
Shaila duduk diam termenung di samping ranjang anak sambungnya. Bocah umur tiga tahun itu sudah terlelap, setelah lelah buang air besar berulang kali lalu diberi obat. Tidurnya tampak pulas dan tenang tidak seperti orang yang sedang sakit, hanya saja wajah itu tampak pucat.
Gadis itu merasa bersalah karena telah membuat seorang anak kecil sakit akibat kelalaiannya. Bukan salah dia sepenuhnya karena dia tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman sama sekali tentang menangani anak kecil. Yang dia tahu hanya membuat seorang anak kecil bahagia dan tertawa.
Ternyata tidak gampang menjadi seorang istri dan ibu di usia yang masih belia. Namun, apa hendak dikata semua sudah terjadi. Seandainya masih bisa memilih lebih baik berhenti kuliah dan bekerja saja agar tidak menyusahkan orang tuanya.
Sayangnya, berandai-andai bukanlah sikap seorang umat muslim karena itu sama saja tidak percaya dengan takdir Allah. Sesungguhnya apa yang terjadi dalam hidup kita ada campur tangan Allah di dalamnya. Allah telah mengatur segala urusan umatNya.
Arshaka duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Laki-laki anak satu itu sedang menatap layar laptopnya. Tesisnya harus selesai dua bulan lagi karena jadwal sidang sudah ditentukan tidak sampai tiga bulan lagi.
Pikiran Arshaka yang bercabang membuat dia tidak fokus mengerjakan tesisnya. Tadi pagi dia ke kampus untuk melihat pengumuman pelaksanaan sidang tesis. Oleh karena itu, ayah Azka itu harus segera menyelesaikan tesis dalam waktu dekat ini.
Shaila sudah tidur di kursi dengan kepala diletakkan di pinggir ranjang. Arshaka sendiri masih berkutat dengan tesisnya yang masih dua bab lagi baru selesai. Jam tiga pagi, mata dan badannya sudah tidak dapat lagi diajak bekerja sehingga dosen muda itu memilih untuk beristirahat.
Sebelum adzan subuh berkumandang, Shaila sudah terbangun karena merasakan badannya pegal. Gadis itu melakukan peregangan untuk mengurangi rasa sakit karena posisi tidurnya yang salah. Setelah itu dia ke kamar mandi bersiap untuk melaksanakan ibadah.
Hari ini cucu Ary dan Alex itu sengaja tidak berangkat kuliah. Dia ingin menjaga dan merawat anak sambungnya karena kelalaiannya sang anak sakit dan harus dirawat. Untuk menebus rasa bersalahnya, Shaila harus merawat anak itu sampai sembuh.
Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir tebal Arshaka. Hatinya masih diliputi kemarahan dan pikirannya pun masih penuh dengan masalah kerjaan juga masalah pendidikan yang diambilnya. Diam lebih baik dari pada nanti mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakitkan dan menjadi penyesalan.
Tiga hari berlalu, kondisi Azka sudah dinyatakan membaik dan stabil. Hari ini bocah umur tiga tahu itu diperbolehkan pulang, tetapi masih harus kontrol seminggu sekali sampai dinyatakan benar-benar sehat.
__ADS_1
Shaila mengurus administrasi sedangkan Rina yang menemani Azka di ruangan. Arshaka sendiri tidak diketahui dimana keberadaannya karena dia pergi tidak meninggalkan pesan apalagi pamit. Untung saja kartu debitnya berisi sepuluh angka berjejer, jadi tidak susah kalau hanya untuk membayar biaya rumah sakit.
Shaila tidak keberatan sama sekali uangnya dipakai untuk membiayai anak sambungnya. Jangankan anak sambung, anak kecil yatim piatu saja dia tolong dengan ikhlas.
"Yuk, pulang! Administrasinya sudah beres nih," ajak Shaila begitu masuk ke kamar rawat Azka.
"Yeeiii, pulang! Pulang ... pulang ...."
Bocah umur tiga tahun itu sangat senang saat diajak pulang oleh ibu sambungnya. Rina yang melihat itu pun tersenyum bahagia karena anak asuhnya ceria kembali. Mereka bertiga lalu meninggalkan kamar itu dengan tentengan di tangan kanan kirinya.
Shaila sudah memesan taksi online saat menyelesaikan administrasi, sehingga saat dia dan Azka sampai di lobi rumah sakit taksi itu sudah stand by. Gadis itu langsung menyimpan semua barang di bagasi, sedangkan Azka dia suruh masuk ke mobil.
Begitu taksi berhenti, Azka langsung membuka pintu mobil dan melesat keluar. Anak itu sangat bahagia bisa menghirup udara bebas dan tidak ditusuk-tusuk jarum lagi. Ternyata pintu rumah itu tidak terkunci sehingga memudahkan Azka masuk begitu saja.
Rina menenteng tas pakaian dan plastik berisi perlengkapan selama di rumah sakit. Gadis dewasa itu membawa barang-barang bawaannya menuju ke belakang. Shaila sendiri malah berdiri mematung di pintu.
Dahi Shaila mengernyit heran, seingatnya tidak ada orang di dalam rumah super minimalis itu. Kedua mertuanya tidak mengabari jika akan berkunjung. Begitu juga dengan Shaka yang tidak pulang sejak tadi malam.
"Omaa!" teriak Azka disusul dengan tawa pecah bocah itu.
Ternyata orang tua Arshaka sedang menunggu kedatangan cucunya. Mama Nenti dan Demian Mandala memilih menunggu di rumah setelah menghubungi Shaila beberapa saat yang lalu. Kemarin Mama Nenti dan tuan Demian juga sudah datang menjenguk cucu kesayangan itu.
__ADS_1
"Shaka mana, La?" tanya Mama Nenti pada menantunya.
"Maaf, Ma. Shaila tidak tahu, soalnya Pak Shaka tidak memberitahu," jawab Shaila dengan kepala tertunduk karena merasa malu, seorang istri tidak mengetahui keberadaan sang suami.
"Tidak usah minta maaf, Sayang. Kamu tidak salah, anak itu yang tidak tahu diri. Katanya cinta, katanya sayang tapi tidak peka," ucap Mama Nenti menghibur sang menantu.
Azka tidak mau disuruh istirahat di kamarnya. Bocah kecil itu memilih merebahkan badannya di sofa panjang yang ada di ruang keluarga. Dengan tenangnya anak itu menyalakan televisi dan lama-lama matanya terpejam.
Sementara itu, Shaka sedang dalam perjalanan menuju sebuah kafe untuk menemui seseorang. Laki-laki itu sibuk di kampus mengurus tesis dan mengajar. Ya, dia mengambil pendidikan magister di kampus tempat dia mengajar.
Shaka lulus sarjana dalam waktu tiga tahun dengan nilai cumlaude, sehingga dia mendapat beasiswa dan diangkat menjadi dosen. Sebelumnya dia seorang mahasiswa yang menjadi asisten dosen karena kepandaiannya. Oleh karena itu dia bisa langsung diangkat menjadi dosen di kampus itu.
Kafe yang Shaka datangi adalah kafe penuh kenangan saat dia masih memakai seragam abu-abu. Dulu setiap kali kencan dengan sang pacar, kafe inilah menjadi tempat favorit pacarnya. Berat rasa hati Arshaka untuk masuk ke tempat ini karena hanya akan mengorek luka lama.
Akan tetapi, dia tidak bisa mundur karena sudah lama mereka tidak bertemu. Lima tahun tanpa kabar tiba-tiba bertemu lalu membuat janji untuk bertemu dan mendengarkan cerita kawan lama.
"Shaka!" panggil seorang wanita cantik yang sudah duduk di pojokan menunggu kedatangannya.
Shaka pun berjalan mendekat pada gadis itu dengan wajah tampak berbinar bahagia.
"Hai Sha! Maaf lama, tadi habis bimbingan tesis, langsung ke sini."
__ADS_1