Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 32


__ADS_3

Shaila menangis tanpa suara, air mata terus mengalir dari kedua matanya. Gadis itu memunggungi sang suami, meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Kecewa, marah, benci, dan penyesalan menjadi satu.


Sungguh dia tidak menyangka secepat ini harus menyerahkan kehormatannya pada sang suami. Usia yang masih muda, belum ada dua puluh tahun harus kehilangan kebebasan dengan menikah. Harapannya setelah menikah sang suami tidak meminta hak sampai dia cukup siap menyerahkan dengan sendirinya.


Harapan tinggal harapan karena sang suami merenggut paksa kehormatannya. Ingin rasanya Shaila membenci diri sendiri yang malah ikut menikmati, sehingga bisa meraih puncak nirwana bersama. Shaila merutuki kebodohannya dalam hati yang dengan mudah tersulut g4ir4hnya sampai berulang kali mendapatkan pelepasan.


Arshaka beranjak terlebih dahulu untuk mandi karena sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Laki-laki itu membutuhkan waktu singkat untuk membersihkan dirinya. Ayah satu anak itu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk melilit pinggangnya dan tangan mengusak rambut menggunakan handuk kecil.


Harum bau maskulin shampo dan sabun menguar memenuhi ruangan lima kali empat itu. Sambil terus mengusak rambutnya menggunakan handuk kecil, Arshaka mendekati sang istri. Duduk di tepi ranjang tepat di kaki sang istri karena dia tahu istri kecilnya itu pasti sedang marah padanya.


"Shai, mandi dulu gih. Sebentar lagi adzan loh," ucap Arshaka lembut seraya menyentuh kaki sang istri yang tertutup selimut tebal.


Shaila tidak menjawab ucapan sang suami. Gadis yang sudah tak lai per4w4n itu menggerakkan badannya perlahan, berusaha duduk sambil menahan rasa pedih dan mengganjal pada inti tubuhnya. Masih dengan selimut membelit badan, dia mencoba berdiri perlahan sampai akhirnya bisa tegak berdiri.


Melihat pergerakan sang istri yang kesakitan, Arshaka langsung membopong istri kecilnya itu ke kamar mandi tanpa bertanya terlebih dahulu. Shaila meronta meminta turun dari gendongan sang suami, tetapi tidak dihiraukan. Suami Shaila itu menurunkan sang istri di atas wastafel dan membuka belitan selimut di tubuh sang istri.


"Tidak usah malu saya sudah melihat dan merasakannya," ujar Shaka dengan senyum manisnya saat melihat sang istri menutupi daerah sensitifnya menggunakan kedua tangan.

__ADS_1


Shaila mendengkus kesal lalu melengos karena wajahnya merona mengingat pergulatan panas mereka tadi. Saat dia ingin berjalan menuju bathup yang sudah terisi penuh, tiba-tiba sang suami kembali menggendongnya dan memasukkan ke dalam bathup dengan perlahan.


Tadi sesaat setelah selesai mandi, Arshaka sengaja mengisi bathup dengan air hangat. Tak lupa menuangkan beberapa tetes aroma therapy kesukaan sang istri. Setelah itu barulah dia keluar dari kamar mandi.


"Saya tunggu di luar ya. Nanti kalau sudah selesai panggil saya," pamit Arshaka sembari melangkah keluar kamar mandi.


Shaila tidak menjawab, matanya terpejam menikmati harum aroma therapy yang tercampur dalam air bathup. Inti tubuh istri Shaka itu awalnya terasa perih saat baru saja terkena air, kini sudah biasa dan terasa nyaman karena air hangat.


Sementara itu, Shania yang baru saja kembali ke Jakarta, menyusun rencana untuk mendekati sang mantan yang kini menjadi adik iparnya. Sering mendengar curhatan sang adik yang mengatakan Arshaka masih mencintai mantannya bernama Sasha, membuat gadis itu bersemangat untuk kembali merajut kasih dengan mantannya itu. Tidak peduli saat ini berstatus pacar orang.


Cerita jika dia ditinggal cowoknya menikah hanya kebohongan semata untuk menarik perhatian Arshaka. Ternyata laki-laki itu dengan mudah dibohongi. Shania memanfaatkan itu untuk merebut Arshaka dari adiknya.


Shania tergeragap karena terkejut. Gadis itu baru saja melamunkan mantan yang menjadi adik iparnya. Dia mengulas senyum untuk menutupi kecanggungannya.


"Oh, sorry!"


"Are you ok? Something wrong?" tanya sang laki-laki.

__ADS_1


"Yes, i'm ok. Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Shania dengan senyum palsu.


"Kamu ada masalah apa? Kenapa melamun terus sejak tadi?" Laki-laki bernama Keenan itu bertanya dengan lembut pada sang kekasih.


Shania menjawab dengan gelengan kepala. Dia tidak mungkin berkata jujur pada sang kekasih. Apalagi selama ini, sang kekasih telah membantunya banyak sehingga kuliahnya berjalan lancar.


Shania sengaja menerima Keenan sebagai pacar demi mendapatkan nilai yang bagus. Selain itu, berpacaran dengan laki-laki dewasa merupakan impiannya sejak dulu. Pada awalnya gadis itu merasa terpaksa menjalani hubungan dengan dosen sekaligus pemilik rumah sakit terkenal di Jakarta.


Setelah beberapa waktu menjalani, kini Shania sudah terbiasa dengan kehadiran Keenan dalam hidupnya. Walau sering tidak bertemu karena Keenan sangat sibuk, pacarnya itu selalu meluangkan waktu weekend untuk bersama menikmati hari libur.


"Setelah kamu diangkat menjadi dokter nanti, aku ingin kita segera menikah. Umurku sudah tidak muda lagi. Keluargaku terus mendesakku untuk segera menikah," ucap laki-laki berusia tiga puluh tahun itu seraya memegang kedua tangan Shania.


Shania tercengang mendengar perkataan sang pacar. Keinginan hatinya untuk bebas dari hubungan pura-pura ini malah membuatnya semakin terikat lebih jauh. Dia tidak pernah berpikir membawa hubungannya dengan Keenan ke jenjang pernikahan.


"Aku masih muda, Kee. Aku masih ingin menempuh pendidikan spesialisasi. Bukankah kamu sudah tahu itu?" tolak Shania secara halus.


"Kamu masih bisa kuliah setelah kita menikah nanti. Banyak kok mahasiswaku yang sudah menikah, bahkan mereka sedang hamil besar pun masih semangat mengikuti kuliah. Jadi, tidak ada alasan lagi," sahut Keenan mematahkan keinginan Shania.

__ADS_1


"Iya, tapi ...."


__ADS_2