan mengambil buku yang dimaksud.


Istri Arshaka itu terkejut tatkala membaca setiap informasi pribadi sang suami yang tertuang buku kecil berwarna hijau itu. Ternyata dia sudah melewatkan ulang tahun sang suami.


"Kenapa nggak bilang kalau dulu pas ulang tahun?" tanya Shaila dengan wajah merona, mengingat sang suami mengambil kadonya dengan paksa sampai dia susah berjalan.


"Kirain sudah tahu, soalnya kamu yang menyimpan kedua buku itu. Lain kali kalau ada buku itu dibaca, Sayang."


Shania yang sejak tadi menjadi penonton keluarga kecil sang adik dengan sang mantan itu, menjadi merindukan Keenan yang selalu perhatian seperti yang dilakukan oleh sang mantan terhadap adiknya. Awalnya Shaila juga bersikap sama seperti dia yang sulit menerima, tetapi kini sang adik sudah bisa menerima suaminya. Berarti, sudah saatnya juga wanita berparas ayu juga demikian.


Shaila dan Arshaka tidak menegur sang kakak yang telah meracuni pikiran anak mereka. Memilih diam dan memperhatikan bagaimana sang kakak bersikap, jika memang sudah terlewat batas baru akan dia tegur.


Sementara itu, Keenan baru saja sampai di kediaman mertuanya. Wajah dokter muda itu tampak lelah dan kusut, tidak secerah biasanya. Dia disambut baik oleh ayah dan ibu mertua dengan baik.

__ADS_1


"Mana Shania? Kenapa dia tidak ikut?" Keenan tampak kikuk mendapatkan pertanyaan yang tidak terduga sama sekali.


__ADS_2