Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 23


__ADS_3

Rangga tercengang melihat dompet tebal berisi uang kertas berwarna merah memenuhi dompet Shaila. Pemuda itu lebih terkejut lagi saat gadis di depannya menunjukkan saldo rekening yang berisi sembilan digit angka berjejer.


Shaila selama ini selalu mengumpulkan uangnya jika mendapatkan uang jajan dari sang ayah atau paman serta bibinya. Tak jarang pula nenek dan kakek dari ayahnya memberi uang jajan yang tidak sedikit jumlahnya. Uang itu dia kumpulkan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang.


Walaupun uang jajan dari orang tuanya distop, dia masih mendapat dari sang paman dan bibi, bahkan sang ayah juga masih sering memberi tanpa sepengetahuan sang ibu. Belum lagi uang yang ditransfer oleh sang suami selama ini. Semua itu membuat rekeningnya semakin gendut.


"Lo makan sepuasnya, kalau perlu aku bayar sekalian kafe ini," ucap Shaila kemudian setelah tidak ada sahutan dari kakak tingkatnya itu.


Rangga yang tenar hanya modal wajah dan kepiawaiannya dalam memainkan bola basket tentu saja terkejut mengetahui siapa sebenarnya gadis di depannya itu.


"Oh, iya lupa. Gue ada janji sama suami mau fitting baju. Ini uangnya buat bayar pesanan kita. Sudah lunas, 'kan?" ucap Shaila seraya meletakkan lima lembar uang merah di dekat piring Rangga.


Sebenarnya Shaila tidak bermaksud sombong hanya saja dia tidak suka jika ada yang merendahkannya. Saat ini moodnya sedang tidak baik, jadi mudah tersulut.


Ternyata Shaka sudah menunggu di depan kafe itu. Dia tadi mengikuti motor yang membonceng sang istri. Laki-laki itu merasa cemburu sehingga mengikuti istri kecilnya itu.


Arshaka terkejut sekaligus bangga pada sang istri saat melihat bagaimana istri kecilnya itu marah karena dianggap tidak sanggup membayar pesanan mereka berdua. Diam-diam dia keluar dari kafe itu, menunggu sang istri keluar. Sesuai dugaannya, gadis itu keluar dengan tenang tanpa menoleh kanan kiri.


"Ternyata saya tidak salah pilih istri. Dia memang wanita yang selama ini saya cari," gumam Shaka dengan senyum mengembang.


Arshaka turun dari mobil lalu mendekati sang istri yang mencari taksi.


"Shaila!" panggil Shaka sembari berjalan cepat mendekati sang istri.


Gadis itu memutar badannya untuk melihat siapa yang telah memanggil. Dari suara dia mengenal jika itu suara sang suami, tetapi dia ingin memastikan dulu.


"Hai," sahut Shaila salah tingkah, seperti orang yang ketangkap basah mencuri.


"Ayo pulang bareng!" ajak Shaka seraya menggenggam tangan sang istri kemudian menuntunnya ke mobil.

__ADS_1


"Habis makan?" tanya Arshaka begitu mereka duduk di mobil dan memakai seatbelt.


Shaila mengangguk tanpa suara, pandangan matanya tertuju pada jalanan di sampingnya melalui kaca jendela. Setelah itu tak ada percakapan di antara keduanya karena Shaka tidak ingin memperburuk mood sang istri.


Di hari berikutnya, Shaila datang ke kampus lebih dulu dibanding dengan kedua sahabatnya. Dia sengaja ingin mengulang kembali materi yang didapat dengan membaca lagi buku catatannya.


"Shai, sudah lama?" tanya Rosa yang baru saja datang bersama Adiba.


"Hmm," jawab Shaila dengan pandangan mata tertuju pada buku.


"Shai, kata Kak Rangga lo sudah punya suami. Betulkah?" tanya Adiba mengkonfirmasi.


Shaila tidak menjawab, dia masih menekuri buku di tangannya. Sebelah tangannya diangkat sebagai tanda dia tidak ingin diganggu. Mereka berdua yang sudah lama mengenal Shaila pun mengerti tanda itu.


"Lo hutang penjelasan sama kita berdua! Setelah ujian lo harus cerita semua ke kami!" bisik Rosa di telinga Shaila.


Enam puluh menit kemudian ujian selesai. Hari ini merupakan hari terakhir ujian dan hanya ada satu mata kuliah yang diujikan. Jadi, ketiganya langsung menuju kafe 'Rasha'.


Sesampainya di kafe, Shaila menyapa sepupunya sejenak lalu memilih tempat yang privat dan tidak terganggu dengan yang lain. Adiba dan Rosa mengikuti dari belakang, hingga sampailah mereka di sebuah bilik yang terletak di sudut kamar.


Setelah memesan makanan dan minuman, Rosa kembali menodong Shaila agar segera bercerita. Adiba sendiri memiilih diam dari pada membuat keributan. Hal ini dikarenakan, mereka sudah terbiasa dengan itu, cukup satu orang yang mewakili suara hati teman-temannya.


"Sebentar, mendadak gue pengen pipis. Tunggu sebentar! Habis ini gue cerita semuanya ke kalian," ucap Shaila seraya berdiri dan langsung melesat hilang dari pandangan mata Adiba dan Rosa.


Shaila berjalan terburu-buru karena teman-temannya sudah lama menunggu. Toilet di kafe itu sedang dalam perbaikan, jadi hanya satu yang bisa digunakan sehingga para pengunjung harus antri jika hendak memakainya.


Tanpa sengaja Shaila menabrak seseorang karena jalan terburu-buru sambil membetulkan lengan kemejanya.


"Maaf, saya tidak se ... Kak Ardian?" kata Shaila spontan dan terkejut saat melihat wajah orang yang baru saja ditabraknya.

__ADS_1


"Ah hai, Shai! Ternyata dunia ini sempit ya Shai?"


Orang yang ditabrak oleh Shaila ternyata kakak tingkatnya di kampus. Walaupun tidak setampan Rangga, Ardian juga idola kampus sehingga mudah dikenali. Ardian ikut tim basket bersama Rangga, juga ikut ekstrakulikuler musik.


"Maaf Kak, tadi nggak sengaja. Shaila sedang buru-buru. sudah ditunggu sama teman-teman," ucap Shaila tidak tenang karena waktu yang ditentukan hampir habis.


"Kamu sama siapa ke sini? Kalian sengaja ya datang ke sini, mau lihat gue manggung? Hayoo jujur!"


"Memang kamu kerja di sini? Biasa Kak, sama duo temanku. Adiba dan Rosalina," tanya Shaila kaget.


Mulai mengalirlah cerita dari sang teman di hadapannya juga seraya berjalan menuju kantin. Ardian yang terpaksa mencari uang jajan karena keuangan orang tuanya yang terpuruk. Berbeda dengan Rangga yang lebih mampu dibanding dirinya.


"Waah, kalau begitu lo naik ke panggung sekarang juga! Gue pengen dengar suara lo juga tahu," ujar Adiba, tanpa malu-malu lagi setelah Ardian mengakhiri ceritanya.


Ardian terpaksa kembali ke panggung karena dia juga butuh uang saat ini untuk biaya menyusun skripsi. Setelah minum segelas air putih hangat, laki-laki yang pernah memiliki rasa untuk Shaila itu kembali ke atas panggung dan mulai menyanyikan lagu request Shaila dan teman-temannya.


Mereka sengaja mengusir Ardian agar tidak menganggu. Sepeninggal kakak tingkat, Shaila mulai bercerita tentang dia tahu pad kedua temannya tanpa ada yang ditutupi.


"Astaga, pak dosen muda itu sampai segitunya ingin memiliki lo. Btw, kalian setelah menikah sudah pernah anu belum?" ujar Adiba penasaran sehingga bertanya pada sahabatnya itu.


"Pertanyaan lo, Diba! Tapi gue juga penasaran. Bagaimana dosen galak itu memperlakukan lo, Shai?" tanya Rosa tak mau kalah.


*


*


*


__ADS_1


__ADS_2