
"Sebelumnya Keenan minta maaf karena membiarkan Shania pulang sendiri. Tujuan Keenan ke sini mau jemput Shania, Dad. Tadi pagi dia pergi naik pesawat tujuan Jogja. Apa dia tidak ke sini?" Keenan menjelaskan tujuannya mendatangi kediaman mertuanya itu dan menanyakan keberadaan sang istri pada mereka.
Lagi-lagi Nathan dibuat tercengang mendengar penjelasan dari sang menantu yang baru sebulan menikahi anak sulungnya. Ternyata anak pertamanya itu masih belum bisa menerima Keenan sebagai suami. Walaupun laki-laki itu sangat mencintai Shania, tetapi gadis yang baru saja melepas masa perawannya itu sulit untuk menerima.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar Besok pagi kita ke rumah Shaila, mungkin Shania di sana. Selama ini dia sering pulang ke rumah adiknya dari pada pulang ke sini," ucap Nathan akhirnya merasa kasihan melihat wajah lelah sang menantu.
Keenan masuk ke kamar sang istri dengan wajah serta badan lesu. Pria itu tidak menyangka jika san istri akan begitu marah padanya, padahal semua itu bukan salah dia apalagi atas dasar sengaja. Sepertinya dia harus lebih bersabar lagi.
Dokter muda itu merasa bahwa Tuhan sedang mengujinya. Oleh karena itu, dia hanya butuh sabar dan iman yang kuat untuk menghadapi ujian dari Sang Pemilik. Keenan berharap ujian ini dapat segera diselesaikan dan mendapatkan hasil yang memuaskan, inshaa Allah.
Di ruang keluarga, Nathan dan Dewi sedang membahas anak-anak mereka yang sudah berumah tangga dan memiliki masalah yang berbeda. Setiap manusia tidak lepas dari pikiran hidup. Saat baru menikah berpikir kapan memiliki anak, begitu hamil memikirkan kebutuhan sang anak begitu lahir.
Anak lahir ingin sang anak cepat tumbuh besar dan bisa berjalan. Bisa berjalan, orang tua memikirkan sekolah yang terbaik untuk anak-anaknya. Setelah anak selesai menjalani pendidikan sibuk mencarikan lapangan kerja anak-anak.
Anak sudah mendapatkan penghasilan, orang tua mulai memilih jodoh terbaik untuk anak. Setelah anak menikah, masih memikirkan kebahagiaan anak saat bersama pasangan mereka masing-masing. Begitu memiliki cucu, memikirkan kesejahteraan anak cucunya.
Seperti itulah gambaran hidup orang yang sudah menikah. Mereka akan terus memikirkan anak dan anak. Mereka akan berhenti memikirkan anak-anak keturunan mereka setelah ajal menjemput.
Sebagai seorang anak, sudah semestinya kita memikirkan perasaan orang tua. Jika tidak bisa memberikan sebagian harta kita, paling tidak menjenguknya di hari-hari tertentu. Mereka, orang tua kita, hanya berharap di hari tuanya ditemani anak cucu. Jika tidak bisa tinggal bersama, paling tidak sesekali menjenguknya.
__ADS_1
"Besok pagi kita sempatkan waktu untuk anak-anak, Wi. Jangan sampai mereka saling bermusuhan. Sebagai orang tua, kita harus menjadi penengah agar mereka tetap akur sebagai kakak beradik," ujar Nathan setelah terdiam cukup lama di ruang keluarga didampingi sang istri.
"Iya, aku akan meminta tolong dokter lain untuk menggantikan aku. Semoga saja jadwalnya tidak bentrok," sahut Dewi, merasa prihatin dengan nasib rumah tangga anak-anaknya.
Pasangan suami istri yang tak lagi muda itu bersama memikirkan jalan keluar agar Shania mau menerima Keenan dengan hati yang lapang. Selain itu, mereka juga berharap kebahagiaan selalu mengiringi langkah perjalanan rumah tangga anak-anaknya.
Keenan malam ini tidak bisa tertidur memikirkan sang istri. Baru saja menjadikan Shania istri seutuhnya, sudah ditinggal kabur. Bagaimana nanti jika Tuhan menitipkan zuriat dalam rahim sang istri? Apalagi yang akan dilakukan oleh wanita yang sangat dicintainya itu.
Tidak jauh berbeda dengan sang suami, Shania pun tidak bisa tidur. Bayangan malam sebelum dia meninggalkan sang suami, tiba-tiba hadir mengusik pikirannya. Rasa malu mulai menghinggapi.
Setiap matanya terpejam, bayangan malam panas itu selalu berputar bak kaset rusak. Walaupun dalam pengaruh obat, Keenan tetap memperlakukannya dengan lembut. Cinta yang dirasakan laki-laki itu begitu dalam sehingga tidak tega untuk menyakiti sang istri sedikit pun.
Calon dokter itu, berjalan bolak-balik seperti seterika dengan berbagai pikiran tidak jelas yang menghantui.
Sebagai kakak aku harus membantu adikku keluar dari hidup penuh pura-pura seperti ini. Lebih baik Shaila meninggalkan Arsha dan menikah dengan laki-laki yang mencintainya dengan tulus. Dan orang itu bukan Arsha.
Shania sibuk dengan pikiran dan praduganya sendiri yang belum tentu kebenarannya. Namun, sepertinya dia lebih suka berpikir sesuai imajinasi sendiri dari pada melakukan tabayun pada sang adik.
Lelah dengan pikirannya sendiri, Shania akhirnya terlelap saat jam menunjukkan pukul dua pagi. Mantan perawan itu terbangun ketika ayam berkokok sebelum subuh. Kepalanya berdenyut sakit karena kurang tidur.
__ADS_1
Istri Keenan Elard Guinandara itu memilih kembali merebahkan badannya dan kembali tidur. Tanpa dia tahu jika sang suami tidak bisa tidur sama sekali sampai lingkaran matanya menghitam mirip mata panda.
Pagi-pagi sekali, dokter muda itu sudah siap untuk mendatangi sang istri di rumah adiknya. Dengan ditemani oleh kedua mertuanya, Keenan melajukan mobil menuju kediaman sang adik ipar.
*
*
*
Taqobballahu Mina waminkum
Taqobal yaa karim
Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1444 H bagi yang merayakan.
Mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf, baik yang disengaja maupun tidak. Semoga di hari yang fitri ini, dosa-dosa kita diampuni Allah sehingga kita kembali dalam fitrah.
Maaf baru bisa up, othornya masih terkapar๐๐๐
__ADS_1