Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 30


__ADS_3

Dewi langsung mengangguk saat sang suami belum selesai berbicara. Wajahnya sudah kembali berbinar mendengar solusi dari sang suami tercinta. Inilah kesempatan untuk dia menebus semua kesalahan yang pernah dilakukan selama ini.


"Tapi, kata Shania kemarin kalau Arshaka masih mencintai dia. Dia menikah dengan Shaila karena terpaksa. Bagaimana ini?" tanya Dewi penuh kebimbangan.


"Kalau dia terpaksa menikahi putri bungsu kita, tatapan matanya tidak sedalam itu. Aku yakin, jika menantu kita itu sangat mencintai Shaila. Aku tahu karena aku juga seorang laki-laki, jadi tahu arti tatapan matanya itu. Jika ingin membuat bungsu kita bahagia jangan ragu-ragu untuk melakukannya!" sahut Nathan bijak.


Sementara itu, Grace sudah menunggu Shaila dan Azka di mall. Tepatnya di pusat permainan anak-anak. Wanita resah gelisah menunggu kedatangan Shaila dan sang anak yang tidak kunjung kelihatan batang hidungnya.


Grace khawatir jika Shaila membohongi dirinya, padahal dia sudah sangat mempercayai gadis lugu itu. Sebenarnya dia kasihan karena dia sudah mengenal bagaimana sifat Arshaka yang mudah tersulut emosi, jika sesuatu di luar ekspektasinya.


Tak lama kemudian tampak oleh Grace bocah laki-laki tengah kebingungan mencari orang tuanya. Anak itu terpisah dari sang orang tua dan saat ini tengah mencari mereka. Tiba-tiba saja, bocah itu tidak sengaja menabrak Grace sehingga es krim di tangannya terlepas dan jatuh.


"Kamu tidak apa-apa, Dek?'' tanya Grace pada anak kecil tersebut.


"Azka tidak apa-apa , Onty. Tapi, ice cream Azka jatuh, padahal baru saja dibeli," jawab bocah usia tiga tahun itu tampak menggemaskan di mata Graceila Johnson.


"Mau Onty belikan lagi yang baru?" tanya Grace.


"Eh, Onty ini 'kan yang tempo hari datang ke wisuda ayah," ucap Azka dengan polosnya.


Mata Grace berkaca-kaca, terharu ternyata anak kecil itu sudah bisa mengingat dirinya yang hanya sebentar hadir dalam hidup bocah itu. Wanita itu memeluk erat tubuh sang anak yang pernah ditinggalkan saat berumur satu Minggu.


"Iya, Sayang. Ini Onty yang kemarin," jawab Grace dengan berkaca-kaca.


Shaila yang melihat dari kejauhan, sudut hatinya berdenyut nyeri. Sudah lama dia tidak merasakan pelukan sayang dari wanita yang telah membuatnya ada di dunia ini. Sudut matanya sudah berembun, siap menetes jika mata itu dikedipkan.


Setelah menunggu beberapa saat, agar bisa menghilangkan air mata yang menggenang, Shaila mendekati ibu dan anak itu. Wajahnya dibuat seceria mungkin agar tidak ketahuan jika dia ikut bersedih atas perpisahan ibu dan anak itu.

__ADS_1


"Aku pergi bukan karena tega pada darah dagingku sendiri, melainkan karena aku sudah menyerah meraih cinta suamiku. Wanita manapun tidak akan sanggup tinggal seatap dengan orang yang tidak pernah mencintai kita. Aku menyerah, tapi aku menyesal telah meninggalkan darah dagingku sendiri."


Kata-kata Grace tempo hari masih terngiang di telinga dan berputar di dalam pikirannya. Apalagi mengingat saat menatap mata wanita itu yang tampak hancur karena sampai saat ini masih mencintai mantan suami yang tidak pernah meliriknya. Shaila pun berpikir apakah nasibnya akan sama dengan Grace, mantan istri sang suami.


"Hai, Jagoan Bubun! Sama siapa nih?" sapa Shaila mendekati sang anak sambung dengan senyum mengembang seolah semua baik-baik saja.


"Bun, ada Onty yang tempo hari datang di wisuda ayah," adu bocah berumur tiga tahun itu.


"Oh ya? Sudah kenalan?"


"Sudah, Bun. Malah Onty mau beliin ice cream lagi, buat gantiin yang jatuh tadi." Bocah kecil itu sangat antusias menceritakan apa yang terjadi tadi pada sang ibu sambung.


"Bilang apa, Sayang?"


"Terima kasih, Onty. Semoga kebaikan Onty dibalas Allah berlipat ganda. Aamiin," ucap Azka.


Akhirnya mereka bertiga memutuskan pergi ke gerai ice cream yang tidak jauh dari tempat itu. Setelah itu, mereka menuju pusat permainan anak sesuai kesepakatan mereka kemarin.


Kedua wanita yang pernah dinikahi oleh Arshaka itu tampak akrab, bak kakak beradik. Mereka berbincang membicarakan tentang sikap Arshaka yang tidak bisa ditebak. Laki-laki itu kadang baik dan penuh perhatian, tetapi tak jarang pula dia menunjukkan sikap datar dan dingin seperti es kutub.


Di sela obrolan itu, Azka sesekali memanggil mereka saat bermain. Bocah kecil itu terlalu aktif untuk anak seumuran dia. Anehnya walaupun aktif, bocah itu tidak pernah mengeluh capek setelah seharian bermain-main.


Mereka bertiga tampak saling bercanda, pindah dari stand permainan satu ke stand yang lainnya. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengawasi gerak gerik mereka. Awalnya hanya berniat memastikan apa yang mereka lakukan, lama-lama jadi penasaran dan selalu mengikuti aktivitas mereka hari ini.


Azka sangat senang karena hari ini bisa bermain sepuasnya. Selama geraknya selalu dibatasi oleh sang ayah. Belum puas bermain sang ayah pasti meminta dia menyudahi bermainnya, dengan alasan sudah waktunya istirahat.


Cara didik Arshaka yang terlalu keras pada Azka kadang membuat Shaila mengusap dada. Anak seusia Azka seharusnya masih puas bermain bukan harus selalu belajar. Bermain sambil belajar pasti akan lebih menyenangkan dan mudah diserap, hanya saja itu menyita waktu bagi mereka yang berkarir..

__ADS_1


Oleh karena itu, setiap kali Shaila tidak ada jam kuliah selalu mengajak Azka bermain sambil belajar. Walaupun begitu, Shaila selalu disiplin waktu agar bocah usia tiga tahun itu terbiasa disiplin sejak dini.


Setelah beberapa jam bermain bersama, Azka pun sudah tampak lelah. Akhirnya, Shaila pamit pada Grace. Dengan alasan bocah kecil itu harus istirahat, agar wanita yang telah melahirkan Azka mengerti. Grace pun terpaksa mengiyakan.


"Azka mau nggak panggil Onty dengan sebutan Mommy? Onty sudah anggap Azka sebagai anak Onty sendiri," tanya Grace dengan suara tercekat menahan tangisnya, tetapi senyuman terukir di wajah cantiknya.


"Bun, boleh?' tanya bocah kecil pada ibu sambungnya dan mendapat anggukan sebagai jawaban.


"Baik, Onty. See u!" jawab bocah itu pada wanita bule yang dia tahu sebagai teman sang ayah.


"No! Call me Mommy, Dear!"


"Ok, see u. Mommy," seru Azka seraya berjalan menggandeng tangan Shaila meninggalkan Grace sendirian.


Tak berapa lama berjalan. Shaila pun kasihan melihat anak sambungnya yang mulai lemas karena lelah dan mengantuk. Gadis itu langsung menggendong Azka tanpa banyak bertanya. Selama perjalanan pulang, bocah kecil yang menggemaskan itu tertidur.


Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, mereka sampai di kediaman Damian Mandala, orang tua Arshaka. Azka sepertinya tertidur pulas sehingga Shaila menggendong bocah itu menuju kamarnya.


"Dari mana kamu? Suami pulang kerja tidak di rumah?"


*


*


*


__ADS_1


__ADS_2