Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 56


__ADS_3

Arshaka mengikuti brankar yang membawa sang istri menuju ruang UGD bersama kedua mertuanya, sedangkan Keenan bersama Shania menunggu di depan ruangan. Pemilik rumah sakit sekaligus dosen itu mengajak istrinya duduk di bangku besi yang ada di depan ruangan tersebut.


Begitu akan meletakkan bokongnya ke kursi, ada seorang wanita yang menggunakan jas putih mendekati Keenan lalu menyapa.


"Dokter Keenan? Kok sudah ada si sini, memangnya siapa yang sakit?" Gadis yang berprofesi sebagai dokter itu berdiri tepat di depan Keenan.


"Adik ipar lemas karena dehidrasi. Maklumlah lagi hamil muda," jawab Keenan dengan senyum ramahnya.


Shania yang melihat interaksi sang suami dengan wanita cantik itu tampak mencebik. Hatinya bagai terbakar api, panas. Rasanya bahkan sampai ke ubun-ubun. Jika dalam animasi, sudah mengeluarkan bara dari kepalanya.


Dua dokter yang baru saling mengenal itu tampak akrab berbincang tentang kehamilan seorang wanita yang memiliki resiko tinggi. Shania hanya menjadi pendengar saja dan sesekali bibirnya mencebik tanda tidak suka. Setelah beberapa saat dua orang itu masih asyik ngobrol, istri Keenan itu menghentakkan kaki lalu meninggalkan mereka.


Keenan yang merasa sang istri kembali cemburu, hanya menarik sudut bibirnya tipis. Sangat tipis sehingga orang tidak akan menyadarinya. Usahanya untuk membuat sang istri kembali seperti dulu secara perlahan, sepertinya sudah mulai menunjukkan hasil.


Tak lama kemudian, Shaila dibawa ke ruang rawat inap setelah diperiksa dan diinfus agar tidak kekurangan cairan. Arshaka dan kedua mertuanya berjalan mengikuti brankar yang membawa wanita yang tengah hamil muda itu menuju kamar yang khusus diperuntukkan bagi keluarga pemilik rumah sakit itu. Keenan pun pamit pada dokter muda yang bernama lengkap Larasati Suryanegara, mengikuti langkah kaki sang mertua.


Sementara itu, Shania yang meninggalkan sang suami sedang bersembunyi di ruangan sang ayah. Dia merebahkan badannya di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Tak lama kemudian matanya pun terpejam dan tertidur pulas.


Satu jam kemudian, Keenan mendapat telepon dari Jakarta dan mengharuskannya untuk segera meninggalkan kota gudeg itu. Lelaki itu mencari keberadaan sang istri, tetapi tidak kunjung menemukan. Akhirnya dia memutuskan pergi begitu saja setelah pamit pada kedua mertua dan adik iparnya.

__ADS_1


Keenan meninggalkan mobilnya di rumah sakit, kuncinya dia titipkan pada sang ayah mertua. Laki-laki itu memutuskan pulang ke Jakarta menggunakan pesawat komersial agar lebih cepat sampai dari pada menggunakan mobil sendiri. Badannya terasa begitu lelah, sehingga mencari yang aman dengan naik pesawat.


Ternyata Keenan harus segera ke Penang untuk menghadiri rapat kerja sama yang satu tahun lalu dia ajukan. Rapat itu tidak bisa diwakilkan oleh orang lain sehingga mau tidak mau dia harus segera bertolak ke negeri Jiran itu. Tidak mungkin dia melepaskan kesempatan emas ini hanya untuk mengambil hati sang istri.


Selain untuk mengurus kerja sama untuk mengembangkan rumah sakitnya, Keenan ingin menguji cinta sang istri. Dia ingin tahu perasaan sang istri yang sebenarnya. Mungkin terlalu gengsi tidak mau mengakui masih cinta atau memang rasa itu telah hilang terkikis waktu.


Malam harinya, Shania merasa kehilangan Keenan. Dia yang sudah terbiasa diperhatikan oleh sang suami, tiba-tiba tidak diperhatikan sejak pagi tadi. Mungkin suaminya itu marah karena kata-kata yang terlontar dari mulutnya pada sang suami sehingga melukai harga dirinya.


"Dad, Keenan kemana ya? Sejak tadi Shania tidak melihatnya," tanya istri Keenan pada sang ayah.


"Pulang ke Jakarta setelah mendapat telepon dari asisten pribadinya. Ada rapat penting yang harus dihadiri dia dan tidak boleh diwakilkan. Ini kunci mobil dan surat-surat kendaraan," jelas Nathan pada sang anak seraya menyerahkan kunci beserta surat-surat kendaraan.


"Naik pesawatlah! Kamu itu sudah menikah tapi pikiran masih l3m0t saja," sahut Nathan dengan ketus, merasa kesal pada anak sulungnya itu.


Shania terkejut kala mendengar sang suami ke Penang untuk menandatangani kontrak kerja sama yang bernilai triliunan rupiah. Wanita itu merasa telah diabaikan oleh sang suami sehingga menjadi uring-uringan sendiri.


Shania akhirnya memilih pulang ke rumah orangtuanya menggunakan mobil sang suami. Sepanjang perjalanan pulang, wanita itu menggerutu karena sang suami pergi tanpa pamit, padahal dia ingin dibujuk bukan ditinggal begitu saja.


Tanpa wanita itu ketahui jika tadi sang suami sudah berkeliling rumah sakit mencari dirinya. Namun, belum sempat bertemu Keenan harus segera terbang ke Jakarta karena tiket pesawat yang dibooking akan tinggal landas satu jam lagi. Asisten pribadinya sudah mengatur jadwal penerbangan dirinya, sehingga tidak mungkin membatalkan begitu saja.

__ADS_1


Malam ini juga Keenan melakukan perjalanan menuju Penang agar besok pagi tidak terlambat menghadiri rapat kerja sama yang sudah ditunggunya selama setahun terakhir. Kebetulan sejak berangkat dari Jogja, Keenan melupakan ponselnya karena terlalu sibuk menyiapkan berkas untuk rapat nantinya.


Begitu sampai di hotel, laki-laki itu baru teringat dengan ponselnya yang dia simpan di tas laptop. Saking terburu-buru dia memasukkan begitu saja ponselnya ke dalam tas bersamaan dengan laptopnya.


Tidak ada pesan atau pun panggilan dari sang istri sejak tadi siang. Keenan menghela napasnya pelan. Ternyata sang istri tidak merasa kehilangan sama sekali atas perginya tanpa pamit. Mungkin dia harus lebih bersabar lagi.


Keenan pun ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beristirahat mengarungi lautan mimpi. Dia harus segera beristirahat agar tidak bangun kesiangan karena besok adalah penentu diterima atau tidaknya proposal kerja sama yang dia ajukan setahun yang lalu.


Tak menunggu lama untuk bisa mengarungi mimpi. Keenan dengan mudahnya tertidur karena rasa lelahnya, lelah hati juga lelah badan. Namun, dia tidak mengeluh sama sekali. Dia jalani semua ini dengan ikhlas.


Shania yang merasa kecewa karena sag suami pergi tidak pamit padanya tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang pada saat mereka masih pacaran. Sikap Keenan padanya tidak pernah berubah sampai hari ini tadi, sehingga dia yang sudah terbiasa diratukan tiba-tiba merasa ada yang hilang.


Pagi-pagi sekali Shania bangun dan seperti biasa menunaikan kewajibannya. Setelah itu dia kembali tidur karena matanya tiba-tiba saja sangat lengket seperti terkena lem. Sementara itu, sang suami di Penang sudah berpakaian rapi hendak menghadiri rapat dengan salah satu pemilik rumah sakit terbesar di kota itu.


Keadaan Shaila sudah membaik walaupun setiap mencium aroma parfum atau bau yang menyengat langsung muntah-muntah. Selain itu tidak ada makanan yang bisa masuk ke mulutnya karena indra penciuman istri Arshaka itu sangat sensitif.


Hari pun berlalu, tiga hari sudah Keenan berada di Penang. Kesibukannya di kota itu membuatnya tidak sempat untuk menghubungi sang istri. Hal ini dikarenakan dia berada di kota itu sendiri tanpa asisten pribadinya, sehingga dia sangat sibuk.


Shania merasa gelisah karena sang suami tidak menghubunginya sama sekali ingin menghubungi terlebih dahulu takut mengganggu. Selain itu rasanya terlalu tinggi sehingga memilih bertahan memendam kerinduan.

__ADS_1


Apa sikapku selama ini sudah tidak termaafkan lagi? Sampai dia memilih pergi, padahal aku ingin berbicara berdua padanya untuk meminta maaf. Di saat aku ingin belajar menjadi istri yang baik, dia malah pergi tanpa pamit dan kabar.


__ADS_2