
Keenan tetap berangkat ke Jakarta lagi harinya. Entah kenapa ada dorongan yang sangat kuat untuk bertemu dengan adik sahabatnya itu. Bukan hanya ingin bertemu saja, bahkan dia sangat ingin merasakan lagi masakan bawahannya itu.
Butuh waktu dua jam menempuh perjalanan yang diperlukan oleh Keenan. Laki-laki itu sengaja mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah sakitnya. Keenan sudah membayangkan makan masakan Laras yang menurutnya sangat lezat dan nikmat.
Setelah sampai di halaman rumah sakit, dia menghentikan mobilnya di depan lobi, lalu meminta satpam untuk memindahkan ke tempat biasanya dia memarkirkan. Keenan sendiri langsung masuk ke ruangannya.
Seperti biasa, suami Shania itu akan meminta sang asisten untuk ke ruangannya. Dia akan meminta sang asisten untuk memberikan laporan selama dirinya tidak di tempat. Selesai dengan memberikan laporan secara lisan dan tulisan, Rony pun undur diri.
Keenan memeriksa laporan yang diberikan oleh Rony sampai lupa waktu. Jam makan siang sudah berlalu, tetapi Laras tidak kunjung mendatangi ruangan pemilik rumah sakit itu. Dokter pemilik rumah sakit itu sudah merasa lapar, tetapi dia hanya ingin makan masakan Laras.
Akhirnya, Keenan nekat menghubungi Laras karena keinginannya sudah tidak dapat ditahan lagi. Laras yang sebenarnya sedang off, dengan senang hati memasak untuk laki-laki yang telah mencuri hatinya.
Satu jam kemudian, Laras datang ke rumah sakit dengan membawa paper bag yang berisi makanan hasil olahan tangannya. Wajah Laras begitu ceria saat tahu sang pujaan hati memintanya untuk memasak dan mengantarkan ke rumah sakit.
"Terima kasih, kamu baik sekali," ucap Keenan seraya menerima paper bag yang diulurkan Laras.
Keenan tidak peduli dengan keberadaan Laras, yang ada dalam pikirannya hanya makan enak sepuasnya masakan yang diinginkan setelah itu kembali bekerja.
Laras yang masih duduk di sofa yang ada di ruangan Keenan, memperhatikan cara makan lelaki itu. Ada senyum merekah mengembang di bibir gadis cantik berusia dua puluh delapan tahun itu. Dia merasa sangat bahagia karena mengira Keenan sudah luluh oleh pesonanya.
Sayangnya apa yang terjadi di luar pikiran Keenan. Laki-laki itu tiba-tiba menyudahi makannya, padahal dia baru makan beberapa suap. Suami Shania itu menghubungi sang asisten untuk segera ke ruangannya.
Rony memasuki sang bos dengan tergesa-gesa karena tadi saat di telepon sang bos mengatakan penting, sehingga dia bergegas menghadap sang bos dari pada terkena semprot.
__ADS_1
Rony mengetuk pintu dan langsung masuk, takut waktu lima menit yang diberikan oleh atasannya itu habis untuk berjalan tadi. Saat pintu terbuka dia sedikit terkejut melihat wanita yang mencuri perhatiannya berada di ruangan yang sama dengan sang bos.
"Duduklah, di sini!" perintah Keenan begitu Rony masuk ruangan. Dengan patuh, laki-laki berusia satu tahun lebih muda dari Keenan itu pun duduk di kursi yang ditunjuk sang bos.
"Makan dan habiskan!" Keenan kembali memerintah Rony untuk menghabiskan makanan yang masih banyak.
Ada tiga kotak bekal yang berisi aneka sayur dan lauk serta nasi. Bau harum yang keluar dari kotak bekal membuat perut Rony menjadi keroncongan. Akhirnya dengan terpaksa, pemuda yang masih betah sendiri itu menghabiskan makanan yang berjejer di meja kerja sang bos.
Mata Laras membulat saat melihat makanan yang telah dimasaknya dengan susah payah malah dimakan oleh orang lain. Sungguh rasanya tak rela, makanan yang dimasaknya dengan sepenuh hati untuk orang terkasih malah dimakan orang lain.
"Loh, Dok? Katanya tadi, sangat lapar dan ingin makan masakan saya. Kenapa yang makan malah asisten Dokter, bukan Dokter sendiri?"
"Siapa saja yang makan tak mengapa. Toh sama-sama dimakan, bukan dibuang. Lagian saya tadi juga sudah memakannya. Lalu dimana salahnya?" jawab Keenan dengan santainya tanpa memikirkan perasaan wanita yang telah memasak begitu banyak.
***
"Duh, duh." Shaila meringis kesakitan saat menyusui si kakak.
"Kenapa, Sayang?" Arshaka berdiri lalu mengusap kepala sang istri dengan lembut.
"Sakit, ya? Sabar Bunda, lidah adik masih kasar karena belum terbiasa. Nanti lama-lama nyaman dan gak sakit kok," ujar Arshaka dengan tangan memijit pundak sang istri agar ASI-nya lancar.
Bayi berusia dua hari itu mengisap sumber kehidupannya sangat kuat karena sebelumnya dia terbiasa dengan dot susu yang mudah keluarnya. Melihat cara menghisap sang anak, Arshaka pun menoel pipinya gemas.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja, ayah nggak minta kok. Tapi kamu harus berbagi sama adik," ucap ayah tiga anak itu pada sang bayi.
Arshaka sangat bahagia karena dikaruniai anak kembar yang sehat, begitu juga dengan sang istri yang sudah mulai sehat. Sungguh dia tidak menyangka akan memiliki tiga anak laki-laki. Namun, dia bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan padanya.
Walau usia Shaila belum ada dua puluh tahun, dia sudah luwes menggendong bayi. Hanya saja jarum infus di tangannya membuat ruang gerak ibu si kembar itu menjadi terbatas. Arshaka yang melihat bagaimana sang istri yang mengurus anak sambung merasa sangat bersyukur dan menjadi laki-laki yang beruntung mendapatkan istri Shaila. Apalagi saat ini, melihat sendiri bagaimana istri kecilnya itu mengurus si kembar.
Tiba-tiba ada suara gaduh di depan kamar, Arshaka melihat keluar melalui jendela. Ternyata teman-teman kuliah Shaila datang menjenguk. Mantan dosen itu membuka pintu agar para mahasiswa itu masuk dan tidak membuat keributan.
"Oh, yang ini ternyata ruangan Shaila. Kamu sih dibilangin gak percaya," ujar Adiba pada Sarah.
"Siang, Pak. Kami mau menjenguk Shaila. Boleh, Pak?" tanya Sarah tidak menggubris ucapan Adiba.
Kedua sahabat Shaila itu akhirnya disuruh masuk agar bebas mengobrol. Arshaka memberikan privasi pada sang istri untuk bercengkrama dengan para sahabatnya. Dia sendiri memilih keluar ruangan setelah memindahkan Baby Zahran ke dalam box-nya.
Baby Zahran lebih rewel dibanding dengan adiknya, Baby Zayyan. Berat badan Baby Zahran juga lebih ringan dibanding dengan sang adik. Namun, kedua bayi itu sama sehatnya.
Arshaka memilih pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli kopi untuk membuang rasa suntuknya. Dia memesan kopi hitam seperti biasa. Sambil menunggu pesanannya datang, laki-laki itu membuka gawainya untuk membaca berita terkini.
Sepuluh menit kemudian, pesanannya pun diantar ke mejanya. Sembari menunggu kopi habis, suami Shaila memesan minuman dan makanan ringan untuk sahabat sang istri.
Pesanan kembali diantarkan ke mejanya saat kopinya sudah hampir habis. Arshaka langsung membayar semua, lalu kembali ke ruangan sang istri. Saat baru sampai di depan ruangan, ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
"Bapak sudah jemput Azka?" tanya Mbak Rina
__ADS_1
"Saya tidak ada keluar dari rumah sakit, bagaimana bisa menjemput Azka?"
"Azka sudah ada yang menjemput, Pak. Siapa yang menjemput dia tadi?"