
"Sayang, bisa tidak kamu jangan panggil saya bapak? Saya ini bukan bapak kamu loh," ucap Shaka serta membelai wajah sang istri dengan punggung tangannya.
Saat ini mereka sedang melakukan pillow talk setelah memadu kasih untuk memberikan Azka adik. Arshaka bersikeras untuk segera memberikan adik pada anak laki-lakinya itu. Awalnya Shaila menolak, tetapi dengan sabar sang suami memberinya pengertian dan wanita itu mengiyakan.
"Terus saya panggil apa dong? Masak nggak mau dipanggil bapak, sedangkan di kampus aja semua orang memanggil Anda bapak," protes Shaila.
"Panggil mas saja, gimana?" tawar Arshaka.
Shaila cekikikan mendengar Arshaka menyebut dirinya mas. Menurut wanita itu, bahasa keseharian mereka saja sangat formal, jadi lebih tepat dipanggil bapak dari pada mas.
"Kok malah tertawa. Apa saya salah?"
Shaila menggelengkan kepalanya dengan kuat sampai rambutnya menempel di wajah dan selimut yang menutupi tubuh polosnya tersingkap. Tawa istri Arshaka Mandala itu langsung berhenti saat sang suami menatap dadanya dengan tatapan lapar, siap memangsa. Buru-buru tangannya menaikkan selimut itu sampai menutupi kepala.
Melihat sang istri yang masih malu-malu itu, Arshaka pun menggodanya. Dia ikut menaikkan selimut bagiannya sehingga mereka sama-sama berada di bawah selimut. Laki-laki itu pun kembali menyerang sang istri dan menunda percakapan.
Niat hati ingin berbicara dari hati ke hati dengan sang istri, ternyata mereka berbicara dengan skin to skin. Bukan lagi berbicara menggunakan mulut seperti orang pada umumnya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara lenguhan dan d3s4h4n dari balik selimut tebal itu. Selimut itu sudah bergerak tak beraturan karena aktivitas yang dilakukan oleh pasangan muda itu.
Kita tinggalkan mereka yang sedang membuat adonan untuk membuat adik Azkara Putra Mandala, menuju kediaman Nathan Kusuma Wijaya dan Dewi Puspa Rini.
Malam itu rumah peninggalan Aryanti Wihardja kedatangan tamu jauh. Mereka sebelumnya tidak pernah saling mengenal satu sama lain. Wajah Keenan Elard Guinandra tampak tidak asing bagi Nathan, hanya saja mereka belum pernah berinteraksi secara langsung.
"Dokter Elard?" tanya Nathan saat menemui tamu yang menunggunya.
__ADS_1
Keenan terkejut melihat tuan rumah, seingatnya dia telah memasukkan alamat yang benar di google maps. Namun, tuan rumah yang keluar adalah pemilik sebuah rumah sakit besar di Jogjakarta. Laki-laki itu pun bingung harus berkata apa pada sang tuan rumah.
"Dokter Nathan, 'kan?"
Nathan terkekeh mendengar pertanyaan dari tamunya itu. Mereka selama ini belum pernah bertatap muka secara langsung. Keduanya hanya mengenal profil saat ada kegiatan yang ditujukan untuk para dokter.
"Sepertinya kita harus berkenalan secara pribadi," jawab Nathan dengan tawa renyah.
Keenan ikut tertawa untuk menutupi rasa malunya yang tiba-tiba berkunjung ke kediaman dokter senior yang sudah memiliki banyak pengalaman di dunia kedokteran.
"Iya, Dok. Sepertinya kita harus saling mendekatkan diri agar saling kenal," ucap Keenan membetulkan ucapan Nathan.
Setelah berbasa-basi sebentar, Nathan pun berinisiatif bertanya pada tamunya apa tujuannya datang ke rumahnya malam-malam seperti ini. Dengan menahan rasa malu karena merasa salah alamat, dokter muda itu menanyakan alamat Shania yang dia simpan.
"Shania Azzahra binti siapa? Anda tahu tidak siapa nama orang tua perempuan yang Anda cari itu?" tanya Nathan bertubi-tubi pura-pura tidak mengenal.
Keenan pun langsung membuka gawainya untuk mengecek siapa orang tua kekasih sekaligus anak didiknya itu. Sungguh sangat memalukan, orang tua sang kekasih saja tidak tahu. Pantas saja, Shania tidak mau diajaknya menikah dalam waktu dekat.
Walaupun mereka telah lama berpacaran, keduanya belum mengenalkan pada keluarga masing-masing. Seperti tidak memiliki hubungan spesial saja. Kalau seperti ini, hubungan mereka tak ubahnya seperti dosen dan mahasiswa lainnya, hanya sebatas kenal.
Keenan menepuk jidatnya pelan lalu mengubah posisi duduknya setelah selesai membaca informasi yang diterima. Tiba-tiba laki-laki itu tertawa sendiri seperti yang dilakukan oleh tuan rumah. Dirinya seperti orang bodoh.
Ternyata yang ditemuinya saat ini adalah calon mertuanya. Pantas saja dokter senior di hadapannya ini terkekeh setiap kali dia bertanya tentang alamat sang kekasih.
"Maaf, Dok. Saya benar-benar tidak tahu jika Shani putri Anda. Dia selama ini tidak pernah mengatakan siapa orang tuanya," ucap Keenan setelah selesai menertawakan kebodohannya sendiri.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Dok. Saya bisa memaklumi itu. Kita belum pernah bertatap muka secara langsung seperti ini. Kalau belum mengenal itu wajar. Sangat wajar," sahut Nathan dengan senyum ramahnya.
"Kalau boleh tahu, hubungan dokter Elard dengan anak saya?"
Keenan mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Saya dosen juga kekasih Shania. Kami menjalin hubungan sudah setahun lebih," jawab Keenan.
Nathan mengangguk mendengar pengakuan dari laki-laki di hadapannya itu. Dia tidak lagi kaget mendengar itu karena sudah membayar orang untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh anak sulungnya itu di ibu kota. Keenan dirasa cukup gentleman karena mau mengakui hubungannya dengan sang anak didik.
"Lalu, tujuan utamanya ke sini?"
"Pertama saya ingin silaturahmi, mengenal lebih dekat keluarga kekasih saya. Yang kedua saya ingin melamar Shania untuk menjadi istri saya. Maaf jika saya datang sendirian," jawab Keenan mantap dengan tingkat percaya diri yang tinggi.
"Maaf jika dadakan karena saya takut Shania tidak mau kembali ke Jakarta lagi. Makanya saya menyusul ke sini," lanjut Keenan karena tidak mendapat jawaban dari sang calon mertua.
"Untuk menjawab itu bukan wewenang saya, kita dengarkan secara langsung dari yang bersangkutan. Berhubung Shania tidak ada di rumah, sebaiknya kita tunggu saja."
*
*
*
__ADS_1