Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 54


__ADS_3

Hati Keenan mencelos dan kecewa mendengar jawaban dari sang istri. Sakit rasanya mencintai sendiri, padahal selama mereka berpacaran Shania selalu bersikap manis padanya. Kini setelah menikah kenapa sang istri malah berpaling darinya.


Tak jauh berbeda dengan sang menantu, Nathan pun kecewa dengan ucapan si sulung. Menantunya itu sosok laki-laki yang baik, jarang sekali ada laki-laki yang bisa bersabar diperlakukan semena-mena seperti Shania memperlakukan Keenan. Laki-laki paruh baya itu hanya bisa menekan amarahnya.


Setelah semua selesai menikmati sarapan, Nathan memanggil Shania. Pria paruh baya itu harus menasehati anak sulungnya yang mulai salah jalan. Jika dibiarkan, takutnya rumah tangga sang anak tidak bisa diselamatkan.


"Kenapa kamu tidak belajar menerima takdir yang telah Tuhan tetapkan padamu? Jika kamu ingin bahagia, berusahalah ikhlas menjalani semua yang menjadi garis tanganmu. Janji Allah itu pasti, jadi jalani semua dengan sepenuh hati." Hanya nasehat yang Nathan berikan untuk sang anak.


"Lihatlah adikmu yang sudah bahagia dengan pernikahannya! Semua itu karena dia ikhlas menjalani takdirnya yang menikah muda dengan duda cerai beranak satu. Tidak mudah bagi Shaila melewati semua itu, tetapi dia bisa. Berbeda dengan kamu yang menikah dengan laki-laki yang sudah dua tahun menjadi pacarmu," lanjut Nathan ketika sang anak seperti tidak mau menggubris perkataannya.


Shania terdiam mendengarkan setiap patah kata yang terucap dari bibir sang ayah. Dia memang lebih beruntung dari Shaila yang menikah dengan laki-laki yang baru saja dikenal, sedangkan dia sudah mengenal luar dalam sifat suaminya. Mantan perawan itu terdiam mulai berpikir, tetapi sepertinya setan Dasim masih menguasainya.


Shania pun memilih beranjak dan meninggalkan sang ayah, masuk kembali ke kamarnya. Sebelum masuk ke kamar, pandangan wanita itu menyapu seluruh ruangan di lantai bawah dan teras, tidak terlihat sang suami di rumah itu. Dengan pikiran yang berkecamuk, calon dokter itu masuk ke dalam kamar.


Sementara itu, Keenan tiba-tiba pamit pada sang adik ipar. Ada investor yang ingin menanamkan saham di rumah sakit miliknya, mengajak bertemu di kota gudeg itu.


Keenan sangat senang karena teman semasa memakai seragam putih abu-abu ingin berinvestasi di rumah sakit miliknya. Sang teman ternyata tidak datang sendiri, dia membawa serta istri dan adiknya ke kota itu.


"Apa kabar Kee? Wah, semakin ganteng aja kawan satu ini," sapa Bramantyo, teman SMA Keenan.


"Alhamdulillah, bagaimana dengan kamu sendiri? Jadi pengusaha sukses ya sekarang, sampai mau tanam modal di rumah sakitku yang masih kecil?"

__ADS_1


"Hahaha, bisa saja kamu! Sebenarnya aku ingin menitipkan adikku, biar ada tempat menampungnya bekerja. Oh ya, kenalin dulu. Ini adikku, dia saat ini sedang menempuh pendidikan spesialis penyakit dalam," sahut Bram seraya memperkenalkan sang adik pada temannya.


Keenan pun berkenalan dengan adik temannya yang bernama Larasati. Walaupun perempuan itu adik sang sahabat, dia tetap menunjukkan kesan dingin dan tak tersentuh.


"Tujuan aku investasi sebenarnya, agar ada tempat untuk adikku menyalurkan ilmunya setelah mendapat gelar dokter spesialis penyakit dalam. Berhubung aku hanya mengenal dekat kamu yang berprofesi dokter, maka aku hubungi kamu. Bisa, 'kan?" Bram menjelaskan tujuannya menginvestasikan uangnya di rumah sakit Keenan.


"Kenapa tidak membuka rumah sakit sendir saja, klinik kecil-kecilan, misalnya? Itu akan lebih bebas karena milik sendiri dan tidak terikat dengan aturan," saran Keenan pada sang sahabat.


Melihat Keenan yang seperti enggan menerima sang adik bekerja di rumah sakitnya, Bram pun terpaksa menceritakan yang sebenarnya pada sang sahabat. Dia akan meninggalkan Indonesia untuk mendampingi sang istri yang sedang menjalani pendidikan di Inggris. Perusahaannya juga berpusat di negara itu dan juga sang istri yang masih berkewarganegaraan Inggris.


"Jangan bohong kamu! Bini kamu aja fasih berbahasa Indonesia gitu kok. Mana ada WNA fasih berbahasa?" sangkal Keenan.


Bram pun kembali bercerita jika dia kuliah di Inggris begitu lulus SMA. Kuliah sambil membuka usaha kecil-kecilan dan akhirnya bisa berhasil. Dia juga menikahi warga setempat.


Selesai menikmati hidangan makan siang, Bram mengajak Keenan untuk bergabung menemani adik dan istrinya shopping. Keenan yang selalu diacuhkan sang istri pun mengiyakan ajakan itu. Selain itu, mereka juga membicarakan tentang bisnis.


Shania yang menunggu kepulangan sang suami pun gelisah sendiri. Wanita itu memilih keluar kamar untuk ngobrol bareng adiknya yang kebetulan hari ini tidak ada kuliah.


"La, tadi kamu lihat Keenan pergi nggak? Kok mobilnya sudah tidak ada di depan," tanya Shania pada sang adik yang asik memotong buah mangga mengkal.


"Nggak ada bilang kemana pastinya, cuma bilang mau ketemuan sama teman semasa SMA. Katanya sudah lama banget ngga ketemu. Itu aja sih, kenapa?"

__ADS_1


"Kok nggak ada bilang sama Kakak?"


Shaila tersenyum mencibir mendengar keluhan sang kakak. Saat sang suami di dekatnya, tidak dianggap sama sekali, giliran pergi merasa kehilangan.


"Kakak pernah nggak tanya pada Kak Keenan dia mau ke mana jika dia mulai keluar rumah? Atau pernah nggak Kak Nia mengajak Kak Keenan ngobrol apa saja gitu?" tanya Shaila penasaran.


Shania tergeragap mendengar pertanyaan sang adik yang tidak terduga. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi pertanyaan sang adik sangat menohoknya sehingga susah untuk dijawab.


Dijawab jujur atau berbohong imbasnya akan sama saja. Sama-sama menjadi boomerang bagi dia sendiri. Selama ini dia yang ingin menjadi pusat perhatian orang lain, jadi wanita itu tidak peduli dengan keberadaan orang di sekitarnya.


Kini saat suami tidak menunjukkan perhatiannya, Shania merasa kehilangan. Tidak ada lagi yang bertanya atau pun berpesan menjaga diri. Tidak ada lagi suara yang membuat telinga seperti digelitik karena banyaknya pertanyaan yang diajukan sang suami tentang keadaannya atau hanya sekedar berpesan untuk berhati-hati.


"Kenapa diam, Kak? Baru merasa ya kalau Kak Keenan itu begitu berarti Sebelum benar-benar kehilangan dia, sebaiknya mulai sekarang Kakak menjaga agar komunikasi Kakak dengan Kak Keenan tidak putus," cibir Shaila sembari meninggalkan sang kakak duduk sendiri di gazebo belakang rumah.


Shaila sudah berjanji akan membuatkan puding buah untuk anak sambungnya. Jadi, dia meninggalkan sang kakak untuk memasak sebelum bocah itu pulang sekolah.


Shania mengikuti langkah sang adik menuju dapur. Dia memperhatikan apa yang dilakukan oleh adik satu-satunya itu. Sepertinya istri mantan kekasihnya itu tidak pernah mengenal kata lelah untuk mengurus suami dan sang anak sambung.


"La, aku keluar dulu! Suntuk di rumah aja, mau nge mall aja," pamit Shania beberapa saat kemudian dan diangguki sang adik.


Orang tua mereka sudah berangkat ke rumah sakit setelah sarapan tadi. Kini tinggal Shaila sendiri di rumah minimalis itu. Mbak Rina mendampingi sang anak sekolah dan Shania baru saja keluar menggunakan mobil Shaila.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Shania tiba di mall yang terkenal di kota gudeg itu. Saat keluar dari mobil, ternyata dia melihat mobil yang sangat dikenalnya. Akhirnya, dia mencoba menghubungi pemilik mobil itu.


__ADS_2