Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 75


__ADS_3

Akhirnya rombongan Arshaka dan keluarga sampai juga di rumah dinas Shania di Bandung setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh jam. Mereka membutuhkan waktu lebih lama dari pada biasanya karena sering singgah dalam perjalanan. Azka sering meminta setiap makanan atau mainan yang dilihatnya di pinggir jalan sampai sang ayah marah.


Kedatangan Arsakha sekeluarga disambut oleh Shania dan Keenan dengan raut wajah bahagia. Mereka saat ini sedang duduk di ruang keluarga, bercengkrama melepaskan rindu setelah sekian lama tidak bertemu.


"Masak dokter kalah sama kami. Kami saja bisa langsung jadi dua," ejek Shaka.


"Kamu yang kalah, kami menikah dua bulan sudah terdeteksi istriku hamill. Kalian menikah hampir setahun baru hamil. Usaha berapa kali baru berhasil," balas Keenan tidak mau kalah.


Dua laki-laki itu saling mengejek, tetapi tidak dengan pasangan mereka yang tampak berbincang serius membicarakan bayi-bayi mereka. Bayi Keenan dan Shania juga berjenis kelamin laki-laki, lahir secara normal. Bayi itu diberi nama Axelio Devano Guinandra.


Di saat orang tua baru itu asyik bercengkrama, tiba-tiba ada suara mobil berhenti di depan rumah dinas itu. Tak lama kemudian muncul asisten Keenan bersama sang kekasih, Laras. Mereka langsung masuk begitu saja karena pintu terbuka lebar, pertanda tuan rumah ada di tempat.


Seperti biasa kedatangan Rony untuk membahas pekerjaan yang ditinggalkan Keenan selama mendampingi sang istri menjalani internship di Bandung. Namun, kali ini selain membahas tentang pekerjaan, Rony ingin mengajukan cuti selama sebulan penuh.


"Tidak! Tidak! Kamu tidak boleh cuti selama itu. Bulan depan waktunya aku buka puasa. Kalian ambil cuti satu minggu saja, tidak usah bulan madu jauh-jauh. Paling kalian sudah ambil DP, 'kan?" tolak Keenan dengan tuduhan.


Rony dan Laras hanya bisa mengumpat dalam hati pada pemilik rumah sakit itu. Mereka cepat menikah karena ingin segera buka duren malah dituduh sudah menabung duluan. Jangankan menabung janin, mencium Laras saja, Rony tidak berani.


Walaupun Rony dan Keenan sama-sama pernah hidup dengan pergaulan bebas, tetapi mereka menganut aliran 's3* after married'. Oleh karena itu, Rony ingin segera menghalalkan Laras agar bisa melakukan ***-*** bebas tanpa beban.


"Suka atimulah, Bos! Awak ni apalah, cuman k4cung suruhan kamu," ucap Rony akhirnya dengan raut wajah kesal.


Laras yang melihat sang kekasih kesal hanya bisa menggenggam tangan Ronny, menyalurkan ketenangan. Laki-laki berusia selisih dua tahun dengan Keenan itu membalas genggaman sang kekasih. Kini emosinya sedikit berkurang dengan adanya sang pujaan hati yang selalu menenangkan.


"Kebetulan ada adik dokter Shania, jadi sekalian saja saya berikan undangannya di sini," ucap Rony sembari menyerahkan kartu undangan pada Shaka.


Suami Shaila itu menerima kartu undangan yang disodorkan oleh asisten kakak iparnya. Dibuka dan dibacanya kartu undangan tersebut dengan teliti. Selama membaca kepala Arsakha tampak manggut-manggut.

__ADS_1


"Sepertinya aku kenal dengan calon mertua kamu. Tapi, setahuku mereka sudah meninggal dua tahun lalu," ujar Arsakha setelah selesai membaca kertas tebal berwarna emas itu.


"Betul sekali, mereka memang sudah meninggal. Kakak Laras yang akan jadi walinya," sahut Rony.


Perbincangan mereka terus berlanjut membahas hal-hal umum yang sedang ramai dipertontonkan media massa.


***


Satu bulan kemudian ....


Arshaka kembali melakukan perjalanan keluar kota. Kali ini tanpa anak dan istrinya karena demi kesehatan si kembar. Mereka masih terlalu kecil untuk melakukan perjalanan jauh dengan rentang waktu yang begitu dekat.


"Sayang, jangan cemberut, dong! Aku hanya dua hari perginya. Kamu juga sudah tahu tujuannya ke mana. Masak masih aja dikasih wajah masam?" bujuk mantan dosen itu pada sang istri.


Shaila tetap memasang wajah masamnya pada sang suami. Sebenarnya bukan karena tidak ingin ditinggal oleh sang suami, hanya saja dia takut sang suami akan bertemu dengan keluarga mantan istrinya. Hal ini dikarenakan Laras masih sepupu Graciela, ibu mereka kakak adik.


Arshaka membujuk sang istri sambil memeluk dan sesekali mengecup puncak kepalanya. Sebenarnya dia juga enggan meninggalkan istri dan anak-anaknya. Namun, dia tidak mungkin tidak datang ke acara pernikahan asisten kakak iparnya karena mereka mengundang secara langsung.


"Aturan ngomong aja tadi, biar cepet kelar urusan!" batin Shaka sambil tersenyum melihat sang istri yang sudah terlelap karena kelelahan.


Arshaka berangkat ke bandara diantar sopir karena istri dan anak-anaknya sudah tertidur. Dia sengaja mengambil penerbangan malam, agar tidak terlalu lama di Jakarta. Rencananya selesai acara, langsung terbang lagi ke Jogja.


Saat acara pernikahan Laras dan Ronny, ternyata bertemu dengan mantan istri dan mantan mertuanya. Awalnya suami Shaila itu merasa khawatir akan kembali dipermalukan oleh sang mertua, ternyata mereka menghampirinya untuk meminta maaf. Dengan senang hati Arshaka memberikan maaf pada mereka karena tidak ingin menyimpan dendam.


Mantan mertuanya itu malah menawarkan kerja sama mengelola perusahaannya yang ada di Jogja. Perusahaan itu yang nantinya akan diberikan pada Azka setelah dewasa. Namun, ayah Azka itu menolak dengan alasan sudah terikat dengan negara.


Setelah acara resepsi yang khusus untuk keluarga selesai, Arshaka segera pamit pulang. Rasanya rindu sehari tidak melihat istri dan anak-anaknya, sehingga sore itu juga dia kembali terbang ke Jogja.

__ADS_1


Kepulangan Arshaka disambut bahagia oleh sang istri. Anak-anak mereka sudah tidur semua karena waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Azka sudah terbiasa tidur jam delapan dan terbangun jam lima pagi.


"Bagaimana acaranya, Mas? Meriah?" Shaila melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada sang suami sambil membuat kopi untuk suaminya.


"Ya, begitulah. Oh ya, aku tadi bertemu Grace dan orang tuanya," sahut Arshaka memberi tahu sang istri jika tadi saat acara pernikahan Laras dan Rony, dia bertemu dengan sang mantan dan keluarga besarnya.


"Apa mereka masih mendzolimi kamu, Mas?" tanya Shaila dengan suara penuh kekhawatiran yang jelas.


"Tidak. Mereka baik kok tadi. Ayah Grace malah memintaku untuk mengurus perusahaannya yang di sini, tapi aku tolak," jawab Arshaka menenangkan sang istri.


"Syukurlah kalau mereka sudah berlaku baik padamu. Aku takut mereka masih membenci kamu dan mau merebut Azka lagi. Tidak bisa aku bayangkan kalau mereka mengambil Azka dari kita."


"Kamu tenang saja, hal itu tidak akan pernah terjadi. Percayalah, mereka sudah sadar akan kesalahan mereka. Mereka tidak akan mengusik keluarga kita."


Arshaka memeluk sang istri dengan erat seraya mengusap lembut punggung Shaila. Laki-laki itu mencurahkan semua rasa yang ada hanya untuk Shaila seorang. Hati dan pikirannya sudah dipenuhi dengan nama Shaila Ghaliba seorang.


Rasa cintanya tidak akan tergoyahkan walau berbagai godaan menerjang. Rasa percaya dan saling terbuka membuat rumah tangga Arshaka dan Shaila awet dan harmonis.


*


*


*


End...


Terima kasih sudah membersamai Arshaka dan Shaila sampai tamat. Terima kasih atas dukungan para readers tercinta. Peluk cium buat para readers dari Othor Gabut🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karya baru othor yang berjudul "Cinta Gila"


Terima gaji 🙏🙏🙏


__ADS_2