
"Jawab Shaila! Jangan hanya diam dengan mata tertunduk, tatap mata saya! Saya yang berbicara dengan kamu bukan keramik itu," titah Arshaka mutlak.
"Saya kerjakan sendiri saat di rumah sakit, Pak," jawab Shaila dengan kepala terangkat menatap mata sang dosen dengan tatapan datar, tidak bisa diartikan.
"Apa begitu berat rasa kamu meminta tolong padaku? Setidaknya meminta dispensasi agar tugas itu dikumpulkan belakangan."
"Tanpa bantuan ataupun dispensasi saya masih sanggup mengerjakannya, Pak," jawab Shaila masih dengan wajah datarnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri, bila kamu tidak mampu!"
"Insyaallah saya masih sanggup," sahut Shaila lagi dengan penuh keyakinan.
Arshaka terdiam, sebenarnya dia tidak tega melihat istri kecilnya itu. Selama satu Minggu menikah dengannya, bukan kebahagiaan yang didapat gadis itu. Azka yang tiba-tiba sakit karena dia lupa memberitahu bahwa tubuh sang anak tidak bisa mengkonsumsi gula secara berlebihan.
Lambung anak itu akan kembung jika terlalu banyak mengkonsumsi gula atau buah. Perutnya akan kembung lalu diare sehingga Arshaka harus memantau konsumsi gula dan buah pada anaknya. Bukan rahasia lagi di keluarga Mandala, semua pegawai di rumah Mandala sudah tahu itu.
"Masih ada waktu untuk membetulkan tugas ini. Kamu masih menyimpan dalam bentuk draft bukan?" Arshaka melihat jam yang melingkar di tangannya, masih ada waktu dua jam lagi.
"Baik, Pak. Boleh saya bawa makalah itu?" tanya Shaila sembari menunjuk makalah yang tadi diperiksa oleh sang dosen.
"Saya belum selesai membaca ini. Isinya lumayan bagus hanya saja typo bertebaran," sahut Arshaka seraya mengangkat makalah atas nama Shaila Ghaliba.
__ADS_1
Shaila pun meninggalkan ruangan itu, lalu bergegas menuju perpustakaan. Untung saja dia membawa flashdisk yang berisi tugas-tugas kampus, sehingga dia bisa mengedit kemudian mencetaknya. Untungnya lagi, dia diberitahu letak kesalahan yang harus diperbaiki, jadi tidak butuh otak yang segar untuk mengerjakan ulang.
Waktu dua jam terasa singkat karena diisi dengan berbagai kesibukan. Itulah yang dirasakan oleh Shaila, gadis itu merasa waktu berputar terlalu cepat karena baru saja dia selesai mencetak tugasnya tadi, jam sudah menunjukkan waktunya kuliah.
Kedua sahabat Shaila bingung mencari keberadaannya. Gadis itu pergi ke perpustakaan tanpa pamit atau memberi kabar. Dia lupa karena sibuk merevisi tugasnya yang akan dikumpul.
Shaila masuk ke kelas yang sudah ramai para mahasiswa. Mereka sebagian besar membicarakan tentang tugas yang akan dikumpulkan sebentar lagi. Termasuk Adiba dan Rosa, dua sahabat Shaila itu juga terlihat membahas tugas yang susah dikerjakan menurut mereka.
"Shai, lo ke mana saja? Kami cariin nggak juga ketemu. Gue kirain lo gak masuk, jagain anak asuh lo," tanya Rosa dengan tingkat penasaran tinggi.
"Ngerjain ini!" ujar Shaila sambil menunjukkan makalah yang baru saja dicetaknya.
Adiba langsung mengambil makalah itu, mulai mengamati lalu membolak-balik kertas yang dipegangnya. Kertas itu masih mulus belum ada goresan atau terlipat tanda baru saja kelar dicetak.
"Baru cetak, gue lupa bawa!" jawab Shaila berbohong karena tidak mungkin dia mengatakan, jika makalahnya sudah dikoreksi dan dicetak ulang atas perintah sang dosen.
Ketua kelas mengumpulkan makalah itu lalu meletakkan di meja dosen. Dengan sigap, Arshaka menyerahkan setumpuk kertas berisi soal untuk dikerjakan oleh para mahasiswanya. Setelah itu dia mengambil acak satu makalah dan membacanya, kemudian dia letakkan terpisah dengan makalah lainnya.
Dosen muda itu mengambil satu lagi makalah dan membaca isi makalah tersebut. Sementara itu para mahasiswa sedang menekuni soal-soal yang baru saja dibagikan. Kelas itu tampak lengang tanpa suara kecuali suara kertas dibalik.
Waktu mengerjakan soal hanya lima belas menit seperti biasa, sehingga banyak mahasiswa yang mengosongkan jawaban karena tidak bisa menjawab kuis dadakan tersebut. Arshaka selalu mengadakan kuis dadakan pada anak didiknya, untuk menguji dan mengetahui siapa juara yang sebenarnya.
__ADS_1
Waktu mengerjakan soal sudah habis, semua wajib mengumpulkan ke depan tanpa perwakilan. Lagi-lagi dosen muda itu melakukan seperti tadi saat baru saja menerima makalah di atas meja.
Setelah mendapat dua lembar jawaban yang akan dijadikan perbandingan, Arshaka mulai menjelaskan materi kuliah. Usai memberi materi, dosen muda itu mulai membahas soal kuis tadi dilanjutkan membahas makalah. Ternyata hanya segelintir mahasiswa yang mengerti dengan pertanyaan itu.
Dosen muda mengatakan kekecewaannya di akhir pertemuan hari ini. Sebelum menutup kelas, lagi-lagi Arshaka meminta Shaila untuk membawa makalah ke ruangannya seperti biasa. Gadis itu hanya mengangguk mengiyakan tanpa suara, bukan karena takut hanya saja sedang malas ribut.
Shaila mengikuti dosen gagak menuju ruangannya. Gadis itu sengaja berjalan di belakang karena tidak mau gosip tentang mereka semakin ramai. Kejadian tempo hari saja sampai saat ini masih ramai diperbincangkan, tetapi Shaila dan Arshaka sama-sama tidak begitu memikirkannya.
Arshaka masuk terlebih dahulu dan membiarkan pintu tetap terbuka sampai anak didik sekaligus istrinya masuk, barulah dia menutup lalu mengunci pintu. Shaila langsung menatap nyalang pada sang suami.
"Duduklah ada yang ingin saya sampaikan pada kamu!" perintah Arshaka dengan suara lembut.
Shaila pun duduk di sofa sesuai perintah sang suami. Menunggu apa yang akan diucapkan suaminya itu tanpa bersuara sedikit pun. Setelah menikah dengan dosen yang di hadapannya saat ini, gadis itu tidak lagi menguatkan suara atau sengaja mengajak berdebat seperti dulu.
"Saya minta maaf karena semenjak menjadi istri saya kamu belum pernah merasakan bahagia. Bukan ingin saya marah-marah dengan kamu. Semua itu reflek begitu mendengar Azka sakit."
"Soal tugas itu saya juga minta maaf, saya tidak meragukan kemampuan kamu. Saya hanya heran saja, tidak biasanya kamu mengumpulkan tugas dengan banyak typo, Saya hanya ingin dengan pernikahan ini tidak mengurangi waktu belajarmu. Azka biarkan bersama pengasuhnya, kamu tetap menjalani kewajiban kamu sebagai istri juga seorang mahasiswa." Arshaka meminta maaf pada sang istri, dia juga menjelaskan alasannya agar sang istri mengerti.
Laki-laki itu duduk di sebelah Shaila, memegang tangan sang istri. Arshaka menatap istri kecilnya penuh cinta, kini kedua tangan gadis itu sudah berada dalam genggaman sang dosen. Wajah Shaila menunduk karena malu dipandangi dengan intens oleh suaminya.
Arshaka menyentuh dagu sang istri, mengangkatnya perlahan. Tanpa aba-aba dosen muda itu mengecup benda kenyal berwarna merah alami. Sejak tadi dia sudah mengincar bibir itu dan kini tahu bagaimana rasanya, manis.
__ADS_1
Awalnya hanya kecupan biasa, dari bibir atas pindah ke bibir bawah. Lama-lama Arshaka menyesap dan m3lum4tnya karena tidak ada penolakan ataupun perlawanan dari sang istri. Tangan laki-laki itu berpindah memegang tengkuk Shaila untuk memperdalam ciu mannya.