Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 44


__ADS_3

Setelah rasa cemburu Shaila reda, Arshaka membawa kembali istri kecilnya itu kembali ke rumah mertuanya untuk menjemput sang anak. Mereka tadi pergi begitu saja tanpa pamit setelah memastikan Azka aman bersama sang mertua.


"Yaah, yang nikah siapa, siapa pula yang sudah gak sabar masuk kandang. Nggak mau kalah sama pengantin baru nih ceritanya?" Kedatangan Arshaka dan Shaila yang tampak mesra sejak turun dari mobil disambut nyinyiran dari sepupu Shaila.


"Iri? Bilang boss!" sahut Shaila mengikuti salah satu iklan.


"Buahaha ...."


Ruang tamu yang tadinya sepi menjadi ramai karena banyolan Shaila dan sepupunya, Arshen. Anak dari adik sang ayah, yaitu Tante Shofie. Sepupu yang lain pun ikut bergabung bersama mereka.


Tak lama kemudian muncul anak Om Nicholas yang bernama Daniel bersama Azka. Anak itu tampak nyaman bersama orang yang baru ditemuinya di rumah sang ibu sambung.


"Eh, Kak Daniel kapan datang? Perasaan tadi pagi sampai siang tidak ada," tanya Shaila seraya menyalami kakak sepupunya itu.


"Baru setengah jam sampai, pagi ada pertemuan dengan kolega di Jakarta. Selesai siang langsung ke sini," jawab Daniel


"Mana suami kamu? Anaknya cerdas, aku suka," tanya Daniel pada adik sepupunya.


"Pak," panggil Shaila pada Arshaka yang mengundang gelak tawa para sepupu Shaila, juga sang paman yang baru saja ikut bergabung di ruang tamu yang luas itu.


"Sayang," sahut Shaka seraya menggeleng.


"Ini bukan di kampus Shai. Masak panggilnya tetap bapak juga sih? Nggak keren tahu!"

__ADS_1


"Nikah sudah enam bulan lebih, tapi masih panggil bapak. Kalau lagian begituan d3s4hnya teriak bapak juga, gitu?" celetuk kembaran Daniel.


Shaila tertunduk malu mendengar saudara sepupunya meledek dia. Alya datang mendekati wanita cantik itu untuk menghiburnya. Alya bisa memaklumi itu.


Tidak mudah merubah kebiasaan, apalagi setiap hari bertemu di kampus harus memanggil dengan sebutan pada umumnya. Terlebih sang suami selalu bersikap formal baik di rumah atau pun di kampus.


Sikap formal yang selalu ditemui itulah yang membuat Shaila tetap memanggil sang suami dengan formal. Walaupun sang suami sering protes atas panggilan itu, lama-lama Arshaka pun membebaskan sang istri memanggil dirinya apa saja yang penting sopan.


Berbeda dengan suasana di ruang tamu, suasana di kamar Shania tampak begitu lengang. Pengantin baru itu sama-sama diam tak bersuara. Setiap kali Keenan berusaha mengajak bicara sang istri, istrinya itu menatapnya tajam lalu caci maki keluar dari mulut gadis cantik itu.


Keenan memilih diam dari pada menghadapi amarah sang istri. Diam karena dengan diamnya dia berarti mengurangi dosa sang istri. Laki-laki itu hanya tidak ingin orang yang dicintainya bertambah dosa karena kebenciannya pada dia.


Setelah hampir satu jam dalam ruangan yang sama tanpa bicara, Keenan pun memutuskan untuk memberi tahu sang istri jika malam ini mereka harus kembali ke Jakarta.


"Kamu mau di sini sampai kapan? Apa kamu tidak ingin disebut dokter karena sudah bisa membuka praktek sendiri? Enam bulan lagi masa pendidikan mu berakhir. Kalau kamu masih tetap di sini tidak menutup kemungkinan satu tahun lagi kamu baru bisa menyelesaikannya. Bisa juga lebih setahun jika kamu seperti ini terus." Dengan sabar Keenan memberi nasehat pada istri kecilnya itu.


Selisih umur yang terpaut jauh, membuat Keenan bisa bersikap bijak menghadapi sang istri yang masih labil. Tak ingatkah istrinya itu, dulu saat mereka baru saja pacaran. Tak mereka indahkan larangan agama untuk tidak berpacaran atau bersentuhan selain mahram?


Mereka dulu begitu bebas mengekspresikan rasa cinta mereka yang baru mekar. Kini setelah dua tahun pacaran, hubungan mereka jadi hambar karena sang istri iri melihat kebahagiaan sang adik.


Shania memasukkan sebagian bajunya ke dalam koper. Akhirnya mau tidak mau dia harus ikut kembali ke Jakarta bersama sang suami. Niat hati ingin ke Jakarta esok hari harus dimajukan malam ini karena sang suami sudah ada janji dengan pasien besok pagi jam delapan.


Setelah Maghrib, pasangan pengantin baru itu turun bergabung bersama keluarga besar sang ayah di ruang makan. Mereka sudah berkumpul mengelilingi makanan yang tersaji di atas karpet yang terbentang. Ya, mereka sudah terbiasa menyantap hidangan dengan duduk di atas karpet kala berkumpul bersama keluarga besar, terkesan lebih akrab.

__ADS_1


"Loh, pengantin baru mau kemana? Pindah ke hotel? Bukannya setiap kamar di sini ada peredam suaranya?" cerca Daniel penasaran melihat pasangan itu masing-masing membawa koper.


"Kami harus kembali ke Jakarta malam ini juga, Mas. Besok pagi saya ada jadwal operasi pasien, pasiennya sudah berada di rumah sakit sejak kemarin. Lagian siangnya Shania juga ada jadwal mendampingi dokter senior." Keenan menjelaskan alasannya meninggalkan rumah itu malam ini juga.


"Kalian naik mobil aja? Nggak capek apa, sehabis seharian berdiri menyambut tamu?" tanya Arshen penasaran.


"Ada sopir kok, tenang saja Mas," jawab Keenan lagi.


Dewi datang sambil membawa sepiring telur balado. Dia menyuruh semuanya untuk makan terlebih dahulu. Akhirnya mereka makan sambil bercerita karena sudah lam tidak berkumpul seperti ini.


Selesai makan malam, Keenan berbincang sebentar dengan sang mertua. Laki-laki berusia tiga puluh dua tahun itu mendapat wejangan dari mertua dan para sesepuh yang lebih berpengalaman dalam berumah tangga. Keenan hanya menjadi pendengar saja, mencoba memahami dan mencerna setiap apa yang mereka katakan.


Jam sembilan malam, Keenan dan Shania meninggalkan rumah mewah itu. Pasangan itu duduk berjauhan karena Shania tidak mau berdekatan dengan sang suami. Diajak berbicara pun tidak mau menjawab, jika menjawab dengan suara tinggi.


Keenan memilih diam dan tidur untuk membunuh rasa sepi melewati malam panjang perjalanan menuju ke Jakarta. Mengajak berbicara sang istri malah hanya akan menambah dosa. Sepertinya dia belum mengenal sang kekasih hati sepenuhnya sehingga terjadi seperti ini.


Mereka sampai di rumah Keenan sesaat sebelum adzan subuh berkumandang. Keenan membangunkan sang istri yang tampak tidur pulas. Setelah beberapa saat dibangunkan tidak kunjung bangun, Keenan berinisiatif mengangkat sang istri masuk ke kamarnya.


Baru saja menutup pintu mobil dengan kaki, Shania yang berada dalam gendongan Keenan terbangun. Matanya tampak memerah. Untuk sesaat dia terdiam memulihkan ingatannya pada beberapa jam yang lalu. Begitu teringat, Shania langsung meronta minta diturunkan.


"Sabar, Sayang. Pelan-pelan nuruninnya, takutnya kamu jatuh kalau buru-buru turun," ucap Keenan dengan sabar menurunkan sang istri dari gendongannya.


"Kenapa pulang ke sini sih? Aku 'kan sudah bilang mau tinggal di kos seperti biasanya." Shania tidak terima diajak pulang ke rumah sang suami.

__ADS_1


__ADS_2