
Arshaka meminta izin pada dosen pengajar untuk bertemu dengan Shaila. Sayang sekali wanita itu tidak masuk kuliah dikarenakan sedang mengurus administrasi rumah sakit berhubung Adiba sudah diperkenankan pulang.
Dosen muda itu bergegas meninggalkan kampus untuk menemui sang istri di rumah sakit. Arshaka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya itu.
Laki-laki itu melompat begitu saja dari mobil, kunci mobilnya dia berikan pada satpam sembari meminta tolong agar diparkirkan. Arshaka berlari menuju ruangan mahasiswanya yang beberapa hari yang lalu dijenguk. Dengan napas terengah, dosen muda itu membuka pintu ruangan itu.
Kosong. Tidak ada siapa-siapa lagi di dalam ruangan itu. Hanya ada ranjang tertutup sprei putih yang tertata rapi, tampaknya baru saja dibereskan.
Dengan langkah gontai dosen muda itu berjalan ke meja informasi yang terletak di lobi tak jauh dari pintu rumah sakit. Dia menanyakan nama mahasiswanya pada petugas siang ini. Jawabannya sungguh mengecewakan, gadis itu sudah pulang bersama temannya yang memiliki ciri-ciri sama dengan sang istri.
Arshaka menyugar rambutnya dengan kasar sesaat setelah meninggalkan meja itu. Pikirannya sungguh kacau hari ini. Laki-laki itu berulang kali bertanya pada diri sendiri, kesalahan apa yang dilakukan sehingga sang istri meninggalkan dirinya begitu saja.
Sungguh disayangkan, pria satu anak itu tidak tahu dimana kos yang ditempati oleh mahasiswanya itu. Dia bahkan lupa untuk menanyakan pada petugas di rumah sakit dimana alamat anak didiknya itu.
Jalan satu-satunya dia mencoba menghubungi kembali nomor sang istri. Ternyata masih sama, belum aktif. Akhirnya laki-laki itu mendatangi tempat dimana istri kecilnya itu pernah kos.
Betapa lelah dirinya mencari sang istri, ke sana kemari tidak kunjung bertemu. Dalam hati berharap kedatangannya ke kos yang dulu pernah disinggahi berjam-jam, adalah tujuan terakhirnya. Selain itu laki-laki itu juga berharap tidak ada lagi drama dalam rumah tangganya.
Ada senyum bahagia terpancar dari wajah dosen muda itu kala melihat mobil yang terparkir di halaman kos-kosan cewek itu. Arshaka berjalan cepat menuju teras yang ramai oleh beberapa anak kos sedang ngobrol. Pandangan matanya memindai satu persatu perempuan yang duduk di teras itu.
"Cari siapa Mas?" tanya salah satu penghuni yang dilihat dari wajah, usianya paling tua.
__ADS_1
"Adiba dan Shaila," jawab Arshaka tenang.
Para penghuni kos itu saling pandang sebelum akhirnya mengeluarkan suara.
"Baru saja masuk kamar, Mas. Soalnya Adiba masih harus banyak istirahat. Ada pesan?"
Arshaka terdiam sejenak, bimbang akankah berkata jujur atau tidak. Namun, dia harus bertemu dengan istri kecilnya segera. Walau bagaimanapun juga mereka harus menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi.
"Bisa ketemu sama Shaila?" tawar laki-laki itu berusaha untuk bertemu dengan sang istri.
Tiba-tiba muncul Shaila berjalan ke arah mereka.
"Nah itu, Shaila!"
"Shaila, kita harus bicara. Penting!" ucap Arshaka begitu Shaila sudah dekat dengannya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Pak. Lebih baik Bapak jatuhkan talak pada saya agar Bapak bisa bebas membawa mantan ke rumah. Kalian berdua sangat cocok, sama-sama memiliki karir bagus tidak seperti saya," sahut Shaila panjang lebar.
Arshaka langsung memegang lengan Shaila dan menariknya pergi meninggalkan tempat itu. Lelaki itu membawa istri kecilnya ke suatu tempat yang lumayan sepi karena untuk membahas masalah mereka dibutuhkan tempat yang tenang.
Arshaka pun menceritakan kedatangan Shania pada sang istri. Dimulai dari tadi malam saat akan mencari dirinya. Tak lupa, ayah satu anak itu menceritakan anaknya yan tantrum karena merasa kehilangan ibu sambungnya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan cerita panjangnya, Arshaka mengungkapkan isi hatinya yang dia pendam selama ini. Maksud hati akan memberikan kejutan, malah dirinya yang dibuat terkejut oleh ulah sang istri.
"Apakah kata-kata Anda bisa dipercaya, sedangkan sang mantan saja terus menempel seperti ulat keket?"
Sementara itu, di salah satu negara bagian di Amerika, Grace sedang berdebat dengan orang tuanya. Orang tua Grace ingin sang anak segera melupakan laki-laki yang pernah menjadi pendamping hidupnya. Jika tidak, mereka ingin Grace mengambil hak asuh Azka.
"Tidak bisa, Mom. Anakku begitu menyayangi ibu sambungnya. Aku tidak tega memisahkan mereka," ucap Grace memberi pengertian pada sang ibu.
"Kamu itu bodoh atau bagaimana? Sejak dulu darah lebih kental dari air. Itu artinya, ibu kandung lebih baik dari pada ibu sambung. Atau sebenarnya kamu memang tidak menginginkan anak itu?" Wanita yang melahirkan Grace itu mencercanya dengan pertanyaan.
"Lebih baik tidak melihat anak yang merupakan duplikatnya dari pada membuat anak kita semakin susah melupakan laki-laki itu." Ayah Grace menimpali karena mendukung keputusan sang anak yang tidak jadi mengambil alih hak perwalian anak atas Azkara Putra Mandala.
"Dengan tidak adanya anak itu bersama Grace akan mempermudah dia bertemu jodohnya di sini. Adanya anak kecil hanya akan merendahkan putri kita di hadapan warga sini. Dimana pun seorang janda beranak akan dipandang sebelah mata. Jika anak itu tidak bersama kita, orang tidak akan ada yang tahu Grace pernah menikah siri dan melahirkan seorang anak." Andreas Jhonson mengutarakan apa yang yang menjadi pendapatnya.
Grace akhirnya mengikuti apa yanng disarankan oleh sang ayah. Apalagi mantan suaminya itu tidka pernah sedikit pun memiliki perasaan pada dia. Selain itu Azka sangat mirip dengan sang ayah sehingga wanita itu akan semakin susah untuk move on.
Berat bagi wanita mengubur perasaannya pada sang mantan suami. Walaupun tidak pernah mencintai Grace, Arshaka selalu mencurahkan perhatiannya pada sag istri waktu itu. Arshaka juga selalu bersikap baik padanya, tidak heran jika cinta grace pada dosen muda itu tidak pernah surut.
Grace masuk ke kamarnya. Wanita itu mulai mengeluarkan satu persatu benda kenang-kenangan saat mereka masih dalam ikatan sahabat bukan sebagai suami istri. Dia ingin mengenang kembali saat-saat bahagianya bisa dekat dengan Shaka.
Wanita itu memegang baju bayi yang dibelinya bersama Arshaka saat usia kehamilannya menginjak tujuh bulan. Saat itu Arshaka memaksanya untuk membeli baju itu karena diskon tujuh puluh lima persen. Bibir Grace menyunggingkan, tetapi air mata lolos membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Mulai saat ini dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengubur dalam-dalam perasaannya pada sang mantan. Mencintai seorang diri sangat sakit, lebih baik membuang perasaan itu dan mulai mengisi hatinya dengan orang lain yang mau mencintainya dengan tulus.