Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 29


__ADS_3

"Kamu itu ngomong apa sih? Nggak ngerti deh," sahut Dewi bingung tiba-tiba dicecar pertanyaan oleh sang suami.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Dewi! Seharusnya kamu bisa bersikap adil pada mereka. Mereka sama-sama anakmu, sama-sama lahir dari rahim kamu ...."


"Cukup, Nat!" potong Dewi mulai emosi.


"Kamu tidak tahu rasanya bagaimana kehilangan anak laki-laki yang kamu harapkan sejak menikah. Kamu tidak tahu rasanya karena kehilangan Rizky, aku harus kehilangan hak aku sebagai seorang anak. Rama mengalihkan semua warisan atas namaku pada kakak laki-lakiku hanya karena aku tidak memiliki anak laki-laki," jerit Dewi dengan air mata berderai.


"Aku juga kehilangan bayi kita. Tapi itu semua sudah takdir Allah, kita tidak bisa mengubah itu. Kalau masalah harta, kita sudah memiliki semuanya. Apa masih kurang harta yang aku berikan selama ini?"


"Begitu banyak peninggalan Mommy Ary untuk kita, bahkan sudah dibagikan untuk adik dan kakakku. Kita masih mendapat bagian yang banyak. Kenapa tidak kamu syukuri itu? Harta berapa pun tidak ada artinya jika kita mati nanti." Setiap kata yang terucap oleh Nathan terdengar begitu lembut, tetapi tepat mengenai ulu hati.


Dewi terdiam masih dengan air mata yang belum berhenti mengalir. Dadanya naik turun menandakan emosinya masih tinggi. Setiap teringat kejadian kurang lebih sebelas tahun yang lalu, emosinya pasti kacau.


"Bukan hilangnya harta yang aku tangisi, tetapi tidak dianggap sebagai anak lagi hanya karena tidak memiliki anak laki-laki," tukas Dewi dengan hati berdenyut nyeri.


Ya, sejak dia keguguran di usia kandungannya yang menginjak semester ketiga, di mana janin itu berjenis kelamin laki-laki. Sang ayah mengalihkan hak warisnya pada sang kakak laki-laki satu-satunya. Hanya karena tidak memiliki penerus laki-laki, semua hak waris digugurkan oleh sang ayah.


Dewi tidak bisa melakukan banding karena dia hanyalah anak istri ketiga hasil pernikahan siri. Sang ayah memiliki empat orang istri tetapi hanya satu yang dinikahi sah secara agama dan negara. Dari keempat istrinya dia hanya memiliki satu anak laki-laki dari istri kedua.

__ADS_1


Sebelum pembagian warisan, sudah ada kesepakatan dari para istri dan ayah Dewi. Dalam perjanjian tertulis itu, hanya yang memiliki anak laki-laki yang mendapat warisan. Siyalnya dari kelima anak ayah Dewi, ada tiga orang yang tidak bisa memiliki anak laki-laki, termasuk Dewi.


Semua harta ayah Dewi dibagi untuk para keturunan laki-laki saja. Dewi yang saat itu dekat dengan sang ayah pun tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak bisa memberikan cucu laki-laki pada sang ayah.


"Jangan kamu ungkit lagi masa lalu yang menyakitkan! Itu hanya akan menambah luka karena sama saja kamu mengorek luka lama. Toh tidak hanya kamu yang kehilangan harta, adik-adik kamu juga ada yang tidak dianggap anak dan tidak mendapatkan sepeser pun dari harta rama. Kalau dipikir lebih menyedihkan nasib mereka, masih beruntung kamu memiliki mertua dan suami kaya," tutur Nathan menasehati sang istri.


"Kalau diingat kejadian masa lalu, itu tidak sepenuhnya salah Shaila. Tapi aku tidak mau mengungkit kejadian itu lagi," lanjut Nathan lirih, karena kecerobohan asisten rumah tangganya sang anak dibenci oleh ibunya sendiri.


"Kalau bukan dia lalu siapa yang pantas untuk disalahkan? Aku?" teriak Dewi, air matanya kembali mengalir.


Nathan akhirnya membuka suara, menceritakan kejadian yang sebenarnya. Jika air yang berceceran di lantai dan terinjak oleh Dewi sehingga terpeleset dan keguguran adalah asisten rumah tangga yang disayangi oleh istrinya itu.


Betapa terkejutnya wanita yang berprofesi sebagai dokter umum itu, sehingga badannya terhuyung ke belakang. Untung saja di belakangnya ada kursi yang siap untuk diduduki. Dia tidak menyangka jika asisten rumah tangga kepercayaannya itulah penyebab dia tidak diakui lagi sebagai keturunan Puspa Wangsa.


Nathan terdiam mendapatkan cercaan pertanyaan dari sang istri. Dia diam karena ingin melihat istrinya sadar dengan sendirinya. Laki-laki itu ingin istrinya sadar jika maid kesayangannya itu perempuan ceroboh.


Bertahun lamanya, Dewi tidak sadar juga dengan kesalahannya. Wanita keras kepala itu saat ini duduk lemas tak bisa berkata-kata, terlebih lagi ketika Nathan menunjukkan beberapa rekaman CCTV yang menunjukkan kelakuan Sari.


"Kamu ada hubungan apa dengan dia sampai kamu menutupi kesalahannya selama ini?" tanya Dewi lirih.

__ADS_1


"Tidak ada hubungan apa pun. Tapi aku tahu penyebab dia seperti itu," jawab Nathan seraya duduk di samping sang istri.


Dewi tetap tidak mempercayai sang suami. Wanita itu memilih pergi meninggalkan suaminya menuju kamar. Hatinya diliputi dengan kemarahan karena sang suami memilih membela seorang pelayan dibanding anak dan istrinya.


Sampai saat acara makan malam pun Dewi masih marah dan mendiamkan sang suami. Shania heran dengan sikap sang ibu yang tampak marah pada ayahnya. Namun, gadis itu tidak berani ikut campur.


Usai makan malam, Shania mencoba menghubungi Arshaka seperti biasanya. Saling bertukar kabar untuk mengetahui apa yang dilakukan saat ini. Sayangnya, keinginan itu hanya tinggal keinginan karena Shaka tidak bisa dihubungi.


Pagi harinya, Nathan sengaja menunggu sang istri untuk diajak berbicara dari hati ke hati. Ingin sama-sama jujur atas kejadian beberapa tahun ini selama kebersamaan mereka.


"Wi, tolong dengarkan aku. Sebentar saja!"


Nathan menceritakan keadaan Sari sewaktu masih kecil sampai akhirnya bekerja bersamanya. Sari mengalami keterbelakangan mental karena benturan di kepala. Perawan tua itu juga sudah tidak memiliki keluarga lagi, kecuali keluarga Nathan.


Nathan yang tahu bagaimana perangai sang istri pun merasa kasihan pada asisten rumah tangganya itu. Memilih diam dari pada membuat orang lemah tersakiti. Ayah Shaila itu berpikir bahwa Shaila masih memiliki dirinya dan anggota keluarga lain yang masih menyayangi.


Berbeda dengan Sari yang sebatang kara dan tidak memiliki tempat tinggal. Jika dia dipecat saat itu, akan jadi apa dia nanti. Nathan sudah menawarkan gadis itu untuk tinggal di panti asuhan tetapi ditolak.


Sari memohon pada Nathan agar diizinkan tinggal walau tanpa digaji. Nathan yang mudah iba seperti sang ibu, akhirnya mengizinkan dia tinggal dan memberi pekerjaan yang ringan. Semua itu untuk meminimalisir kekacauan.

__ADS_1


Dewi bangkit, kemudian memeluk sang suami Dia merasa sangat bersalah karena tidak pernah mendengarkan kata-kata sang suami. Wanita itu akhirnya menangis dalam pelukan sang suami.


"Untuk menebus rasa bersalah kamu pada Shaila, sebaiknya kamu halangi niat Shania untuk mengganggu rumah tangga adiknya. Aku akan mencari tahu siapa laki-laki di kampus Shania yang dekat dengan dia saat ini. Kita harus sama-sama membantu Shaila, setuju?"


__ADS_2