Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 63


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Keenan sudah bersiap untuk berangkat kembali ke Jakarta. Sebagai seorang dokter dia tidak bisa begitu saja meninggalkan para pasiennya. Apalagi sang pasien sudah masuk ke ruang rawat inap.


"Kee, temani kami di sini seminggu saja. Lagian kamu itu pemilik rumah sakit, bisa saja menyuruh dokter lain menggantikan tugas kamu selama seminggu ini," bujuk Shania, tiba-tiba datang manjanya.


Sebelum-sebelumnya Shania tidak memperlihatkan sikap manja pada sang suami walaupun dalam keadaan hamil. Dia selalu mandiri mengerjakan dan menyiapkan segala sesuatunya. Keenan yang sibuk pun tidak pernah diganggunya, tetapi kali ini berbeda sehingga sang suami tercengang dibuatnya.


"Sayang, aku gak bisa kalau dadakan kek gini. Weekend nanti aku ke sini. Kalian baik-baik di sini, ya!"


Keenan mencium kening sang istri dalam dan lama, mencurahkan segala rasa yang ada dalam hatinya. Walau berat meninggalkan sang istri dalam keadaan hamil di desa terpencil, demi cita-cita dan masyarakat yang membutuhkan tenaganya, laki-laki itu harus segera kembali bertugas. Meninggalkan sang istri yang juga bertugas mengabdi pada masyarakat.


Shania meneteskan air mata melepas kepergian sang suami untuk kembali ke Jakarta. Entah kenapa dia tiba-tiba tidak mau ditinggalkan oleh suami blasterannya itu. Sebelum berpisah, perasaan dan pikirannya selalu tenang.


Kini, saat melihat sang suami memasuki mobilnya, ada rasa tak rela. Tidak hanya itu saja, cucu Ary dan Alex itu dadanya tiba-tiba terasa sesak. Seolah-olah akan kehilangan harta yang berharga.


Shania istighfar berulang kali untuk menghilangkan pikiran buruknya. Lalu, dia pun melafalkan do'a untuk keselamatan dan kesehatan sang suami, juga dirinya dan sang anak.


Wanita yang baru saja mendapat gelar dokter itu bergegas menyiapkan diri untuk segera ke Puskesmas. Hari ini adalah hari pertama dia mulai bekerja sebagai dokter mandiri tanpa dosen pendamping. Mulai hari ini dia akan mempraktekkan ilmu yang didapat selama ini.


Sementara itu, Keenan merenung selama dalam perjalanan. Pikirannya berkelana di mana sang istri tinggal. Walau usia kehamilan sang istri sudah memasuki trimester kedua, tetap saja calon ayah itu khawatir terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, Keenan sampai juga di rumah sakit. Kedatangan laki-laki itu langsung disambut oleh dokter spesialis kandungan baru, yaitu Laras.


Gadis cantik yang memiliki body yang aduhai itu sudah merasakan jatuh cinta pada saat pertama kali berkenalan. Sudah berulang kali dia menunjukkan perasaannya pada sang atasan. Namun, Keenan tetap bersikap dingin.


Saat berkenalan, Keenan sudah mengatakan jika dia laki-laki beristri. Laras dan kakaknya pun tahu akan hal itu. Namun cinta tidak bisa melihat apakah orang tersebut sudah memiliki pasangan atau tidak.


"Dok, kok baru datang? Tadi ada pasien saya yang harus menjalani operasi caesar karena terjadi komplikasi. Seharusnya dokter Keenan ikut menangani pasien itu. Berhubung dokter tidak ada kami terpaksa melakukan operasi tanpa dokter Keenan. Namun, nyawa pasien saya tidak tertolong dan keluarganya menyalahkan saya," adu Laras dengan wajah frustasi.


Keenan yang mendapat aduan seperti itu terdiam beberapa saat untuk menganalisa kejadian tersebut. Setelah diam beberapa saat, akhirnya dia pun menanggapi aduan tersebut.


"Begitu banyak dokter yang berkompeten di sini. Kenapa harus menunggu saya? Terlalu lama menunggu akhirnya pasien tidak tertolong. Kamu sebagai seorang dokter seharusnya tahu bahwa melakukan pembedahan itu tidak harus dilakukan oleh satu orang dokter saja. Masih banyak dokter yang bisa menangani itu. Lain kali, panggil dokter yang menangani pasien penyakit yang sama dengan keahliannya. Tidak perlu menunggu saya, karena saya belum tentu bisa datang ke rumah sakit ini." Ada nada kecewa dalam ucapan Keenan menanggapi aduan dokter baru itu.


"Aku harus bisa menarik perhatiannya! Pokoknya aku harus dapatkan dokter Keenan, apapun caranya. Kebetulan saat ini istrinya tidak ada di sini, sungguh ini kesempatan emas bagiku," gumam Laras dengan pikiran menerawang jauh.


Waktu terus bergulir, malam menggantikan siang. Hari ini adalah hari Jum'at, Keenan yang sedang duduk di kursi kebesarannya mulai membereskan berkas-berkas yang berserak di mejanya. Setelah meja rapi, suami Shania itu mulai berdiri.


Dia harus segera ke Bandung untuk melepaskan rindu pada wanita yang telah bertahta di hatinya sejak beberapa tahun lalu. Tidak hanya merindukan sang istri, Keenan juga merindukan tendangan janin yang berada dalam kandungan istrinya.


"Dokter, tunggu!" Suara seorang wanita memanggil Keenan yang berjalan tergesa-gesa menuju ke lobi.

__ADS_1


Keenan hanya memperlambat jalannya, dia tidak mau berhenti karena semua urusan di rumah sakit itu sudah diserahkan pada Rony, sang asisten. Dia ingin memanfaatkan akhir pekan ini hanya bersama keluarga tanpa gangguan dari siapa pun.


Terdengar suara langkah kaki tergesa mendekati langkah lebar pria berusia tiga puluh dua tahun itu. Keenan memiliki tubuh yang tinggi dan tegap dengan berat badan yang ideal, sehingga langkah kakinya begitu lebar.


"Dokter, ada pasien saya yang ...."


"Kamu koordinasikan saja dengan dokter lain. Saya ada urusan penting yang tidak dapat ditinggalkan. Jika kamu tidak bisa bekerja sama dengan dokter lain di sini, silakan tinggalkan surat pengunduran diri di meja saya," potong Keenan begitu saja dengan tatapan mata yang begitu mematikan lawan.


Laras gelagapan melihat tatapan mata yang begitu tegas dan mengintimidasi. Setiap patah kata yang keluar dari mulut pemilik rumah sakit itu mutlak untuk dilaksanakan. Keenan bukanlah orang yang bisa dibantah begitu saja.


Bagi Keenan, siapa pun yang bekerja di rumah sakitnya harus tunduk dan patuh pada peraturan yang ada. Tidak peduli dengan status yang melekat, harus mematuhi semua peraturan yang ada di rumah sakit itu.


Laras menghentakkan kakinya kesal karena lagi-lagi dia tidak bisa menarik perhatian pemilik rumah sakit itu. Selama beberapa hari ini dia sudah berusaha keras untuk menunjukkan perasaannya. Namun, jangankan melihat, melirik sebelah mata pun tidak.


Keenan yang mendengar hentakan kaki adik sahabatnya itu hanya bisa menggelengkan kepala saja. Dia tidak peduli apa kata sang sahabat, yang penting dia sudah menerima Laras dan memberinya pelatihan. Jika nanti sahabatnya itu meminta kembali investasi yang telah ditanamkan, dengan senang hati akan suami Shania itu akan mengembalikannya beserta keuntungan yang diperoleh.


Laras yang mengikuti langkah kaki Keenan, tiba-tiba tersenyum penuh arti.


"Akan aku pastikan, kamu bertekuk lutut di kakiku."

__ADS_1


__ADS_2