Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 17


__ADS_3

Selama menjadi istri seorang dosen muda ganteng tapi galak, belum sekali pun Shaila tidur di atas ranjang yang sama. Shaila selalu tidur bersama Azka, selain karena memang anak itu yang selalu ingin tidur bersama, juga dikarenakan gadis itu sengaja menghindari sang suami. Alasan dia mau menikah dengan Arshaka hanya ingin bebas dari sang ibu.


Mommy Dewi begitu membencinya dan selalu mencari kesalahannya. Shaila sendiri tidak tahu kenapa bisa seorang ibu bertindak seperti itu. Pernah suatu ketika dia bertanya pada sang ayah dan kakaknya, jawaban mereka tidak pernah memuaskan.


Pagi ini Shaila ada jadwal dua mata kuliah pagi dan siang. Sudah satu Minggu gadis cantik itu tidak masuk kuliah. Terhitung sejak menikah dengan dosen Gagaknya.


Pernikahan mereka tidak banyak yang tahu, hanya segelintir orang saja. Itu pun hanya orang-orang dekat dan penting saja. Tidak ada teman Shaka atau Shaila yang mengetahui pernikahan mereka.


"Lo ke mana saja sih? Seminggu nggak kuliah, tugas numpuk banyak banget. Apalagi tugas dari dosen kesayangan lo itu, nggak kira-kira kasih tugasnya," cerca Rosa teman Shaila selain Adiba.


"Gue lagi ada kesibukan baru, tapi tenang aja kalian. Gue sudah kerjain tugas-tugas itu kok. Walaupun gue nggak bisa ikut mengerjakan secara kelompok, yang penting gue ngerjain tugas," jawab Shaila walau tidak sepenuhnya jujur, setidaknya dia tidak berbohong.


"Sibuk ngapain sih? Lo jadi cari kerja?"


Shaila tidak tahu harus menjawab apa. Sang ayah selalu mengajarinya untuk berkata jujur walau itu sangat menyakitkan. Jika seseorang memulai untuk berbohong, maka dibutuhkan kebohongan-kebohongan berikutnya hanya untuk menutupi kebohongan sebelumnya.


"I-iya, gue jadi pengasuh anak balita," jawab Shaila terbata karena berbohong.


"Yang bener?" tanya Adiba seolah tak percaya.


Adiba sudah mengenal Shaila lama, jadi dia sudah mengenal luar dalam sahabatnya itu. Shaila bukanlah orang yang bisa berbohong, gadis itu gadis terjujur yang pernah Diba temui. Gadis itu tahu saat sahabatnya itu berbohong atau tidak.


"B-bener, lagian kalau gue nggak kerja siapa yang akan membiayai kuliah gue. Lo tahu sendiri bagaimana bokap gue yang selalu nurut sama nyokap. Gue bisa apa kalau nyokap bilang gak ada lagi uang buat gue."


"Terserah lo aja deh, asal lo bahagia gue ikut bahagia," ujar Adiba.


Mereka memasuki kelas besama, lalu duduk di deretan kursi yang di tengah. Sambil menunggu dosen datang mereka bertiga melanjutkan cerita yang sempat terpotong karena sang ketua kelas menagih tugas yang dikumpulkan hari ini.

__ADS_1


"Untung gue ngerjain walaupun nyambi momong bocah," kata Shaila setelah duduk.


"Gimana rasanya momong bocah, Shai?" tanya Rosa penasaran karena dia tidak begitu menyukai anak kecil.


"Kek gitulah, ada senengnya ada jengkelnya. Anak-anak kek gitu mah sudah biasa," jawab Shaila dengan santainya.


Adiba yang penasaran dengan cara Shaila mendapat informasi tugas yang diberikan oleh dosen pengampu, akhirnya bertanya dari pada mati penasaran.


"Anak asuh lo itu orang tuanya masih lengkap atau sudah anak yatim?"


"Masih lengkap, anak itu tinggal sama ayahnya. Ibunya sih nggak pernah bertemu. Dengar-dengar sih, di kampung halamannya sekarang. Itu kata si ayah bocil sih, lebih tepatnya aku nggak tahu," jelas Shaila dengan suara tegas.


"Wuih, lo hebat juga ya? Bisa dekat begitu dengan bos lo. Jarang loh, pengasuh bisa tahu sampai sedetail itu masalah pribadi."


"Biasa aja tuh! Emang gue harus tahu detail tentang anak asuh gue. Soalnya majikan cilik gue nggak boleh ketemu sama emaknya."


Sembilan puluh menit kemudian, mata kuliah pagi ini selesai. Semua mahasiswa berhamburan keluar. Ada yang menuju kantin, ada yang ke perpustakaan dan ada juga meninggalkan kampus.


Shaila dan kedua temannya termasuk yang menuju kantin. Tadi pagi gadis itu tidak sempat sarapan karena bangun kesiangan. Tengah malam, Azka tiba-tiba tantrum tidak jelas, sehingga Shaila harus menenangkan bocah itu.


Saat mereka bertiga sedang menikmati makanan, tiba-tiba ada seorang mahasiswa utusan Arshaka menghampiri.


"Lo yang bernama Shaila, 'kan?" tanya laki-laki itu berdiri di samping kursi Shaila.


Shaila hanya mengangguk sambil mengunyah karena mulutnya penuh makanan.


"Lo dipanggil Pak Arshaka tuh. Katanya cepat gak pakai lama," lanjut mahasiswa dengan potongan rambut depan lebih panjang.

__ADS_1


Shaila menunjuk mangkuk di depannya masih mengunyah makanan favoritnya. Dia sengaja tidak menjawab dan meneruskan makannya. Gadis itu tahu, jika dosen muda itu tidak mau menunggu lama.


Lebih baik Shaila lekas menghabiskan makannya dari pada nanti cacing dalam perut protes karena makan yang tertunda. Gadis itu sudah hafal dengan suaminya, pasti tidak akan membiarkan dia meninggalkan ruangan itu dalam waktu cepat.


"Sampaikan ke beliau, gue laper tadi belum sarapan. Selesai makan gue baru ngadep beliau," ujar Shaila dengan santainya.


Pemuda itu pun menurut dan bergegas pergi menuju ruangan dosen muda yang ganteng tapi galak. Dia menyampaikan seperti apa yang dikatakan Shaila tadi. Tidak berani mengurangi atau melebihi takut terkena hukuman dari sang dosen.


Arshaka mengangguk mendengar pesan yang disampaikan oleh mahasiswa yang disuruhnya tadi. Laki-laki itu mengambil ponselnya hendak menghubungi istri kecilnya tetapi diurungkan saat mengingat tadi malam gadis itu harus menenangkan Azka yang tiba-tiba tantrum.


Ada rasa sesal di hati laki-laki itu, tadi pagi dia yang menyeret Shaila untuk segera berangkat agar tidak terlambat sampai kampus. Dia menyalahkan istri kecilnya yang bangun kesiangan sehingga tidak sempat sarapan. Seharusnya Arshaka bisa mengerti keadaan sang istri, apalagi istrinya itu masih kecil dan belum berpengalaman.


Shaila mengetuk pintu ruangan Arshaka, tidak ada rasa takut di wajahnya. Gadis itu tampak tenang seperti tidak peduli jika akan kena hukuman dari dosen sekaligus suaminya itu. Bagi dia tidak ada yang perlu ditakuti dari seorang Arshaka Mandala.


"Masuk!" teriak Shaka dengan tatapan mata tetap pada laptopnya.


Shaila masuk lalu menutup pintu kembali, maju sedikit agar lebih dekat dengan meja dosennya. Tenang. Itulah yang tampak dari wajah gadis cantik itu.


"Bapak memanggil saya?" tanya Shaila dengan wajah datar.


"Tugas yang aku berikan di pertemuan Minggu lalu sudah kamu kerjakan?" Arshaka menjawab pertanyaan anak didik sekaligus istrinya dengan pertanyaan.


Tanpa menjawab pertanyaan dari sang dosen, gadis itu membuka tas ranselnya. Dia mengambil sebuah makalah kemudian meletakkan makalah tersebut di meja. Arshaka mengambil makalah itu dan mulai membacanya dengan teliti.


"Siapa yang mengerjakan makalah ini?" tanya Arshaka dengan tatapan mata mengintimidasi.


__ADS_1


__ADS_2