Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 57


__ADS_3

Nathan dan Dewi selalu menasehati Shania di setiap ada kesempatan. Seperti pagi ini, mereka sedang menikmati sarapan bersama. Pasangan yang tak lagi muda itu tak pernah bosan menasehati sang anak demi kebaikan anaknya.


"Shania, sebagai seorang istri kamu wajib melayani dan menerima suamimu dalam keadaan apa pun. Dengan melayani suami secara ikhlas, insyaallah kamu bisa mendapat ridho suami yang kelak akan menjadi ladang pahala untukmu. Sebagai wujud ketaatan istri, bisa dinilai dari sikapnya menjalankan perintah suami serta melayani suami tanpa mengeluh, ikhlas, serta meniatkan segala sesuatunya karena Allah. Kami sangat berharap nanti setelah ini kamu bisa menjalankan nasehat kami." Nathan menyampaikan nasehat dengan mata berkaca-kaca.


"Ketaatan seorang istri itu disebutkan di salah satu hadist, seorang istri yang taat pada suaminya, niscaya ia aka masuk surga di pintu mana saja yang dikehendakinya. (Hadist Hasan Shahih no. 1296). Apakah kamu tidak ingin masuk surga, Nak?" lanjut Nathan setelah dilihatnya sang anak yang tampak menyimak setiap nasehat yang diberikan.


Laki-laki berusia lebih setengah abad itu merasa bersalah karena sikap sang anak yang kurang baik pada sang suami. Nathan merasa gagal mendidik sang anak. Semakin hari sikap Shania terhadap suaminya itu tidak ada perubahan.


Shania masih mudah marah, jika itu menyangkut pernikahan dadakannya. Istri Keenan Elard Guinandra itu mengatakan belum siap untuk menikah, jadi merasa tertekan dengan pernikahannya. Jadi, sebagai seorang ayah yang memikul tanggung jawab atas pendidikan sang anak, Nathan berkewajiban menasehati Shania dan Shaila jika sekiranya menyimpang dari ajaran agama.


Setelah mencerna dan memikirkan apa yang diucapkan oleh sang ayah, Shania pun pamit pulang ke rumah suaminya. Dengan mengendarai mobil sang suami, Shania pulang ke Jakarta. Selain karena ingin cepat menyelesaikan pendidikan, dia ingin ketika sang suami pulang dari Penang dirinya sudah berada di rumah.


Satu minggu sudah, Shaila dirawat di rumah sakit. Keadaannya sudah membaik karena sudah bisa menerima makanan yang tidak beraroma menyengat, sehingga sudah diizinkan untuk pulang. Arshaka membawa pulang istrinya dengan hati senang tetapi juga khawatir, takut kejadian sebelumnya terulang lagi.


Setelah pulang dari rumah sakit setiap hari Arshaka harus menyediakan buah segar untuk makan dan minuman sang istri. Istri mudanya itu hanya bisa makan salad buah dan minum jus buah. Selain konsumsi buah-buahan segar, istri Arshaka itu belum bisa mengkonsumsi masakan olahan apalagi susu.


Beberapa hari berada di rumah, Shaila tidak pernah rewel sekali pun. Dia menjalani harinya seperti biasa sebelum hamil, hanya makanan yang dikonsumsi berbeda dengan sebelumnya. Asisten rumah tangga yang dulu minta pulang kampung pun sudah kembali atas permintaan sang suami, sehingga dia tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.


"Mas, lapar," rengek Shaila saat terbangun di tengah malam.


Arshaka yang baru saja merebahkan tubuhnya karena baru menyelesaikan pekerjaan, bergegas bangun atau sang istri akan menangis jika tidak dituruti kemauannya.

__ADS_1


"Mau makan apa, hmm?" sahut Arshaka sambil menutupi mulutnya karena menguap.


"Pengen nasi panas yang disiram cumi asam manis," jawab Shaila menunjukkan wajah polosnya.


Arshaka menghela napasnya pelan, bukan tidak mau membelikan atau memasak. Dia hanya membayangkan sang istri muntah-muntah ketika berada di dekat makanan olahan. Namun, dia harus menuruti kemauan sang istri.


Semoga saja kamu tidak menyiksa bunda lagi, Nak. Jangan bikin bunda mual dan muntah lagi, kalau ayah sudah mendapatkan makanan itu!


Arshaka turun dari ranjang dan mengganti celananya dengan celana panjang. Sebelum berangkat memburu makanan yang diinginkan sang istri, lelaki yang sebentar lagi anaknya bertambah itu mencium kening Shaila.


"Sabar, ya. Mas cari dulu, semoga cepat menemukan makanan yang kamu inginkan," pamit Arshaka sebelum meninggalkan sang istri.


Sebelum pergi, Arshaka meminta asisten rumah tangga yang baru seminggu ini bekerja di rumahnya untuk menemani sang istri. Laki-laki itu khawatir terjadi apa-apa pada sang istri saat dirinya pergi mencari makanan yang diminta istrinya itu. Dia tidak ingin kejadian sang istri yang harus dibawa ke rumah sakit terulang lagi.


Satu jam sudah berlalu, sudah beberapa warung tenda yang dia datangi karena restoran sudah tutup. Tidak satu pun warung yang didatangi masih tersedia permintaan sang istri. Akhirnya dia memutuskan ke jalan Malioboro, dia hampiri semua warung tenda hanya untuk menanyakan menu cumi asam manis.


Di tenda ke dua puluh barulah dia mendapatkan apa yang diinginkan sang istri, itu pun hanya tersedia satu porsi lagi. Usia mendapatkan pesanannya, Arshaka bergegas pulang dengan kecepatan tinggi karena suasana jalan cukup lengang. Hanya beberapa pedagang yang lewat hendak ke pasar.


Tepat jam tiga, Arshaka memasuki kamarnya. Terlihat sang istri yang sudah bergelung di bawah selimut dan asisten rumah tangganya tertidur di atas karpet di bawah ranjang. Ayah Azka itu lalu membangunkan art tersebut untuk pindah kamar, setelah itu barulah dia membangunkan sang istri.


"Ngantuk, Mas. Kamu makan aja, aku mau tidur," jawab Shaila dengan mata terpejam saat dibangunkan oleh Shaka dan diberi tahu jika cumi asam manisnya sudah dapat.

__ADS_1


"Hah?"


Ingin rasanya tidak percaya tetapi sungguh terjadi. Mood bumil memang kadang menguji kesabaran. Namun begitu, Arshaka menyambut kehamilan istrinya dengan antusias dan bahagia yang tak terkira.


Alih-alih memakan cumi asam manis tadi, Arshaka malah menyimpan bungkusan tadi ke atas meja. Laki-laki itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menjalankan sholat malam. Setelah itu, suami Shaila mengambil mushaf dan mulai mengaji untuk menunggu waktu subuh.


Di belahan bumi lainnya, Shania juga sedang mengadukan nasibnya pada Sang Pemilik. Setelah mendengar nasehat sang ayah, wanita itu mulai berubah lebih baik. Dia mulai mengikuti kajian-kajian untuk membunuh rasa kesepian karena ditinggal sang suami.


Ketaatan pada suami dan ridho suami adalah kunci gerbang surga seorang istri. Sehebat apapun ilmu yang dimiliki, sebanyak apapun amalan ibadahnya. Sebanyak apa pun kebaikan yang telah dilakukan pada orang-orang di sekitarnya. Jika suami tidak ridho maka kunci surga tidak akan diterimanya.


Hal inilah yang sering dilakukan oleh wanita. Dengan sadar membangun mahligai rumah tangga, tetapi lupa menempatkan dirinya sebagai seorang istri. Tidak mau menaati suami.


Kata-kata itu terus terngiang di telinga Shania, sehingga istri Keenan itu dengan perlahan mulai berubah. Ditambah lagi sang suami yang tidak pernah memberinya kabar sampai hampir sebulan lamanya.


Jika kebersamaan tidak bisa membuat kita menghargai sesuatu yang kita miliki, maka perpisahanlah yang akan membuat kita sadar bahwa betapa kita sangat membutuhkan dia.


*


*


*

__ADS_1


Maaf othor kembali tumbang karena sibuk RL 🙏


__ADS_2