Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 39


__ADS_3

Shaila yang kesal dengan ucapan tiba-tiba sang suami yang absurd, sengaja meremas si amin yang ternyata langsung terbangun begitu tersentuh tangannya. Tindakan Shaila membuat Shania seperti mendapat syok terapi. Maksud hati ingin membuat adiknya cemburu malah dia yang mendapat kejutan.


"Nakal ih! Pokoknya kamu harus tanggung jawab!" Arshaka berteriak sambil mengejar istri kecilnya meninggalkan tamu yang begitu saja.


Shania menghentakkan kakinya karena kesal melihat keakraban sang mantan dengan adiknya. Dia pikir hubungan mereka tidak sedekat itu, sehingga merasa ada celah untuk memisahkan keduanya. Jika seperti ini akan sangat susah baginya mendapatkan Arshaka.


Begitu saja sudah menyerah. Cemen! Sisi buruk Shania berujar.


Jangan kau ganggu rumah tangga adikmu! Kamu sudah memiliki dokter Keenan yang lebih dari seorang Arshaka. Si baik memperingatkan Shania.


Arshaka itu cinta pertama kamu. Dia sudah mengenal kamu luar dalam. Dia juga bukan laki-laki yang neko-neko. Ambil dia dari adikmu. Jangan mau kalah dari Shaila! Shania itu harus selalu menang dalam segala hal. Si jahat selalu mencekoki pikiran gadis itu.


Shaila itu saudara kamu satu-satunya, kalau terjadi sesuatu sama kamu dan orang tua sudah tidak ada. Dialah nanti yang akan menolong kamu. Lagian apa sih kurangnya Keenan ? Ganteng iya, pinter, kaya lagi. Sama-sama dosen mending pilih Keenan yang lebih dewasa dan mapan. Sisi hatinya yang baik selalu menunjukkan kebaikan.


"Berhenti!" teriak Shania memegangi kepalanya yang sakit akibat perdebatan sisi baik dan buruknya.


Shaila yang mendengar jeritan sang kakak langsung berlari keluar setelah bisa membebaskan diri dari belitan sang suami yang mulai horny. Betapa terkejutnya istri Arshaka saat melihat kondisi sang kakak yang tampak kusut dengan mata sembab.


"Kak Nia kenapa?" tanya Shaila sembari mendekati sang kakak yang berjongkok di dekat kursi.

__ADS_1


Napas Shania masih tampak memburu seperti orang sehabis lari maraton. Keringat bercucuran di keningnya. Sudah terlalu sering si baik dan buruknya mengganggu pikirannya.


Sejak perlakuan sang ibu yang membedakan perlakuannya pada kedua anak itu. Dalam hati kecil Shania sering terjadi pergulatan antara sisi baik dan sisi buruknya. Hal itu terus terulang sampai sekarang.


"Kak!" Shaila mendekati sang kakak, menumpukan kedua lututnya di lantai seraya merapikan rambut sang kakak yang tampak berantakan.


"Kakak tidak apa-apa. Kakak harus segera ke Jakarta. Lain kali ke sini lagi!" ucap Shania sambil bangkit lalu berlari ke arah mobilnya.


Mobil berwarna merah itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan kediaman Arshaka Mandala. Shania mengemudikan mobilnya seperti orang yang dikejar syetan.


Shaila segera masuk dan mengunci pintu tak berapa lama setelah deru mesin mobil sang kakak tidak terdengar lagi. Istri Shaka itu menghela napasnya pelan. Dalam hati penuh tanda tanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Entahlah. Tadi ditanya gak jawab malah kabur dianya. Bawa mobil aja kek orang yang dikejar syetan," jawab Shaila apa adanya.


Azka yang heran dengan percakapan orang tuanya pun angkat bicara. Diletakkannya stick ps yang dipegangnya sejak tadi.


"Ada apa, Bun? Siapa yang dikejar syetan?" tanya bocah umur tiga tahun itu bertubi-tubi karena penasaran.


Shaila tersenyum mendengar pertanyaan anak sambungnya yang seperti orang memuntahkan peluru untuk musuh bebuyutan.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Tadi itu ada orang ketakutan, pas Bubun tanya katanya tidak ada apa-apa. Jadi, Bubun tinggalkan saja." Shaila menjawab pertanyaan sang anak dengan kata-kata yang bisa diterima oleh bocah kecil itu.


Arshaka yang mendengarkan istrinya menjelaskan pada sang anak, semakin merasa jatuh cinta pada anak didiknya itu. Sungguh wanita yang dinikahinya beberapa bulan yang lalu itu sangat bijak dan dewasa di umurnya yang masih sangat muda.


"Azka pengen punya adik nggak?" tanya Arshaka tiba-tiba pada sang anak.


Bocah kecil itu langsung mengangguk dengan antusias. Ada rasa tertarik dan binar bahagia di wajah Azka. Saking bahagianya, anak itu langsung mendekati sang ayah.


"Azka mau adik wowok, biar ada teman main bola. Boleh, Yah?" Azka naik ke pangkuan sang ayah sambil mengajukan permintaan.


"Kalau mau adik cowok, mulai malam ini Azka bobok sendiri. Kalau minta ditemani, Mbak Rina yang temani Azka. Bagaimana?"


"Iya, Azka mau!" jawab bocah itu tanpa berpikir dua kali.


"Horee! Azka mau punya adik wowok!" teriak si bocil sembari berlari-lari mengelilingi orang tuanya.


Berbeda dengan ayah dan anak itu, Shaila memasang wajah cemberut karena dia belum ingin memiliki anak dalam waktu dekat ini. Namun, mengingat ganasnya sang suami tempo hari kemungkinan memiliki anak dalam waktu dekat ini pasti terjadi.


"Saya belum siap melahirkan, Pak." Lirih, sangat lirih Shaila berucap.

__ADS_1


__ADS_2