Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 45


__ADS_3

Keenan menghela napasnya kasar, stock sabarnya harus banyak untuk menghadapi sang istri. Demi mendapatkan kembali cinta wanita yang dicintainya, dia rela memperbanyak rasa sabarnya. Seperti itulah cinta , mampu membuat orang menjadi lebih sabar hanya untuk mendapatkan sang pujaan hati.


"Maaf, nanti malam aku antar kalau sudah senggang. Pagi ini aku harus segera istirahat karena jam tujuh aku harus mengoperasi pasien. Sebagai seorang dokter, seharusnya kamu tahu harus bagaimana. Ayo masuk!"


Masih dengan wajah ditekuk, Shania mengikuti laki-laki yang belum genap dua puluh empat jam menikahinya. Hanya dalam waktu sekejap dunianya sudah jungkir balik tidak sesuai keinginan.


Sementara itu di kediaman Arshaka Mandala, tampak Shaka sedang merusuh istrinya yang masih bergelung di bawah selimut tebal. Sang kakak yang menikah, mereka berdua yang melakukan ritual untuk mendapatkan anak.Laki-laki ingin mengikat istri kecilnya dengan hadirnya buah hati mereka.


"Sayang, dia bangun lagi," bisik Shaka di belakang telinga sang istri seraya mencumbunya.


Shaila hanya melenguh pelan tetap dengan mata terpejam dan posisi memeluk guling membelakangi sang suami. Shaka tidak menyerah begitu saja. Tidak hanya mencumbu leher dan belakang telinga istrinya, tangan besarnya ikut bekerja agar sang istri terbangun dan memanjakannya.


"Hmm, capek Pak!" gumam Shaila sembari menarik selimut yang untuk kembali menutupi tubuh polosnya karena tadi selimut ditarik oleh Shaka.


Shaila baru tertidur jam dua belas malam karena sang suami tidak ada kata puas menjamah tubuhnya. Badannya terasa remuk redam, inti tubuhnya terasa terbelah karena singkong jumbo milik Shaka yang menerobos masuk.


Memiliki suami yang kaku dan tidak peka dalam keseharian tetapi sangat pro di ranjang. Suaminya itu sangat ahli memanjakan Shaila di ranjang, sehingga tidak mampu ditolak. Seperti subuh ini, akhirnya dia pasrah ketika Shaka kembali menggempurnya dengan kasih sayang.


"Sayang, mandi bareng yuk. Keburu waktu subuhnya habis," ajak Shaka sambil menciumi pundak polos sang istri.


"Capek banget, Pak!" sahut Shaila seraya menutup mulutnya karena menguap.

__ADS_1


"Sudah lewat subuh, nanti setelah sholat subuh tidur lagi boleh. Sekarang kita mandi bareng habis itu berjamaah." Arshaka membujuk sang istri dengan suara lemah lembut, tidak adalagi suara tegas seperti biasanya.


Arshaka sudah berjanji pada diri sendiri untuk berubah lebih baik dan lebih romantis pada sang istri agar istri kecilnya itu tetap di sisinya. Mendampingi hingga ke surga nanti. Shaila telah menguasai seluruh hati dan pikiran Arshaka, sehingga saat ini hanya sang istrilah pusat dunianya.


Laki-laki bertubuh atletis itu mengangkat tubuh istrinya dengan perlahan. Mata Shaila kembali terpejam bahkan sudah mengarungi mimpi indah. Saat selimut yang membungkus tubuhnya terlepas, barulah istri Arshaka Mandala itu terbangun.


Arshaka tersenyum melihat mata sayu sang istri yang terlihat sangat mengantuk. Dia turunkan sang istri perlahan, lalu didudukkan sang istri tersebut di atas kloset untuk memudahkan dirinya mengisi bathub. Namun, saat laki-laki itu mengecek suhu air dalam bak sang istri sudah berdiri di bawah guyuran air shower.


Melihat sang istri yang tampak seksi di bawah guyuran air, adik kecilnya dengan tidak tahu diri sudah bangun dan berdiri tegak.


"Tidurlah! Apa kamu tidak kasihan pada istriku? Sarangmu sudah porak poranda karena kelakuanmu tadi," ucap Shaka seraya mengelus adik kecilnya agar tidur lagi, tetapi bukan tidur malah semakin menggembung besar dan keras.


Akhirnya, penyatuan tidak dapat dielakkan lagi walau Shaila menolak. Singkong jumbo itu kembali memasukinya.


"Duh, kasihannya istriku. Maaf, aku tidak bisa berhenti menjamahmu. Tidur yang nyenyak, Sayang," ujar Shaka seraya merebahkan sang istri di atas ranjang setelah melepas dan menyimpan mukena sang istri.


Kembali ke Jakarta, Shania tidak mau masuk ke kamar Keenan. Dia duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Terlalu lama menunggu Keenan keluar dari kamarnya, gadis itu pun tertidur di sofa panjang itu.


Keenan yang mendapat laporan dari asisten rumah tangganya pun segera turun untuk melihat sang istri.


Dasar keras kepala, padahal dulu kamu paling seneng tidur dalam pelukanku. Sekarang kamu berubah seratus delapan puluh derajat. Sebenarnya kamu kenapa? Sejak pulang ke Jogja beberapa bulan yang lalu, kamu semakin jauh dan sulit aku gapai.

__ADS_1


Keenan menyelipkan anak rambut sang istri ke belakang telinganya. Lalu, mengangkat tubuh sang istri menuju kamarnya.


"Bi, tolong bawa koper istriku ke kamarku." Keenan menyuruh asisten rumah tangganya saat akan menaiki tangga menuju kamar.


Asisten rumah tangga itu dengan patuh membawa koper Shania ke atas, mengikuti sang majikan.


"Letakkan situ aja, Bi! Nanti saja simpan ke lemarinya. Jangan lupa bangunkan aku satu jam lagi!" Bi Iyem mengangguk mendapat perintah sang majikan, lalu meninggalkan kamar yang luas itu.


Keenan menutup dan mengunci pintu kamarnya sebelum menyusul sang istri ke peraduan. Mereka sama-sama lelah karena acara kemarin juga lelah dalam perjalanan.


Keenan memeluk tubuh sang istri. Sudah lama dia tidak memeluk istrinya saat tidur. Dulu, sebelum menikah Shania sering menginap di kamarnya, walau hanya tidur saling berpelukan dan tidak melakukan hal yang lebih.


Satu jam berlalu, Keenan tidur dengan sangat nyenyak karena bisa kembali memeluk sang pujaan hati. Laki-laki itu terbangun bukan karena dibangunkan oleh asisten rumah tangganya, melainkan karena kaki sang istri yang mendarat di atas miliknya. Itu berarti sang istri telah membangunkan ular yang tertidur.


Keenan melihat jam yang menempel di dinding kamar. Jam tujuh kurang lima belas menit, dia ada janji dengan pasien jam delapan. Berarti, dia harus segera bangun dan mandi lalu berangkat ke rumah sakit secepatnya agar tidak terjebak macet.


Dengan perlahan Keenan melepaskan belitan tangan dan kaki sang istri dari tubuhnya. Setelah berhasil terlepas, Keenan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Biasanya pengantin baru akan bermanja-manja di rumah bersama pasangannya. Namun, Keenan harus bekerja karena sudah terlanjur mengatur jadwal operasi dengan pasiennya. Jika pernikahan itu tidak dilakukan dadakan, mungkin dia akan sama seperti pengantin baru lainnya yang akan bermanja dengan sang istri di rumah.


Keenan berangkat ke rumah sakit setelah mencium kening sang istri. Dia meminta Bi Iyem untuk menyiapkan sarapan kesukaan sang istri seperti biasa jika pujaan hatinya itu menginap saat belum menikah. Laki-laki itu sendiri hanya minum air putih dan makan kurma tujuh butir karena buru-buru.

__ADS_1


Shania terangun, sesaat setelah Keenan keluar dari pintu pagar rumahnya. Gadis itu terkejut karena terbangun di atas ranjang Keenan, padahal seingatnya tadi dia tidur di atas sofa.


"Bi, bajuku mau diapain itu? Kenapa dimasukkan ke lemari?" tanya Shania ketika melihat asisten rumah tangga itu menyimpan bajunya ke lemari.


__ADS_2