Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 11


__ADS_3

Arshaka tak sabar menunggu calon istri yang sedang mencoba beberapa kebaya untuk akad besok pagi. Di saat kesabaran itu sudah mulai menipis karena Shaila tidak kunjung keluar dari ruang ganti, pintu ruang ganti terbuka dan menampilkan sesosok gadis yang tampak cantik dalam balutan kebaya modern warna putih gading. Duda muda itu terpaku di tempatnya.


Shaila berulang kali memanggil dosen muda itu, tetapi sepertinya pikiran sang dosen sedang berkelana ke dunia khayalan. Teriakan gadis itu begitu kuat sehingga menjadi tontonan pengunjung butik, tetapi Arshaka tetap tidak bergeming. Pandangan laki-laki itu tidak berkedip sama sekali tertuju pada Shaila.


Arshaka kembali tersadar setelah Shaila memukul lengannya kuat karena kekesalan yang memuncak. Laki-laki itu tergeragap saat merasakan panasnya pukulan anak didiknya. Wajah ayah satu anak itu memerah karena malu terciduk sedang melamun.


"Pak, saya pilih ini saja. Boleh?" tanya Shaila begitu pak dosen galaknya sudah bisa diajak berbicara.


"Pakai apapun kamu selalu terlihat cantik, apalagi baju ini. Tanpa make up pun wajahmu sudah bersinar, membuatku tidak sabar menunggu hari esok."


"Pak! Kok melamun lagi? Kalau Bapak belum siap menggantikan posisi ibu Azka, sebaiknya pernikahan ini kita batalkan saja. Sebelum terlanjur terjadi," ucap Shaila menohok sekali.


Arshaka tidak menanggapi ucapan calon istrinya karena apa yang dipikirkan oleh Shaila itu salah dan dia sedang malas untuk menjelaskan.


"Kamu terlihat semakin cantik!" celetuk Shaka sembari berjalan menuju kasir untuk membayar kebaya yang masih melekat sempurna di tubuh Shaila.


Wajah Shaila merona mendengar pujian dari calon suami yang selama ini selalu judes. Gadis itu tidak menyangka sama sekali jika dosen galak itu bisa juga bersikap manis seperti tadi. Bukannya mengganti pakaian, gadis itu malah melamun.


Setelah mendapatkan baju yang akan dipakai untuk akad nikah besok pagi, Shaka mengantarkan Shaila pulang ke rumah orang tuanya. Setelah mengantar calon istri sampai rumah, Shaka langsung pulang ke rumah sang ayah.

__ADS_1


Pagi hari di kediaman Damian Mandala, tampak penghuni rumah sudah siap berangkat menuju KUA. Namun, pihak keluarga Shaila mengabari jika pernikahan mereka diadakan di rumah Dokter Nathan. Akhirnya, Damian pun mengabari keluarga besarnya untuk segera meluncur ke alamat rumah yang baru saja dia berikan.


Sementara itu, Shaila tampak cantik dalam balutan kebaya modern berwarna putih gading. Rambutnya hanya digelung kecil dan disematkan bunga rangakaian bunga melati dan kantil. Wajahnya dirias dengan make up tipis tetapi tampak elegan, sesuai dengan permintaannya.


Gadis itu tidak terbiasa menggunakan make up, sehingga dia menolak dirias dengan make up tebal. Awalnya dia hanya mau memakai bedak dan lipstik dengan warna kalem. Namun, berkat bujukan sang ayah akhirnya menyerah dan mau dirias tipis.


Walau berat menikah dengan Shaka, Shaila tetap menuruti keinginan sang ayah. Toh selama ini dia selalu merasa dianaktirikan oleh ibunya sendiri. Mungkin dengan menikah muda bisa membuatnya lepas dari keluarga.


Shaila merasa dengan menikah, dia tidak lagi menyusahkan keluarganya. Gadis itu sudah lelah setiap hari berantem dengan wanita yang melahirkannya. Tanpa dia tahu apa salah yang telah diperbuatnya, dia selalu dihujat dan disalahkan ibunya.


Berbanding terbalik dengan sang kakak Shania yang saat ini sedang menempuh sekolah kedokteran di Jakarta. Sang kakak selalu mendapat perlakuan manis dari ibu mereka. Tak pernah sekalipun sang ibu berkata dengan suara tinggi apalagi memarahi jika sang kakak berbuat salah.


Rasanya dia bisa bernapas dengan lega karena sudah tidak menjadi tanggung jawab orang tuanya. Namun, Shaila juga berat meninggalkan sang ayah karena nanti akan sangat jarang bertemu. Mungkin ini jalan hidup yang harus dilalui, demi kebahagiaan orang tua dia akan lakukan apapun.


Keluarga Mandala tiba sepuluh menit penghulu dan petugas KUA datang. Kini kedua pengantin itu didudukkan berdampingan di depan penghulu dengan batas meja. Setelah sesi tanya jawab, akhirnya akad pun dilaksanakan.


Acara pernikahan itu berjalan lancar, bahkan Shaka bisa mengucapkan ijab kabul dengan sekali tarikan napas. Laki-laki itu bersungguh-sungguh dalam mengucapkan janji pernikahan. Berharap ini adalah pernikahan yang terakhir bagi dia dan Shaila, walaupun belum ada cinta di hati istrinya.


Shaila mencium punggung tangan laki-laki yang baru beberapa menit telah sah menjadi suaminya, begitu cincin pernikahan melingkar di jari manisnya. Setelah itu, Shaka membacakan do'a untuk sang istri, lalu mencium kening Shaila dengan mata terpejam dan penuh cinta.

__ADS_1


Hal yang kemudian mereka lakukan adalah menandatangani berkas-berkas pernikahan. Selesai dengan urusan berkas-berkas dari petugas KUA, pasangan pengantin baru itu sungkem pada kedua orang tua secara bergantian.


"Dad, Shaila mohon maaf selalu menyusahkan Daddy dan mommy selama ini, bahkan Shaila belum pernah membahagiakan Daddy dan mommy. Shaila mohon do'a restu Daddy, semoga Shaila bahagia selalu," ucap Shaila dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak, kamu tidak salah. Seharusnya Daddy yang minta maaf karena belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk kamu. Patuhi suami kamu, ingat ridho suami kamu berarti ridho Allah. Jangan pernah membantah jika selama itu untuk kebaikan!"


Ayah dan anak itu saling berpelukan dengan tangis mewarnai acara sungkem itu. Setelah dirasa cukup, keduanya daling melepas pelukan itu. Kemudian, bergantian dengan Shaka.


Kini Shaila akan sungkem pada sang ibu, berbeda dengan sang ayah. Ibunya itu memasang wajah datar dan tanpa banyak kata saat Shaila meminta maaf dan restu. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut sang ibu.


Hancur, itulah yang dirasakan Shaila. Sejak kecil sampai menikah dia tidak bisa mengingat perlakuan baik ibunya, kecuali saat perut ibunya membesar. Ya, mommy-nya hamil tetapi janinnya meninggal dalam kandungan.


"Jaga putriku dengan baik, sayangi dia dengan setulus hatimu. Bimbinglah Shaila dengan benar jika melakukan kesalahan. Jangan pernah memukulnya karena aku tidak pernah memukulnya sekalipun anak itu berbuat salah besar. Cukup ingatkan dia.


Jika rasa cinta dan sayangmu untuknya telah berkurang, atau kamu tidak sanggup lagi mendidik dan membimbingnya, maka kembalikan dia padaku dengan cara baik-baik. Tidak perlu kau ungkit segala kesalahan yang membuat rasa cintamu menghilang," ucap seorang ayah yang akan berpisah dengan putri kecilnya.


Bagi Nathan, Shaila tetaplah anak kecil kesayangannya. Walaupun anak itu sering melakukan kesalahan, maaf tanpa syarat selalu diberikan. Sebisa mungkin dia akan membimbing anak itu agar tidak mengulang salah yang sama.


__ADS_1


__ADS_2