
"Mau kemana? Pertanyaan Anda aneh sekali, Pak! Tentu saja saya mau kuliah," jawab Shaila kemudian meminum susunya sampai tandas.
"Tidak biasanya kamu bawa ransel. Biasanya juga bawa tas yang agak gede kalau bawa laptop." Arshaka merasa heran karena sejak mereka tinggal bersama, baru kali ini sang istri pergi kuliah membawa ransel.
"Bawa buku buat ngerjain tugas di rumah sakit sekalian jenguk Adiba. Orang tuanya belum bisa datang ke sini karena perusahaan keluarga sedang dalam masalah," jelas Shaila sekenanya.
Shaila pergi setelah pamit pada sang suami diikuti oleh Azka. Azka minta diantar oleh sang ibu sambung tadi malam. Anak itu seolah tak bisa pisah dari ibu sambungnya yang cantik lagi baik hati.
Setelah mengantar anak sambungnya sekolah, Shaila segera menuju kampus. Ada kuliah pagi hari ini, sehingga dia berangkat cepat karena tidak ingin mendapatkan hukuman dari sang dosen.
Rosa sudah menunggu Shaila di area parkir sejak tadi. Tadi sebelum berangkat ke kampus gadis itu menghubungi Shaila, mengajak untuk mengerjakan tugas bersama-sama di rumah sakit sembari menemani Adiba.
"Lama bener! Pasti lo harus melewati gerbang sakti terlebih, 'kan?" tebak Rosa.
Shaila malas menyahuti karena moodnya masih belum membaik. Istri kedua Arshaka itu pun seperti anak laki-laki habis disunat, padahal tadi malam pahanya sudah diikat menggunakan korset agar bisa berjalan normal seperti biasa. Melihat jalan sang sahabat yang tidak seperti biasanya, jiwa penasaran Rosa meronta-ronta meminta untuk dipuaskan.
"Lo habis ML berapa ronde kok jalan lo sampai kek gitu?" tanya Rosa tanpa ada rasa canggung atau apapun namanya.
Shaila tetap tidak menanggapi ocehan sahabatnya itu. Dia terus berjalan ke kelas tetap mengunci mulut. Rosa akhirnya memilih diam dari pada nanti kena semprot, sepertinya sang sahabat memang belum bisa diajak berbicara apalagi bercanda.
Shaila sebenarnya tidak marah pada Rosa, hanya saja dia tidak mau ada yang mendengar obrolan mereka, lalu menyebar ke seluruh penghuni kampus. Jadi, diam lebih baik. Nanti saat di rumah sakit baru dia akan bercerita semua pada kedua sahabatnya.
Waktu terasa sangat lambat bagi Shaila dan Rosa. Dosen mata kuliah kali ini dosennya lembek dan membuat mata mereka mudah mengantuk. Dua bersahabat itu mengobrol dengan menggunakan tulisan jadi tidak ketahuan dosen pengajar.
Enam puluh menit berlalu, pertemuan kuliah kali ini telah selesai. Shaila dan Rosa berjalan tanpa bersuara menuju area parkir. Hari ini Rosa sengaja tidak membawa motor karena sudah ada janjian dengan Shaila.
__ADS_1
"Lo kenapa nggak mau cerita sih?"
"Nanti aja di rumah sakit biar gue nggak bolak-balik ngoceh. Gue lagi butuh tenaga ekstra nih!" sahut Shaila atas pertanyaan Rosa.
"Mau makan apa peluk?" tanya Rosa, menatap Shaila penuh tanya.
"Gue butuh pelukan kalian, tapi nanti aja. Begitu sampai di rumah sakit," jawab Shaila menampilkan senyumannya.
Dua puluh menit kemudian, Shaila dan Rosa sampai di rumah sakit dimana Adiba masih dirawat. Adiba sedang tidur saat kedua sahabatnya datang. Kakinya yang retak membuat gadis itu tidak leluasa bergerak.
Shaila meletakkan ranselnya di lantai dekat lemari kecil yang disediakan oleh rumah sakit. Sementara Rosa membentang karpet untuk duduk. Adiba dirawat di kelas satu sesuai dengan kartu BPJS sehingga ruangannya tidak ada perabotan lengkap seperti kelas VIP atau VVIP
Adiba terbangun karena suara langkah kaki Rosa membentang karpet. Tadi gadis itu agak kuat menghempaskan karpet ke lantai karena berat. Saat melihat sang sahabat yang terbangun, Rosa tersenyum nyengir memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ups, sorry! Terganggu ya?"
Shaila yang melihat sang sahabat memegangi kepala langsung mendekat. Membantu sang sahabat untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Setelah dirasa nyaman dan tidak tampak kesakitan, Shaila duduk di kursi tak jauh dari ranjang.
"Shai, tadi katanya lo mau cerita kalau sudah sampai di sini. Cepetan ceritanya biar cepat ngerjain tugas," desak Rosa begitu teringat dengan janji Shaila tadi.
Shaila menghela napasnya pelan, menyiapkan hati harus kembali mengingat kejadian kemarin. Berat rasanya dia menceritakan aktivitas ranjangnya bersama sang suami karena itu aib.
Mengalirlah cerita dari mulut Shaila. Wanita itu mulai menceritakan pertemuannya dengan mantan istri sang suami yang ingin bertemu dengan anak sambungnya. Shaila menyetujui dan akhirnya mereka bertemu dan menjaga Azka bermain.
"Kalian tahu nggak sepulangnya dari mall, si gagak maksa gue buat ngelayani dia. Gue sudah menolak semampu gue. Sayangnya gue kalah, makanya jalan gue jadi kek bebek begini," ujar Shaila mengakhiri ceritanya.
__ADS_1
"Busyet, ganas banget ternyata laki lo!"
"Wajar sih ganas, secara dia masih muda. Nabsunya masih menggeb-gebu. Istilah kerennya jiwa mudanya sedang bergelora," sahut Adiba mengungkapkan kebenaran.
Setelah beberapa saat membahas dosen gagak mereka, akhirnya mereka membahas tugas yang diberikan oleh salah satu dosen mereka. Mereka mengerjakan tugas dengan berdiskusi lalu mengetiknya menjadi sebuah makalah.
Saat mengerjakan tugas, diselingi dengan makan siang. Shaila dan Rosa menyuruh Adiba untuk tidur setelah makan dan minum obat, agar pusing kepalanya cepat sembuh. Awalnya Adiba menolak, tetapi setelah minum obat rasa kantuk menyerangnya.
Sore hari tugas mereka telah selesai dikerjakan, hanya tinggal mencetak dengan nama mereka bertiga. Dosen yang bersangkutan yang memberikan perintah untuk mengerjakan secara berkelompok.
"Shai, lo gak pulang? Sudah mau Maghrib loh," tanya Rosa mengingatkan.
"Gue boleh nggak sih ikut menginap di sini?"
Ya, Rosa-lah yang setiap hari menjaga Adiba karena mereka sama-sama anak kos. Kadang Rosa ditemani leh teman kos Adiba. Namun, malam ini Rosa sendirian menjaga Adiba.
"Nanti laki lo nyariin, terus tensi darahnya naik. Kita pula yang kena marahi," celetuk Rosa.
"Gue sih seneng kalau kalian mau nemenin gue di sini. Cuma gue tidak mau gara-gara lo nginep di sini. Gue ikut kena amukan dosen gagak itu." Adiba menanggapi dengan senyumannya.
Sementara itu di kediaman Mandala, Arshaka sedang memarahi sang anak yang terus merengek mencari ibu sambungnya. Bocah tiga tahun itu sudah begitu lengket dengan Shaila, seolah tak terpisahkan.
Arshaka sudah berulang kali menghubungi sang istri, tetapi nomornya tidak aktif. Laki-laki berusia dua puluh tiga tahun itu juga menanyakan orang-orang kampus akan keberadaan sang istri. Jawabannya tidak ada yang tahu.
Setelah jam tujuh malam, Shaila tak kunjung pulang. Arshaka memutuskan mencari Shaila ke kosnya yang lama. Ternyata di kos itu sang istri juga tidak ada.
__ADS_1
"Kamu di mana, Sayang? Saya minta maaf jika ada salah. Kita bisa bicara baik-baik, bukan menghilang seperti," gumam Arshaka dalam perjalanan mencari Shaila.