
Arshaka diam tak bergeming mendengar suara yang sangat mirip dengan suara sang mantan. Walaupun sudah beberapa tahun berpisah, laki-laki itu masih ingat dengan suara itu. Suara yang memiliki ciri khas tersendiri dan tidak ada yang bisa menirunya.
"Sasha!"
Ya, hanya pemilik nama itu yang memiliki suara khas berbeda dengan yang lain. Suara itulah yang selama ini membuat jantungnya berdebar dan darahnya berdesir. Anehnya, pagi ini tidak ada lagi debaran jantung juga darah yang berdesir karena suara itu.
Arshaka rasanya ingin menoleh ke arah sumber suara karena dia penasaran suara itu tidak membuat jantungnya kembali berdebar. Mungkin ada orang lain juga memiliki fitur suara yang sama.
Belum sempat Shaka menoleh ke arah suara yang mirip dengan suara sang mantan, istri kecilnya keluar bersama Azka. Mereka akan berangkat ke kampus bersama hari ini. Bocah kecil itu berjanji tidak akan meninggalkan orang tuanya, dia akan duduk manis selama sang ayah bekerja dan bundanya mengikuti perkuliahan.
"Kak Shania? Sudah lama datangnya?" Shaila terkejut mendapati sang kakak sudah berdiri di dekat mobil sang suami seraya menghampirinya kemudian mereka berpelukan.
Walaupun Dewi membedakan perlakuannya terhadap Shania dan Shaila, kedua anak itu tampak akur karena didikan sang ayah. Mereka sejak kecil sudah dibiasakan untuk saling menyayangi. Tidak heran jika kakak beradik itu begitu dekat.
"Selamat ya! Nggak nyangka banget masih kecil sudah jadi istri," ucap Shania masih dalam pelukan adiknya.
Shaila pun mengurai pelukannya. Dia ingin mengenalkan suami dan anak sambungnya. Oleh karena itu, setelah pelukan terlepas gadis itu segera memanggil mereka.
"Azka sini, Sayang. Ajak ayah juga, mau Bunda kenalin sama kakak Bubun," kata Shaila saat anak sambungnya itu memperhatikan dia dan sang kakak.
Azka pun menarik tangan sang ayah untuk mendekat. Namun, Shaka menolak turun dari mobil dengan alasan buru-buru ke kampus. Laki-laki itu bahkan meninggalkan anak dan istrinya begitu saja.
Akhirnya, Shaila mengajak sang kakak masuk. Mereka kini duduk manis di ruang keluarga yang masih menyatu dengan ruang tamu. Shaila menghidangkan teh manis bersama roti bakar isi selai kacang coklat.
Shania yang baru saja tiba dari luar kota merasakan lapar, sehingga langsung roti tersebut sampai habis. Azka yang sejak tadi memperhatikan Shania, matanya membulat seketika. Selama ini dia selalu diajari makan pelan-pelan walau dalam keadaan lapar sekali pun.
"Tante lapar banget ya?" tanya bocah kecil itu dengan polosnya.
__ADS_1
Shania merasa malu karena ditegur oleh anak kecil. Wajah gadis itu memerah menahan malu. Sungguh dia tidak menyangka jika anak sekecil itu ternyata sangat cerdas.
"Azka tidak boleh begitu ya, Nak. Itu namanya tidak sopan," nasehat Shaila pada sang anak sambung.
Azka pun menunduk karena merasa bersalah, tetapi tak berselang lama anak itu langsung meminta maaf. Dengan senang hati Shania pun memaafkan keponakan barunya.
"Aku emang laper banget. Terakhir kali makan jam tiga sore kemarin sebelum kuliah, itu pun hanya roti sepotong. Pulang dari kampus langsung naik bus ke sini," cerita Shania pada adiknya.
"Kenapa nggak beli makan di jalan? Pelit banget sama diri sendiri."
"Bukan pelit, tapi sampai di atas bus aku langsung kerjakan tugas sampai ketiduran. Untung laptop aman."
"Bukannya sekarang sudah koas? Tugas apalagi?" tanya Shaila yang tidak tahu menahu tentang kedokteran, padahal kedua orang tuanya berprofesi sebagai dokter spesialis.
Shaila memang sejak kecil tidak suka hal-hal yang berbau kedokteran. Anak itu lebih suka memasak dan belajar ekonomi. Sepertinya dia mewarisi bakat sang kakek yang seorang pengusaha.
"Makanya aku mau jadi pengusaha saja, biar nggak kebanyakan mikir kek kamu. Memanjakan diri saja tidak bisa," cibir Shaila.
Sementara Shaila dan kakaknya melepas rindu, Arshaka sudah sampai di kampus dan mengurus izin untuk sang istri. Laki-laki itu sengaja memberikan waktu untuk istrinya untuk bercengkerama bersama sang kakak.
Selama mengajar, pikiran Shaka tidak bisa fokus. Konsentrasinya buyar karena pikirannya berkelana pada masa lima tahun yang lalu. Masa SMA yang tidak akan bisa terlupakan begitu saja.
Wajah sang mantan yang selalu tersenyum bagaikan kaset rusak, selalu berputar dalam pikirannya. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Dia selalu fokus dalam melakukan suatu pekerjaan, baik itu belajar atau pun mengajar.
Tidak untuk kali ini, bahkan para mahasiswanya yang asik bercerita sendiri dibiarkan dan dia memilih meninggalkan kelas begitu saja. Begitu masuk ke ruangannya baru dia teringat memberikan tugas pada para anak didiknya melalui pesan grup melalui aplikasi warna hijau.
"Apa betul itu tadi Sasha? Kalau bukan kenapa suaranya sangat mirip? Apa semua itu hanya khayalanku semata karena menikahi wanita yang wajahnya mirip? Semoga ini khayalanku semata."
__ADS_1
Arshaka duduk termenung di ruangannya. Sungguh hati kecilnya terusik kala mendengar kembali suara yang sudah lama tak menghiasi hari-harinya. Rasa rindu pada sang mantan tiba-tiba hadir tanpa bisa dicegah.
Arshaka sungguh menyesal, perasaan yang telah dikuburnya bangkit begitu saja hanya karena mendengar suara itu. Saat ini dia sudah memiliki istri, tetapi rasa cintanya untuk sang mantan belum sepenuhnya hilang.
Hanya bisa berharap, rasa cinta untuk sang mantan secepatnya hilang dan tergantikan oleh istri kecilnya. Mungkin ini ujian awal dalam berumah tangga, karena menikah adalah awal ujian hidup dimulai.
Ibarat kapal yang baru saja mengembangkan layar. Terserah kemana nahkoda dan angin membawa kapal tersebut. Akhir perjalanan kapal itu tergantung sang nahkoda yang mengarahkan ke mana kapal hendak menuju dan akhirnya mencapai titik akhir.
Laki-laki muda itu memutuskan pulang setelah sekian lama termenung di ruangannya. Menyendiri membuat dia semakin tenggelam dalam kenangan masa lalu. Akhirnya dia memutuskan berkumpul bersama anak dan istri kecilnya.
Begitu sampai di rumah, anak dan istrinya tidak tampak di ruang tengah maupun di kamar. Hanya ada Rina, pengasuh Azka yang beberapa bulan terakhir merangkap menjadi pengurus rumah karena art yang lama pulang kampung. Arshaka pun menanyakan keberadaan anak dan istri barunya pada pengasuh tersebut.
Berdasarkan penjelasan dari Rina, anak dan ibu tanpa ikatan darah itu sedang keluar mengantarkan tamu tadi pagi, yaitu kakak iparnya. Ayah Azka itu akhirnya memilih membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah beraktivitas. Setelah badannya terasa segar usai mandi, dia menghubungi sang istri.
"Aku jemput ya?" tanya Shaka.
"Tidak usah, kami sudah mau jalan kok."
"Baiklah, hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa, segera kabari," pesan Shaka pada sang istri.
"Ok, Boss!"
Arshaka menekan tombol merah di layar ponselnya setelah panggilan suara itu berakhir.
"Setiap perempuan pasti suka dijemput suami, istri kecilku malah tidak mau dijemput. Dia terlalu mandiri atau tidak mau memberi kesempatan padaku untuk lebih dekat?"
__ADS_1